“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan tajam seperti itu. Sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu. Terserah kau mau pergi atau tidak. Aku ingin tidur sekarang.”
Malam gelap. Pekat. Gulita. Rembulan merasa terusik, cahayanya terhalang awan mendung. Ah, mungkin hujan akan turun. Biarlah, rembulan sudah lama tidak merasakan guyuran air hujan dan menari-nari layaknya ‘nama’ dan ‘cintaku’dalam dunia mimpi mereka. Bagaimana rembulan bisa tahu? ‘Nama’ sering bercerita banyak tentang ‘cintaku’ yang selalu berada didekapannya. Rembulan jadi penasaran, ingin mengintip ‘nama’ dan ‘cintaku’. Sayangnya mendung sedang menghalanginya.
Masih malam, tepatnya sepertiga malam. Beberapa rumah memancarkan cahaya keimanan oleh sujud hamba Allah dengan penuh syukur. Sebagian orang menangis, beban-beban dosa yang dipikulnya mulai perlahan berguguran karena taubatan nasuha. Tapi rumah mewah ‘nama’ tetap gelap. Tidak ada cahaya. ‘Nama’ tertidur pulas, kedua tangannya memeluk erat celengan ayam berwarna kuning yang diberi nama ‘cintaku’. ‘Nama’ mencintai ‘cintaku’ lebih dari apa pun. Lihat, perhatikan foto-foto yang terpasang di dinding kamar. Foto bersama teman-temannya ketika masih SMP, ‘nama’ tertawa lebar dan tangan kanannya memegang celengan ayam itu. Lihat juga fotonya saat berbalut seragam abu-abu putih, ‘nama’ mencium ‘cintaku’. Juga foto saat wisuda, ‘nama’ menyalami sang dosen, tangan kirinya juga memeluk si celengan ayam alias ‘cintaku’. Dimana ada ‘nama’ dipelukannya ada ‘cintaku’, dan semua orang sudah menggapnya bukan pemandangan asing lagi.
Pagi menjelang. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar ‘nama’ hingga kedua matanya silau. Terbuka sudah kelopak matanya, pagi yang indah bukan? Ah, ‘nama’ tidak peduli dengan nuansa pagi, hal terpenting adalah ‘cintaku’. Ngomong-ngomong dimana ‘cintaku’? Kedua tangan ‘nama’ kosong, ‘cintaku’ telah hilang. ‘Nama’ berteriak histeris. Tubuhnya langsung bangkit dan mengarahkan kepalanya di bawah ranjang. Mungkin celengan ayam itu terjatuh. Nihil. Seperti kerasukan, seluruh isi lemari diobrak-abrik. Rak-rak buku dan majalah menjadi sasaran berikutnya, kemudian kursi-kursi, meja sampai kamar mandi. Tubuhnya mulai gemetar, tangannya mengacak-ngacak rambut, pandangannya ke segala arah dan teriakan pun terdengar nyaring, “Siapa yang mangambil ‘cintaku’?”
‘Nama’ berlari keluar rumah. Tentu tidak dengan tangan kosong, pisau dapur sudah berada digenggamannya. Penuh emosi, ‘nama’ memandangi orang-orang yang ditemuinya. Tetapi ‘nama’ malah melongo shock. Semua orang yang ditemuinya membawa celengan ayam, sekali lagi semua orang. ‘Nama’ semakin gila, dia mendatangi seorang ibu yang sedang memilih sayur disebuah toko kecil. “Bu, itu celangan ayam milik saya,” teriak ‘nama’. Ibu itu langsung sewot, “Sembarangan saja, ini celengan ayam milik saya, namanya ‘cintaku’. “Iya, jangan maen tuduh dong,” sahut seorang bapak penjual sayur. “Saya juga punya celengan ayam kok, ini dia.”
‘Nama’ pun berlari meninggalkan mereka yang mulai naik darah. Tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya hingga keduanya terjatuh. ‘Nama’ melihat celengan ayam yang sama dalam dekapan anak kecil itu. ‘Nama’ merebutnya dengan paksa hingga anak kecil itu menangis keras dan terus berontak. ‘Nama’ mendorong anak kecil itu dengan kasar, kepalanya membentur sebuah batu jalanan. Darah mengalir. ‘Nama’ ketakutan. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menyerbu ‘nama’. “Pembunuh”, teriak orang-orang. ‘Nama’ terjebak, pukulan dan tendangan menyerangnya. Sakit dan perih pun dirasakannya.
Dan semuanya tiba-tiba gelap.
Kepala ‘nama’ terasa berat. Kedua matanya yang lebam sulit untuk dibuka sepenuhnya. Bajunya pun penuh dengan darah. “Aku tidak mau mati sekarang,” jerit ‘nama’. Kemudian bayangan hitam kembali muncul dihadapan ‘nama’. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu. “Oh, rupanya kamu yang mencuri ‘cintaku’. Cepat kembalikan celengan ayamku,” nama memukuli bayangan hitam itu. Percuma, bayangan tetaplah bayangan. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu lagi. “Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau cepat kembalikan celangan ayamku.”
“Aku akan mencabut nyawamu,” kata bayangan hitam itu. “Apa? Aku tidak mau mati,” teriak ‘nama’. Dan saat itu juga, celengan ayam berwarna kuning dalam ukuran raksasa terjatuh dari langit. ‘Nama’ berusaha menghindar, namun bayangan hitam itu mencegahnya. Dan, celangan ayam itu menimpa ‘nama’ dengan penuh cinta hingga ‘nama’ tidak bernafas lagi.
“Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”
Silahkan merenungi diri kita masing-masing. Ilustrasi di atas adalah penggambaran secuil kehidupan manusia yang terjangkit penyakit wahn. ‘Nama’ adalah salah satu penderita penyakit wahn, dan ‘cintaku’ dalam bentuk celengan ayam adalah wujud dari materi atau duniawi. Karakter ‘nama’ begitu cinta dunia, dimanapun dia berada bahkan dalam mimpinya sekalipun, materi adalah nonor satu. Begitu materi yang sebenarnya hanya titipan dari sang Khalik diambil, orang-orang yang sudah dibutakan materi mulai kehilangan kendali dan kewarasannya. Orang-orang tak bersalah menjadi sasaran, bahkan anak kecil yang tak berdosa tega dia bunuh demi kepentingan duniawi semata. Na’udbillahmindzalik. Saat malaikat pencabut nyawa mendatangi orang-orang atas perintah Allah, mereka ketakutan dan berontak, “Aku tidak ingin mati.” Apakah kita pernah tahu, kalau hari ini adalah terakhir kalinya kamu melihat indahnya sinar mentari pagi? Sedangkan kamu bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa.

