Pernahkah kita berpikir tentang rel kereta api, kenapa semakin jauh terlihat semakin mengecil kemudian menghilang, jika kita meninggalkan perngertian yang sejati. Atau disaat kita naik kereta ketika mata memandang ke kaca jendela, sesungguhnya kereta ini yang bergerak atau pohon-pohon itu yang berlari mengejar kita. Jawabannya adalah barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan. Aku sendiri tidak tahu pasti…
Seperti kebedaraanku di Jakarta sekarang, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini membuatku ragu melangkah maju. Racun fiksi sinetron tentang gaya hidup Jakarta yang serba glamor, metroseksual, dan tokoh-tokoh jahat ala dongeng bawang merah – juga membuat ibuku khawatir. Aku bisa membaca raut wajahnya saat berpamitan di stasiun mengantarkan kepergianku. Dan kereta jurusan Tulungagung – Jakarta sudah tiba. Kucium tangan ibu dan segera meloncat ke dalam gerbong. Dari balik kaca aku terus memerhatikan mimik wajah ibu, kemudian ibu tersenyum dan kereta pun melaju.
Saat itulah kali pertama ke Jakarta. Takjub. Melihat bangunan serba tinggi dan orang-orang yang berjalan tanpa menghiraukanku. Kemudian mataku melirik tugu Monas yang merasa dirinya paling populer, “Hei kamu hanya sebuah tugu, jangan sombong. Aku datang ke Jakarta untuk mengejar impianku. Dan aku akan bisa lebih kuat darimu, aku bisa berdiri tegar menghadapi kemelut kota Jakarta.”
Aku merasa sepi dan sangat kesepian. Dunia maya pelarianku, tiap malam autis di depan komputer. Itulah caraku membunuh kesepianku, karena aku tidak ingin dibunuh dengan kesepian. Dan sebuah jejaring sosial mengenalkanku dengan sosok “aku memanggilnya nama”. Dia mengenalkanku tentang pengajian remaja, Youth Islamic Studi Club (YISC).
Aku langsung berkata, “iya”. Mungkin inilah jalan untuk mengisi kekosongan hati. Niatku bergabung waktu itu hanya satu, mencari “teman”. Definisi “teman” sangat luas, bisa teman yang bener-bener teman mengarah ke persahabatan, persaudaraan atau teman yang sejati untuk perjuangan suci.
(Backsound: Lagu “Teman Sejati” by SNADA”)
“Oki kamu nanti ikut acara wisuda YISC Al-Azhar kan?” tanya teman pengajianku di YISC Al-Azhar. Aku terdiam sesaaat. Bimbang. “Hmmm…gimana ya?”
“Ikut saja lah, gpp kalau orang tua ga bisa datang, bisa ajak saudara, kakak, atau calon mertua juga boleh,” bujuk temanku.
“Hehehe,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Aku benar-benar sendiri di kota Jakarta ini, artinya tidak ada sanak-saudara di sini. Dan aku tidak tahu harus mengajak siapa, bagiku keluarga keduaku adalah teman-teman di YISC Al-Azhar. Aku memandangi undangan wisuda, “tidak terasa sudah setahun berjalan.” Rasanya aku ingin berlari dan menyerahkan undangan ini langsung kepada ibuku. Aku ingin membuatnya bangga padaku, ingin menunjukkan bahwa aku disini mempunyai saudara-saudara baru yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku disini tidak sendiri lagi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bahwa aku – anak bungsumu ini berada dalam lingkaran positif – insyaAllah.
Terimakasih teman-teman di YISC Al-Azhar, terutama angkatan Mumtaaz yang membuat hari-hariku berwarna. Ibuku titip salam buat kalian semuanya. Dan aku tidak akan takut lagi dengan masa depan, biarkan rel itu semakin jauh semakin kecil, biarkan pohon-pohon itu berlari mengejar kereta yang kita naiki, biarkan monas itu berdiri angkuh… Aku disini bersama saudara-saudara Mumtaaz tidak akan berhenti mengejar mimpi dan berjuang meraih surga-Nya… Aamiin.