WAHN

Posted: 11/27/2011 in Cerita Hikmah

“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan tajam seperti itu. Sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu. Terserah kau mau pergi atau tidak. Aku ingin tidur sekarang.”

Malam gelap. Pekat. Gulita. Rembulan merasa terusik, cahayanya terhalang awan mendung. Ah, mungkin hujan akan turun. Biarlah, rembulan sudah lama tidak merasakan guyuran air hujan dan menari-nari layaknya ‘nama’ dan ‘cintaku’dalam dunia mimpi mereka. Bagaimana rembulan bisa tahu? ‘Nama’ sering  bercerita banyak tentang ‘cintaku’ yang selalu berada didekapannya. Rembulan jadi penasaran, ingin mengintip ‘nama’ dan ‘cintaku’. Sayangnya mendung sedang menghalanginya.

Masih malam, tepatnya sepertiga malam. Beberapa rumah memancarkan cahaya keimanan oleh sujud hamba Allah dengan penuh syukur. Sebagian orang menangis, beban-beban dosa yang dipikulnya mulai perlahan berguguran karena taubatan nasuha. Tapi rumah mewah ‘nama’ tetap gelap. Tidak ada cahaya. ‘Nama’ tertidur pulas, kedua tangannya memeluk erat celengan ayam berwarna kuning yang diberi nama ‘cintaku’. ‘Nama’ mencintai ‘cintaku’ lebih dari apa pun. Lihat, perhatikan foto-foto yang terpasang di dinding kamar. Foto bersama teman-temannya ketika masih SMP, ‘nama’ tertawa lebar dan tangan kanannya memegang celengan ayam itu. Lihat juga fotonya saat berbalut seragam abu-abu putih, ‘nama’ mencium ‘cintaku’. Juga foto saat wisuda, ‘nama’ menyalami sang dosen, tangan kirinya juga memeluk si celengan ayam alias ‘cintaku’. Dimana ada ‘nama’ dipelukannya ada ‘cintaku’, dan semua orang sudah menggapnya bukan pemandangan asing lagi.

Pagi menjelang. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar ‘nama’ hingga kedua matanya silau. Terbuka sudah kelopak matanya, pagi yang indah bukan? Ah, ‘nama’ tidak peduli dengan nuansa pagi, hal terpenting adalah ‘cintaku’. Ngomong-ngomong dimana ‘cintaku’? Kedua tangan ‘nama’ kosong, ‘cintaku’ telah hilang. ‘Nama’ berteriak histeris. Tubuhnya langsung bangkit dan mengarahkan kepalanya di bawah ranjang. Mungkin celengan ayam itu terjatuh. Nihil. Seperti kerasukan, seluruh isi lemari diobrak-abrik. Rak-rak buku dan majalah menjadi sasaran berikutnya, kemudian kursi-kursi, meja sampai kamar mandi. Tubuhnya mulai gemetar, tangannya mengacak-ngacak rambut, pandangannya ke segala arah dan teriakan pun terdengar nyaring, “Siapa yang mangambil ‘cintaku’?”

‘Nama’ berlari keluar rumah. Tentu tidak dengan tangan kosong, pisau dapur sudah berada digenggamannya. Penuh emosi, ‘nama’ memandangi orang-orang yang ditemuinya. Tetapi ‘nama’ malah melongo shock. Semua orang yang ditemuinya membawa celengan ayam, sekali lagi semua orang. ‘Nama’ semakin gila, dia mendatangi seorang ibu yang sedang memilih sayur disebuah toko kecil. “Bu, itu celangan ayam milik saya,” teriak ‘nama’. Ibu itu langsung sewot, “Sembarangan saja, ini celengan ayam milik saya, namanya ‘cintaku’. “Iya, jangan maen tuduh dong,” sahut seorang bapak penjual sayur. “Saya juga punya celengan ayam kok, ini dia.”

‘Nama’ pun berlari meninggalkan mereka yang mulai naik darah. Tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya hingga keduanya terjatuh. ‘Nama’ melihat celengan ayam yang sama dalam dekapan anak kecil itu. ‘Nama’ merebutnya dengan paksa hingga anak kecil itu menangis keras dan terus berontak. ‘Nama’ mendorong anak kecil itu dengan kasar, kepalanya membentur sebuah batu jalanan. Darah mengalir. ‘Nama’ ketakutan. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menyerbu ‘nama’. “Pembunuh”, teriak orang-orang. ‘Nama’ terjebak, pukulan dan tendangan menyerangnya. Sakit dan perih pun dirasakannya.

Dan semuanya tiba-tiba gelap.

Kepala ‘nama’ terasa berat. Kedua matanya yang lebam sulit untuk dibuka sepenuhnya. Bajunya pun penuh dengan darah. “Aku tidak mau mati sekarang,” jerit ‘nama’. Kemudian bayangan hitam kembali muncul dihadapan ‘nama’. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu. “Oh, rupanya kamu yang mencuri ‘cintaku’. Cepat kembalikan celengan ayamku,” nama memukuli bayangan hitam itu. Percuma, bayangan tetaplah bayangan. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu lagi. “Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau cepat kembalikan celangan ayamku.”

“Aku akan mencabut nyawamu,” kata bayangan hitam itu. “Apa? Aku tidak mau mati,” teriak ‘nama’. Dan saat itu juga, celengan ayam berwarna kuning dalam ukuran raksasa terjatuh dari langit. ‘Nama’ berusaha menghindar, namun bayangan hitam itu mencegahnya. Dan, celangan ayam itu menimpa ‘nama’ dengan penuh cinta hingga ‘nama’ tidak bernafas lagi.

“Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Silahkan merenungi diri kita masing-masing. Ilustrasi di atas adalah penggambaran secuil kehidupan manusia yang terjangkit penyakit wahn. ‘Nama’ adalah salah satu penderita penyakit wahn, dan ‘cintaku’ dalam bentuk celengan ayam adalah wujud dari materi atau duniawi. Karakter ‘nama’ begitu cinta dunia, dimanapun dia berada bahkan dalam mimpinya sekalipun, materi adalah nonor satu. Begitu materi yang sebenarnya hanya titipan dari sang Khalik diambil, orang-orang yang sudah dibutakan materi mulai kehilangan kendali dan kewarasannya. Orang-orang tak bersalah menjadi sasaran, bahkan anak kecil yang tak berdosa tega dia bunuh demi kepentingan duniawi semata. Na’udbillahmindzalik. Saat malaikat pencabut nyawa mendatangi orang-orang atas perintah Allah, mereka ketakutan dan berontak, “Aku tidak ingin mati.” Apakah kita pernah tahu, kalau hari ini adalah terakhir kalinya kamu melihat indahnya sinar mentari pagi? Sedangkan kamu bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. Tapi guruku mengernyitkan dahinya saat melihatku menggambar lalu bertanya, “Kamu menggambar apa?”  Aku menjawabnya dengan lugu, “Doraemon.”

Kembali ke topik kucing berbulu coklat sedikit tebal, badannya kurus dengan ekor panjang yang beredar di sekitar kamar kost. Aku masih ingat dengan kucing itu, dia adalah tersangka utama yang pernah mencuri lele – makanan sahurku ramadhan tahun lalu. Tapi saat lebaran aku sudah memaafkan kesalahannya. :-)

Satu kebiasaannya yang bikin kesel, pagi-pagi saat mau menyalakan sepeda motorku… Huh, banyak bulu-bulu warna coklat berjatuhan di atas jok motor. Hmmm…pasti si kucing semalam tidur disini deh. Seharusnya si kucing keramas dulu pake shampo anti rontok sebelum tidur.  Dan membersihkan bulu-bulu kucing bisa menghambat waktuku sekitar 30 detik untuk mengejar absen. Telat masuk kantor 1 detik saja, maka akan dipotong 2% dari presentasi prestasi UK (Uang Kinerja) dan 1 hari dari presentasi absen akan berkurang. Selain itu akan ada efek-efek seperti tidak bergairah bekerja, otot terasa lemah dan adrenalin saat berlari-lari mengejar absen terasa sia-sia.

Aku tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Tidak seperti lagu anak-anak yang sudah mengajarkan untuk menyalahkan si Komo yang hanya numpang lewat. Apa salahnya coba? Hehe…  Tapi hari-hari berikutnya, bulu-bulu si kucing makin banyak yang rontok di atas jok motorku. Pertanyaan penting adalah, kenapa si kucing memilih tidur di atas jok motorku? Padahal di parkiran kost ada pilihan empat motor yang lebih bagus, lebih bersih, lebih mahal tentunya dan joknya lebih empuk dari motorku. Aku pernah bertanya langsung pada si kucing, dan untungnya si kucing hanya mengeong.

Aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Sebelum kucing itu tidur – biasanya si kucing tidur di atas jam 11 malam (hebat kan, aku sampai tahu jadwal tidur si kucing (-_-”) – aku menaruh dua helm di atas jok motor dan sedikit merenggangkan jaraknya hingga tidak ada space untuk tidur si kucing. Hihihihihii… :p

Subuh, aku mengintip dari balik jendela kamar. Yes,berhasil! Aku tidak melihat si kucing tidur di atas jok motorku lagi.

Saat mau berangkat ke kantor. Aaaaaarrrrrghhh… rontokan bulu-bulu kucing itu kini berjatuhan di atas tumpukan beberapa sepatuku. Itu menghabiskan waktuku 30 detik untuk mencari sikat semir sepatu yang entah dimana letaknya, 20 detik untuk membersikan sepatu dengan metode menyikat cepat dan 10 detik untuk melempar kaos kaki ke keranjang  cucian kotor – aku butuh beberapa kali untuk  bisa tepat memasukkannya karena aku tidak bisa olahraga basket.

Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Hanya saja si kucing tidur di tempat yang kurang tepat. Dan kebiasaan buruknya adalah tidak merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Huhuhuhuhu…

Sekali lagi aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Aku menaruh beberapa tumpukan kain – lebih tepatnya kaos lusuh yang sudah tidak aku pake lagi. Berharap si kucing tidur di tempat yang telah disediakan. Tapi dasar kucing, esok paginya masih ada rontokan bulu2 di sepatuku. Huft, tapi biarlah… Mungkin si kucing memang mencintai sepatu-sepatuku, tumpukannya yang berantakan pun terlihat seperti kasur empuk. Aku cukup mengambil satu sepatu yang sering kupakai ke kantor dan memasukkannya dalam kamar. Sepatu-sepatuku yang lain biarlah ditemani si kucing.

Aku membeli rak sepatu di pasar baru – menjelang waktu makan siang bersama rekan-rekan kantor.

Malamnya kurangkai rak sepatu baru berwarna abu-abu monyet dan menaruhnya di pojok depan kamar kost. Menata sepatu-sepatuku dengan cukup rapi,membersihkan barang-barang disekitar depan kamar yang tidak terpakai lagi dan sedikit menyapu lantai. Wow sekarang depan  kamarku terlihat lebih bersih dan cerah. ^_^

Tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Kulirik angka yang tertera di kayar HP, jam 2 pagi. MasyaAllah aku baru ingat, aku belum sholat isya’. Seuasai ambil air wudhu pikiranku tiba-tiba terlintas nasib si kucing, kalau ada rak sepatu si kucing tidur dimana? Aku membuka pintu kamar pelan-pelan dan ingin melihat si kucing sedang terlelap tidur di sebuah tempat yang nyaman baginya. Kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada sosok kucing terlihat.

Aku merasa bersalah. Tumpukan kain yang tadi sudah kubereskan, aku susun kembali . Cukup empuk, pikirku. Aku berharap si kucing baik-baik saja dan tidak tersinggung saat aku “mengusir dengan bahasaku sendiri” dengan membeli rak sepatu baru. Aku pun berharap besok malam si kucing datang lagi.

Sampai sekarang, tumpukan kain yang kusediakan tetap kosong. Aku tidak  pernah melihat wajah kucing itu lagi. Maafkan aku… T_T

Pernahkah kita berpikir tentang rel kereta api, kenapa semakin jauh terlihat semakin mengecil kemudian menghilang, jika kita meninggalkan perngertian yang sejati. Atau disaat kita naik kereta ketika mata memandang ke kaca jendela, sesungguhnya kereta ini yang bergerak atau pohon-pohon itu yang berlari mengejar kita. Jawabannya adalah barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan. Aku sendiri tidak tahu pasti…

Seperti kebedaraanku di Jakarta sekarang, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini membuatku ragu melangkah maju. Racun fiksi sinetron tentang gaya hidup Jakarta yang serba glamor, metroseksual, dan tokoh-tokoh jahat ala dongeng bawang merah – juga membuat ibuku khawatir. Aku bisa membaca raut wajahnya saat berpamitan di stasiun mengantarkan kepergianku. Dan kereta jurusan Tulungagung – Jakarta sudah tiba. Kucium tangan ibu dan segera meloncat ke dalam gerbong. Dari balik kaca aku terus memerhatikan mimik wajah ibu, kemudian ibu tersenyum dan kereta pun melaju.

Saat itulah kali pertama ke Jakarta. Takjub. Melihat bangunan serba tinggi dan orang-orang yang berjalan tanpa menghiraukanku. Kemudian mataku melirik tugu Monas yang merasa dirinya paling populer, “Hei kamu hanya sebuah tugu, jangan sombong. Aku datang ke Jakarta untuk mengejar impianku. Dan aku akan bisa lebih kuat darimu, aku bisa berdiri tegar menghadapi kemelut kota Jakarta.”

Aku merasa sepi dan sangat kesepian. Dunia maya pelarianku, tiap malam autis di depan komputer. Itulah caraku membunuh kesepianku, karena aku tidak ingin dibunuh dengan kesepian. Dan sebuah jejaring sosial mengenalkanku dengan sosok “aku memanggilnya nama”. Dia mengenalkanku tentang pengajian remaja, Youth Islamic Studi Club (YISC).

Aku langsung berkata, “iya”. Mungkin inilah jalan untuk mengisi kekosongan hati. Niatku bergabung waktu itu hanya satu, mencari “teman”. Definisi “teman” sangat luas, bisa teman yang bener-bener teman mengarah ke persahabatan, persaudaraan atau teman yang sejati untuk perjuangan suci.

(Backsound: Lagu “Teman Sejati” by SNADA”)

“Oki kamu nanti ikut acara wisuda YISC Al-Azhar kan?” tanya teman pengajianku di YISC Al-Azhar. Aku terdiam sesaaat. Bimbang. “Hmmm…gimana ya?”

“Ikut saja lah, gpp kalau orang tua ga bisa datang, bisa ajak saudara, kakak, atau calon mertua juga boleh,” bujuk temanku.

“Hehehe,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Aku benar-benar sendiri di kota Jakarta ini, artinya tidak ada sanak-saudara di sini. Dan aku tidak tahu harus mengajak siapa, bagiku keluarga keduaku adalah teman-teman di YISC Al-Azhar. Aku memandangi undangan wisuda, “tidak terasa sudah setahun berjalan.” Rasanya aku ingin berlari dan menyerahkan undangan ini langsung kepada ibuku. Aku ingin membuatnya bangga padaku, ingin menunjukkan bahwa aku disini mempunyai saudara-saudara baru yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku disini tidak sendiri lagi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bahwa aku – anak bungsumu ini berada dalam lingkaran positif – insyaAllah.

Terimakasih teman-teman di YISC Al-Azhar, terutama angkatan Mumtaaz yang membuat hari-hariku berwarna. Ibuku titip salam buat kalian semuanya. Dan aku tidak akan takut lagi dengan masa depan, biarkan rel itu semakin jauh semakin kecil, biarkan pohon-pohon itu berlari mengejar kereta yang kita naiki, biarkan monas itu berdiri angkuh… Aku disini bersama saudara-saudara Mumtaaz tidak akan berhenti mengejar mimpi dan berjuang meraih surga-Nya… Aamiin.

Jakarta sudah identik dengan istilah “macet”, kalau nggak macet akan banyak komentar terlontar, “tumben ga macet?” Apalagi saat jam pulang kantor, kemacetan semakin menjadi… Bagi pengendara motor yang mengalami peristiwa sama, harap memerhatikan Rambu-Rambu Macet sebagai berikut:

1. Dilarang pacaran saat macet! Bayangkan saja, ditengah kemacetan yang membuatmu motormu terhenti, tepat disampingmu seorang cewek yang dibonceng pacarnya (kok bisa tahu kalau mereka pacaran? hihihihi… ya tau lah :p) sedang becanda ketawa-ketiwi diatas motor, kadang ada yang maen peluk-pelukan segala… Huh… Bikin adegan hot dalam keadaan macet yang sudah hot begini, ga bisa dibiarkan! #curhat penulis jombo lagi galau

2. Dilarang pasang knalpot dengan ketinggian diatas rata-rata. Saat macet, posisi yang paling tidak enak adalah berada di belakang bajaj, metromini dan motor dengan kenalpot tinggi. Asapnya langsung menonjok ke muka. Huh, ini dia salah satu penyebab munculnya jerawat. #curhat penulis yang sedang mengalami konflik jerawat di jidat

3. Dilarang kehabisan bensin. Hahahahaha…satu kehebatan motor jadulku yang aku beri nama si Thunder Blue ini adalah memerlakukannya dengan perasaan. Misal, “perasaan bensinnya dah mulai abis deh” atau “kok tiba-tiba berhenti sih, perasaan aku isi bensin hari senin… sekarang dah hari kamis…pantes mati, bensinnya abis” Kalau sudah kehabisan bensin ditengah kemacetan, turun dari motormu (ya iyalah (-__-”) udah ga bisa nyala), tetap pasang helm untuk menutupi rasa malu, tetap berjalan cool sambil pasang headset, dengarkan musik-musik yang mengingatkan tentang kampung halamanmu dan ibumu. Kamu tidak akan merasa kesal, apalagi mengeluh memiliki motor jadul. Harus tetap bersyukur dengan apa yang kamu miliki, dan akan termotivasi untuk membeli motor baru. #curhat penulis dengan duit pas-pasan diantara dua pilihan, duitnya mo dipake kredit motor apa untuk lanjut kuliah?

4. Dilarang Bacor alian Ban Bocor. Masih seputar Thunter Blue, saat-saat mendebarkan bukan hanya ketika kau berada di deket seorang cewek yang kamu sukai. Tapi bagiku saat mendebarkan adalah ketika ban motor tiba-tiba bocor di saat berangkat kantor mengejar absen. Yang bisa aku lakukan hanyalah berjalan dengan cool tanpa melepas helm dan bertanya kepada setiap orang yang kamu temui, “pak, tukang tambal ban terdekat dimana ya?” Tips untuk melepaskan rasa kesal adalah dengan berpikir, “inilah saatnya aku membagi rezeki dengan bapak tukang tambal ban.” #curhat penulis yang merasa kurang amal, ampuni hambamu ya Allah… :’(

5. Dilarang mengumpat atau bicara kotor. Sabar Pak, sabar Bu, bukankah udah biasa kena macet. Jangan marah-marah ya, sabar sabar… Daripada mengumpat gak jelas, dan ga tahu umpatan itu ditujukan khusus untuk siapa, sebaiknya mendengarkan headset dan ikut menyanyi. Buat folder di HP Anda dan beri nama ‘Lagu Macet”, lalu pilih lagu-lagu yang kira-kira cocok untuk menjadi soundtrack macet. Mungkin saya bisa pilihkan beberapa lagu untuk Anda, seperti lagunya “Ridho Rhoma – Let’s Have Fun Together” atau lagunya “Vita KDI – Alun-Alun Nganjuk”, hahahaha… #curhat penulis yang sebenarnya suka lagu dangdut dan lagu campursari jawa :p

 

Udah dulu deh curhatnya hihihihi… udah mo maghrib, kantor dah mulai sepi… Mo pulang ke kost dan merebahkan badan. #curhat penulis yang kesepian di kost (kok masih curhat sih, hahahaha…)

Mendadak, program adobe CS3 di laptop minta register. Huh, padahal kan udah di crack, kemarin saja masih baik-baik saja. Dunia bisa kacau balau nih kalau program adobe cs3 tidak bisa dibuka. Anehnya lagi, diuninstal pun nggak bisa. Huwaaaa…malah muncul tulisan “jscript is not properly registered”. Makanan apa lagi nih, nggak ngerti. Panik! Beberapa kali menelan ludah, nanti sore desain x-banner dan poster untuk YISC Al-Azhar harus dicetak. Tenang…tenang… 2 menit, 5 menit, 15 menit, dan alhamdulillah ketemua caranya… Cihuy…

Ini dia solusinya; dimulai dengan mengetahui system windwows kamu, 32-bit atau 64-bit.

  1. Klik Start.
  2. Klik kanan Computer dan pilih Properties.
  3. Cari “32-bit” or “64-bit”

Kemudian ikut instruksi berukut sesuai dengan system windows kamu.

Jika system windows 32-bit:

  1. Pilih Start > All Programs > Accessories.
  2. Klik kanan di Command Prompt, pilih Run As Administrator, dan authenticate.
  3. Jika prompt terbaca C:\Windows\System32>, langsung ke langkah nomer  4. Jika tidak, ketik perintah seperti berikut lalu Enter:

    cd %windir%\syswow64 atau cd "%systemroot%\System32"

  4. Kemudian akan muncul tulisan, type regsvr32 jscript.dll dan tekan Enter.
  5. Ketika muncul pesan  “DllRegisterServer in jscript.dll succeeded” , klik OK.

Jika system windows 64-bit:

  1. Pilih Start > All Programs > Accessories.
  2. Klik kanan di Command Prompt, pilih Run As Administrator, dan authenticate.
  3. Jika prompt terbaca C:\Windows\SysWow64>, langsung ke langkah nomer  4. Jika tidak, ketik perintah seperti berikut lalu Enter:

    cd %windir%\syswow64 atau cd "%systemroot%\SysWow64"

  4. Kemudian akan muncul tulisan, type regsvr32 jscript.dll dan tekan Enter.
  5. Ketika muncul pesan  “DllRegisterServer in jscript.dll succeeded” , klik OK.

Semoga berhasil… ^__^,

Ibarat hujan yang turun dari langit, kini internet membanjiri dunia. Hampir semua orang mengenal internet dan berkecimpung didalamnya. Mulai dari dunia kerja – orang-orang kantoran dengan kemeja rapi yang duduk di depan komputer, tak bisa lepas dari Interconnection Networking (kepanjangan dari internet). Internet menghubungkan dari banyak jaringan komputer dengan berbagi tipe dan jenis, tentunya hal inilah yang membuat orang-orang berkata bahwa internet itu mudah. Sistem surat-menyurat dalam email yang mampu mengirimkan data dalam hitungan detik, bisa menggeser peran pak pos. Dalam dunia ilmu pengetahuan pun, internet memegang peran penting. Seorang siswa bisa berselancar menjelajahi dunia hanya dengan duduk di depan komputer, berbagai informasi yang disajikan mesin pencarian menjangkau  apa saja. Ada sejarah, ilmu pengetahuan umum, sastra, sampai mengunduh e-book (elektronic book) secara gratis. Atau yang hobi menulis, bisa bikin blog dengan gratis pula. Sebut saja Raditya Dika, tulisannya di blog menyedot perhatian publik yang akhirnya diterbitkan buku dan kisahnya diangkat ke layar lebar. Sebuah prestasi yang membanggakan. Masih banyak lagi para blogger yang tidak kalah hebat, tulisannya pun bervariatif dan inspiratif.

Internet pun merambah ke dunia bisnis, salah satunya adalah toko online. Berbagai jenis baju, asesoris, jam tangan, sampai perlengkapan komputer bisa dibeli secara online. Membangun kepercayaan kepada konsumen menjadi titik penting dalam bisnis ini. Jas Onlineshop, salah satu toko online di salah satu jejaring sosial terpopuler – facebook  yang menawarkan produk fashion buat kalangan anak muda ini menuturkan, “Bisnis online itu tidak terikat waktu dan masih bisa mengerjakan aktivitas lainnya. Selain gratis juga gampang dalam buat onlineshop-nya.”

Memang jika berbicara manfaat, internet memberikan banyak point keuntungan. Yang jauh bisa jadi terasa dekat, komunikasi jadi lebih mudah. Seperti social network yang menghubungkan orang-orang diseluruh dunia, aplikasi chat, sampai video call. Tidak munafik, banyak orang kegandrungan internet bahkan ada yang kecanduan. Warnet-warnet yang masuk desa sudah buka 24 jam nonstop tak pernah sepi pengunjung, apalagi para remaja yang gila game online. Belum lagi posisi PC (Personal Computer) dan notebook sekarang sedang mengalami masa jaya, tawaran berlangganan ISP (Internet Service Provider) semakin gila-gilaan murahnya – unlimited. Tinggal pasang modem, langsung connect. Dan hal inilah yang memicu para cafe dan beberapa tempat makan berlomba-lomba memanjakan pengunjung mereka dengan memberikan the best service dengan fasilitas free wifi. Stategi yang bagus dengan memanfaatkan internet.

Seperti halnya dengan Rois Abidin, seorang desainer grafis muda yang seringkali menjuarai kompetisi desain ini mengatakan, “Peran internet sangat besar dan vital bagi pembangunan ‘intelektual’ dan kepekaan estetis seorang desainer, dunia desain adalah dunia yng dinamis, terus bergerak dan selalu melahirkan tren baru setiap waktu. Mau tidak mau kita sebagai desainer harus mengikutinya, setidaknya itu sebagai pengetahuan saja, dan kemudian kita mengolahnya dengan desain yang sesuai dengan karakter kita masing-masing. Dan semua referensi-referensi tersebut (jurnal desain, website inspiratif, online magazine, dll) salah satunya diperoleh dari dunia internet itu sendiri.” Cowok kelahiran kota Blitar-Jawa Timur ini pernah menjadi  ; First Winner CAMS AWARD 2009, Jakarta ; Juara 1 Rextreme Idea & Concept Design Competition, Jakarta ; Double First Place / Winners Djarum Black Innovation Awards; dan masih banyak kompetisi desain yang dijuarainya. “Dari berbagai kompetisi yang saya ikuti lebih dari 70% informasi saya peroleh dari internet. Dari lomba di internet kalau ditotal nominalkan ada lebih dari 100 juta saya dapat.”

Sedangkan penuturan Hadi Wibowo, cowok muda yang bekerja di Badan Pusat Statistik ini mengaku internet sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya dalam pekerjaannya yang bergerak di bidang IT. “IT akan terus selalu mencoba memberikan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi keinginan-keinginan dan kebutuhan manusia, membuat setiap hal yang sulit (bahkan dirasa tidak mungkin) menjadi mudah. Dan saya, walau pun hanya sedikit, ingin menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang selalu mengembangkan IT yang bermanfaat itu,” tuturnya dengan ramah. Kehebatannya pun dibuktikan dengan memenangkan juara 1 disebuah ajang karya cipta kreativitas dan inovasi teknologi komunikasi dan informasi INAICTA 2009 yang lalu untuk kategori Research and Development bersama tim Zaitun Timeseries. “Internet menjadi alat penyedia informasi yang lengkap untuk menjawab setiap kendala yang muncul selama beraktifitas. Mungkin saya sudah punya ketergantungan dengan internet. Walaupun masih bisa hidup, tapi akan terasa sangat sulit hidup tanpanya,” tambahnya.

Seperti hukum alam, ada kebaikan, ada pula kejahatan. Ada putih, ada hitam. Ada virus, ada antivirus. Sehat dan tidak sehat sebenarnya tergantung dari perspektif mana seseorang itu melihat. Katakanlah sebuah pisau, pisau akan baik dan berguna jika dipakai memasak, menyembelih hewan qurban, pisau akan buruk dan jelek bila digunakan membunuh orang, nah contohnya seperti itu. Memang semua bergantung dengan sang pengguna. Dua orang siswa sama-sama duduk di bangku kelas 3 SMP. Mereka berdua pergi ke warnet yang sama dan di waktu yang sama pula. Siswa satu mencari bahan artikel buat tugas sekolah, siswa satunya mengunduh video porno. Contoh kecil yang mungkin sering terjadi di lingkungan sekitar kita. “Seperti di warnet tempat saya bekerja”, kata Ecko Prasetyo, mahasiswa UNIKOM Bandung yang bekerja part time di sebuah warnet dekat kampusnya, “untuk situs-situs porno itu sudah diblokir, tapi sistem keamanan masih saja bisa dijebol kejahatan dunia maya.”

Kasus seperti tidak bisa menyalahkan posisi internet, semua dikembalikan kepada diri kita sendiri sebagai pengguna internet yang baik. Peran orang tua dalam mengontrol anak-anaknya sangat penting, tentunya diimbangi dengan kesadaran diri untuk tidak nakal dan tidak melakukan tindakan bodoh. “Menurut pengalaman saya selama menjadi operator warnet, banyak sekali hal positif yang saya temui dibanding negatifnya,” kata Ecko, “salah satunya dalam pencarian bahan untuk menyelesaikan suatu tugas perkuliahan, terus pencarian tentang lowongan pekerjaan, berbagai macam informasi yang kita inginkan dan kalau kita ingin mendapatkan suatu software secara gratis dengan internet kita bisa download software tersebut.”

Jadi peran internet tergantung moralitas dan intelektualitas seseorang untuk menggunakannya dengan bijak. Dan internet yang sehat adalah internet yang bisa membuat ‘value‘ seseorang menjadi lebih dengan mengunakannya secara bijak dan positf. Orang mengatakan negatif karena belum mengenal lebih jauh dan mendalaminya secara baik dan hanya tau luarnya saja dan orang yang beranggapan seperti inilah yang seharusnya perlu dididik dan diluruskan pemikirannya. Bahwa internet bisa membuat orang hebat, berkarya, dan berprestasi dibidang masing-masing dalam lingkup positif.  Ketika kita menggunakan internet pastikan kita punya target positif. Untuk apa kita menggunakan internet ini, kemudian kita tanamkan dalam diri kita sikap timbal balik positif, artinya kita menggunakan internet maka kita harus memberikan sesuatu yang baik atau kontribusi positif bagi internet itu sendiri, bagi diri sendiri, dan masyarakat. Dengan demikian apa yang kita dapatkan di internet akan bermanfaat juga bagi orang lain. ***

<!--tag lomba code-->
<a href="http://bandungblogvaganza.blogdetik.com/?page_id=73" target="_blank" title="festival blog">
<img src="http://o.detik.com/images/blog/festivalblog.gif" width="150" height="200" />
</a>

Menemukan Karakter

Posted: 07/07/2010 in Cerita Pengalaman

AKU MENYEBUT DIA “nama”, ya… orang-orang memanggilnya “nama”. Dan aku memang belum tahu siapa namanya…

Berawal dengan obrolan yang tidak sengaja, tanpa perencanaan yang matang untuk bertemu dan aku langsung bilang “iya”. Kemudian dua pandangan beradu dalam sebuah tempat makan, dan aku mencoba membaca gerak matanya…

Setiap orang mempunyai karakter yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang menghargai perbedaan. Bukankah pelangi itu indah karena ada perbedaan warna? Termasuk bunga yang bermekaran di halaman rumah dengan berbagai warna dan jenis, juga perbedaan watak bapak yang bertolak belakang dengan sifat ibu. Aaku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala jika melihat ibu sedang ngomel-ngomel marah,  bapak meredakan amarahnya dengan tidur ngorok di kamar belakang, hahaha…  Itu hanya dalam skala keluarga.

Mari kita berjalan keluar menjauh dari rumah kita…  Dan, sekarang aku berada di Jakarta. Ibu kota yang katanya angkuh dan memiliki kantong ajaib bak doraemon. Semua serba ada… termasuk impianku, ada di “kantong ajaib” itu… hihihi….

Dan selama di Jakarta, aku menemukan berbagai karakter dari orang-orang yang pernah aku temui… Baca entri selengkapnya »

Awal long weekend, kamis malam kemarin aku memutuskan untuk pulang tepat waktu jam kerja – 16.30 tet. Nonton film bareng bersama teman-teman seangkatan adalah pilihan yang manis untuk mengawali liburan tiga hari. Film Prince of  Persia yang diangkat dari game ini sudah menari-nari dalam imajinasiku. Tapi sebelum aku duduk di kursi merah bioskop, ada dua kekecewaan. Pertama, kenapa di Djakarta Teater tidak ada parkir motor? Hohoho…. ini diskriminasi, aku protes. Apa karena ini bioskop khusus yang mempunyai roda empat? Tahu begini, aku akan mengajak keponakanku yang masih berumur 2 tahun dengan membawa sepeda roda empatnya. Dan parkir motor liar yang dibatasi sampai jam sepuluh malam dengan aturan tidak boleh dikunci ganda, akan membuatku tidak tenang meninggalkan motorku sendirian disana. Aku tidak tega, khawatir jika ada yang menculiknya. Kata orang, Jakarta ini kejam (mereka melihat Jakarta dalam dimensi sinetron) makanya jangan sampai sembrono di kota besar ini. Kedua, tiket untuk film Prince of Persia sold out. Huhuhu…terpaksa kami menggantinya dengan film Shrek Forever After. Daripada pulang bengong di kost, I think this movie is not too bad.

Ternyata eh ternyata, film Shrek Forever After sangat mengagumkan… Aku hanya bisa berkata ‘wow!’

Setelah semua petualangannya, Shrek (Mike Myers) telah menjadi raksasa berkeluarga dengan tiga anak. Bosan dengan kehidupan sehari-harinya, Shrek ingin menjadi raksasa yang ditakuti penduduk desa. Dan perjanjian sebuah kontrak dengan Rumpelstiltskin (Walt Dohrn) telah disepakati. Namun, setelah penandatanganan kontrak, Shrek baru sadar bahwa ia dijebak. Baca entri selengkapnya »

Awas Tilang!

Posted: 05/25/2010 in Cerita Pengalaman

Tidak semua niat baik yang akan kita lakukan dalam proses perjalanannya akan baik-baik pula, bahkan ada batu-batu sandungan yang justru membuat kita apes. Huhuhu…sedihnya. Niat pertama adalah ingin ikut kajian YISC (Youth Islamic Study Center) di masjid Al-Azhar pada hari Minggu siang – beberapa minggu yang lalu. Aku pun mengajak seorang teman dan menjemputnya di daerah Radio Dalam. Karena untuk bisa mengajak seseorang untuk mau ngaji itu cukup susah, beda kalau ngajak teman nonton konsernya Ungu…. (mau mau mau, ada Pasha sih, hihihi….)

Saat melewati putaran balik dekat Plasa Semanggi, tiba-tiba saja ada polisi yang mengikuti motor Thunder Blue-ku. Karena aku selalu berpikiran positif, maka ada tiga dugaanku; yang pertama polisi itu ingin melindungiku , yang kedua bisa jadi polisi itu naksir padaku dan ingin mengikutiku, duh… yang ini bisa gawat! Dan dugaan yang ketiga, mungkin polisi itu juga searah denganku yaitu ikut ngaji di Al-Azhar, hohoho….

Dan polisi itu pun menghentikanku. OMG, perasaanku kok jadi nggak enak ya? Deg-degan tidak karuan gini. Temanku berkata pelan padaku, “Kita kena tilang karena salah jalur.” Aku hanya bisa meringis pada polisi itu. Setelah sedikit berdialog akhirnya aku mengakui dengan terpaksa bahwa aku memang melanggar peraturan lalu lintas yaitu salah masuk jalur cepat untuk roda empat. Hahaha…baru sadar kalau aku sedang naik motor (biasanya juga naik motor gak pernah naik mobil ^_^ ) Dan sebuah pilihan mudah dihadapkan padaku, damai atau ditilang? Dengan sedikit berbasa-basi aku rundingan dengan temanku, dan basa-basi pula polisi itu menulis surat tilang dengan gerakan slow motion sambil menungguku mengatakan “damai saja Pak!”

Inilah budaya ‘suap’ yang sudah menjadi rahasia umum seluruh warna negara Indonesia, bahwa jalur damai adalah pilihan yang tepat. Uang dua puluh ribu yang masuk kantong polisi cukup efisien daripada harus antri sidang di pengadilan negeri. Dan kali ini aku memilih itu… (padahal kemarin baru saja aku ikut kompetisi desain poster dengan tema Anti Korupsi dan Anti Suap, apa kata dunia? )

Niat baik kedua adalah menjemput seorang teman di daerah Tosari yang berencana nginap di kostku. Sebenarnya temanku tidak ingin aku menjemputnya dengan alasan klasik, takut merepotkan. Tapi aku tahu, temanku akan lebih senang jika aku menjemputnya dan memperbolehkan dia nginap semalam di kostku daripada harus memaksakan diri pulang ke Bogor. Mengingat di stasiun kereta Manggarai sudah tidak ada kereta ke Bogor karena sudah hampir pukul 12 malam (yang ada juga Kereta Hantu Manggarai, hihihi…. serem kan?) Baca entri selengkapnya »

Kisah Mbok Simah

Posted: 04/15/2010 in Cerita Pendek

Jalan mulai sepi. Sudah jarang orang yang berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam.

Beberapa toko masih ditemani sinar lampu neon. Memancarkan barang dagangannya yang melambai-lambai menciptakan nuansa ramai. Percuma, tidak ada yang mendengar. Toko tetap sepi. Tapi para karyawan masih setia menanti pembeli yang kedatangannya belum pasti. Mereka berdiri dengan kehampaan. Bosan. Mereka pun duduk. Lalu berdiri lagi. Mondar-mandir. Hingga akhirnya, tepat pukul sepuluh malam, mereka memutuskan untuk tutup toko.

Lampu-lampu toko telah padam. Melengkapi kesepian malam. Kota ini seperti mati. Ah, malam resah. Malam tidak ingin mati kecuali matahari saja yang boleh membunuhnya. Malam pun mencari teman. Perempatan kemuning dekat alun-alun kota. Di emperan toko, pojok sebelah barat jalan, malam menemukan tempat beradu. Ada cahaya kehidupan. Bukan kehidupan malam yang dipenuhi gairah haram, melainkan malam yang akan memberikan pelajaran tentang makna kehidupan.

Seorang perempuan tua duduk bersimpuh. Rambutnya yang memutih terikat rapi. Kebaya yang dikenakannya terlihat sedikit lusuh. Tapi jaritnya, warna coklat tua bermotif batik, cukup bersih. Di depannya ada nyala redup lampu minyak tanah, tungku kecil, kipas bambu berbentuk persegi dan beberapa jagung muda yang sudah dikupas. Perempuan tua itu bernama Mbok Simah. Baru kemarin, Mbok Simah menjalani pekerjaannya, menjual jagung bakar. Bagi Mbok Simah, pekerjaan ini adalah pilihan terbaik daripada berdiam diri sebagai orang yang terbuang di panti jompo. Bahkan Mbok Simah harus melakukan perang gerilya melawan penjaga gerbang agar bisa keluar dari tempat pembuangan. Bagi Mbok Simah, panti jompo adalah tempat penyiksaan batin. Karena Aji, anak kandung Mbok Simah sendiri yang mengirimnya ke sana.

“Mbok lebih baik tinggal di panti jompo. Di sana lebih terurus.  Saya kan sudah berumah tangga Mbok, mana sempat kalau terlalu sering bolak-balik dari kota ke sini hanya untuk menemui Mbok,” keluh Aji. Baca entri selengkapnya »