Alysa merasa tidak beruntung dilahirkan sebagai anak bungsu, posisinya itu sering dimanfaatkan kakak-kakaknya dan kedua ortunya untuk disuruh ini itu. Padahal Alysa bukan anak kecil lagi, dia sudah kelas dua SMA. Namun di sekolah, Alysa telah menunjukkan eksistensinya sebagai ketua redaksi MAC – Mading Anak Cendekiawan. Ambisinya untuk mengharumkan nama sekolah untuk menjadi juara pertama dalam lomba mading tahunan, membuat Alysa bekerja keras dan para anggota redaksi harus dikejar-kejar deadline. Akhirnya mereka memutuskan untuk merekrut anggota baru untuk meringankan tugas MAC. Dan, terpilihlah si kembar Ella-Elli dan seorang murid baru, Ghifary Ramdhan.
Tidak disangka, Ghifa sang murid baru yang berasal dari kampung bisa menarik menarik perhatian Alysa karena cara berpikirnya yang cerdas. Latar belakang di antara keduanya yang berbeda membuat hubungan mereka saling dekat, namun di sisi lain latar belakang itu pula yang mengantarkan Alysa dan Ghifa menghadapi masalah-masalah baru. Saling keterkaitan konflik yang muncul telah membentuk sebuah simpul yang tidak mereka mengerti.
Novel yang menjadi pemenang pertama Sayembara Mengarang Novel Remaja 2005 kerja sama Grasindo – Radio Nederland Seksi Indonesia (Ranesi) ini mengangkat tema yang cukup berbeda dengan novel remaja lainnya. Farah Hidayati sebagai penulis mengambil setting Banjarmasin sebagai tanah kelahirannya dan menjelaskannya dari segi arsitektur. Dalam novel ini kita juga akan menjumpai beberapa istilah dalam bahasa Banjar seperti Kelotok : perahu bermesin, Jukung : sampan, Lanting : rumah terapung. Walupun pembaca belum pernah ke Banjar, novel ini bisa membawa imajinasi kita ke daerah Banjar dan bertanya, “Bagaimana sih bentuk rumah apung?”
Sedangkan judul Rumah Tumbuh, merupakan sebuah istilah yang bisa diartikan sebagai rumah yang dapat bertumbuh sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Konstruksi dan tata ruangnya disiapkan untuk bisa diperluas secara vertikal maupun horisontal sehingga seluruh penghuni rumahnya bisa ditampung dalam satu rumah bersama anak cucunya. Tren masa silam seperti rumah Dayak Betang atau rumah Batak Karo – di dalam sebuah rumah ada banyak kepala keluarga.
Dari gaya berceritanya, novel ini menyuguhkan dua sudut pandang yaitu semesta Alysa dan semesta Ghifa dengan memasuki pikiran dari kedua tokoh. Menarik, pembaca seperti menjadi Alysa tapi mengerti segala sesuatu tentang Ghifa. Masih khas gaya bahasa remaja – tapi bukan teen-lit, ceritanya mengalir begitu saja saat di baca. Di bagian awal sedikit membosankan dan pada endingnya masih menyisakan sebuah pertanyaan walaupun ditutup dengan adegan Alysa dan Ghifa sedang bergandengan tangan, “Apa mungkin kisah cinta Alysa dan Ghifa dapat berlanjut?”
***

eh… kayaknya aku pernah baca di perpus sekula
keren bukunya aku punya dirumah
iyaa ending ceritanya masih ngegantung, masalah bapak’a alysa selesai atw engga juga ga d jelasin .
iya sih, tapi aku suka bahasanya… dan karakter tokohnya… hehe…