AKU MENYEBUT DIA “nama”, ya… orang-orang memanggilnya “nama”. Dan aku memang belum tahu siapa namanya…
Berawal dengan obrolan yang tidak sengaja, tanpa perencanaan yang matang untuk bertemu dan aku langsung bilang “iya”. Kemudian dua pandangan beradu dalam sebuah tempat makan, dan aku mencoba membaca gerak matanya…
Setiap orang mempunyai karakter yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang menghargai perbedaan. Bukankah pelangi itu indah karena ada perbedaan warna? Termasuk bunga yang bermekaran di halaman rumah dengan berbagai warna dan jenis, juga perbedaan watak bapak yang bertolak belakang dengan sifat ibu. Aaku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala jika melihat ibu sedang ngomel-ngomel marah, bapak meredakan amarahnya dengan tidur ngorok di kamar belakang, hahaha… Itu hanya dalam skala keluarga.
Mari kita berjalan keluar menjauh dari rumah kita… Dan, sekarang aku berada di Jakarta. Ibu kota yang katanya angkuh dan memiliki kantong ajaib bak doraemon. Semua serba ada… termasuk impianku, ada di “kantong ajaib” itu… hihihi….
Dan selama di Jakarta, aku menemukan berbagai karakter dari orang-orang yang pernah aku temui…
Salah satunya adalah seseorang bernama “nama”. Sosok sederhana ini ternyata mempunyai karakter yang menarik. Aku bisa membaca gerak tubuhnya, pemilihan diksi saat dia berbicara dan gerakan matanya. Ingat, mata adalah jendela hati… Deddy Cobuzer dalam bukunya yang berjudul Mantra membahas bahwa kejujuran dan kebohongan seseorang bisa dilihat dari gerakan mata. Wow, it’s great!
Karakter pertama, “nama” mempunyai type Buah cenderung Daun. Apa artinya sih? Ibarat pohon, ada bagian batang, bagian daun dan bagian buah. Type seseorang bisa dipecah berdasarkan karakter bagian pohon ini. Aku belajar hal ini dari training Social Entrepreneurship Basic beberapa bulan yang lalu di Jakarta. Bagian batang disebut juga sebagai pemikir. Orang-orang yang memiliki karakter type batang, dia cenderung kaku, lebih berkembang otak kiri, dan dalam organisasi dia menduduki sebagai penggagas ide. Bagian buah adalah bagian yang sangat menarik. Ibarat buah yang matang, segar dan berwarna, semua orang akan langsung menyukainya saat bertama kali bertemu. Karakter ini memiliki daya tarik tersendiri, pembawaan yang santai, menyenangkan dan memiliki interaksi yang baik dengan orang lain. Sedangkan daun, karakternya meneduhkan dan jika tertiup angin si daun akan gemerisik. Nah, orang yang memiliki karakter ini dia bisa melakukan hal-hal diluar apa yang kita bayangkan. Dia bisa nekad jika memiliki tekad, dan dia bisa bertahan mesti masalah meniupnya dengan kencang. Dan “nama” memiliki type buah yang menawan setiap orang, tapi lebih cenderung ke type daun karena hal-hal yang dilakukannya kadang diluar kemampuannya sendiri.
Karakter kedua, dewasa. Kata dewasa memang terlalu luas jika didefinisikan. Banyak orang menganggap kedewasaan dinilai dari jumlah umur. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Kalau ada yang pernah membaca novel karya Tere Liye berjudul Hafalan Shalat Delisa, maka kedewasaan telah di temukan pada sosok Delisa yang masih berumur 6 tahun. (Novel ini aku rekomendasikan buat kamu deh, hehe…). Sedangkan “nama” mempunyai kedewasaan yang berjalan sesuai dengan umurnya. Salah satu cirinya adalah tidak mau merepotkan orang lain. Tentunya tidak hanya itu, aku bisa membayangkan setiap kata yang mengalir dari ceritanya. Seperti berusaha untuk memahami orang lain, mengalah dengan si egois demi menjaga hubungan baik dan bisa menjadi pendengar yang baik pula. Berlebihan ya? Kurasa tidak, orang-orang dewasa memiliki sikap-sikap itu.
Karakter ketiga, pekerja keras. Bagaimana aku bisa menyimpulkan dengan begitu cepat dan mengatakan bahwa “nama” termasuk type pekerja keras? Aku pernah bekerja di swasta selama 2 tahun dan tidak mengenal kata weekend atau istilah malam mingguan yang katanya malam yang lebih panjang dari malam-malam lainnya. Hahaha…every day is working. Hal yang sama berada di lingkungan kerja “nama”. Selain itu, aku bisa memcium aroma lelah yang terpudarkan dengan semangat bekerja dan sesekali tawa lepasnya. Aku suka karakter ini…
Karakter keempat, principal. Aku mengenal karakter prinsip ini setelah nonton film besutan Rudi Soedjarwo, Ada Apa Dengan Cinta. Dalam dialognya dengan Cinta, Rangga menyebutkan kata principal atau berprinsip. Kurasa “nama” termasuk dalam type orang yang mempunyai prinsip. Contoh kecilnya adalah, “sebentar ya sebentar”, “tidak mau diantar ya tidak mau diantar”, “tidak mampir ya tidak mampir”, “belum bisa menerima ya belum bisa menerima”, dan “kalau udah sayang ya sayang, sulit melupakan.” Karakter ini bisa dibilang orangnya agak keras kepala, hahaha… tapi justru karakter ini bagus, tidak mudah goyah dengan lingkungan yang terus menekannya kedalam. Dan dia ibarat elang yang ingin terbang tinggi untuk bergerak bebas.
Lalu bagaimana dengan karakter kita ataupun karakter orang-orang disekeliling kita? Cobalah untuk memahaminya, jangan pernah tertipu dengan penampilan fisik. Kekuatan karakter bisa mengalahkan kecantikan paras wajah. Mari kita membangun karakter untuk menemukan jati diri kita.
Special thanks to “nama” for the inspiration, success for you.
salam kenal..blognya keren…mantapp ..
semangat..
di tunggu kunjungan baliknya..
terima kasih
oke, salam kenal juga. blognya di http://thewiiproject.com/ ya? wah, bahasa inggris semua nih…mantab!
siapa tuh nama yang di inisialkan k sebagai “nama” ???? hehehe