Rak Sepatu dan Nasib si Kucing

Posted: 07/19/2011 in Cerita Pengalaman

Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. Tapi guruku mengernyitkan dahinya saat melihatku menggambar lalu bertanya, “Kamu menggambar apa?”  Aku menjawabnya dengan lugu, “Doraemon.”

Kembali ke topik kucing berbulu coklat sedikit tebal, badannya kurus dengan ekor panjang yang beredar di sekitar kamar kost. Aku masih ingat dengan kucing itu, dia adalah tersangka utama yang pernah mencuri lele – makanan sahurku ramadhan tahun lalu. Tapi saat lebaran aku sudah memaafkan kesalahannya. :-)

Satu kebiasaannya yang bikin kesel, pagi-pagi saat mau menyalakan sepeda motorku… Huh, banyak bulu-bulu warna coklat berjatuhan di atas jok motor. Hmmm…pasti si kucing semalam tidur disini deh. Seharusnya si kucing keramas dulu pake shampo anti rontok sebelum tidur.  Dan membersihkan bulu-bulu kucing bisa menghambat waktuku sekitar 30 detik untuk mengejar absen. Telat masuk kantor 1 detik saja, maka akan dipotong 2% dari presentasi prestasi UK (Uang Kinerja) dan 1 hari dari presentasi absen akan berkurang. Selain itu akan ada efek-efek seperti tidak bergairah bekerja, otot terasa lemah dan adrenalin saat berlari-lari mengejar absen terasa sia-sia.

Aku tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Tidak seperti lagu anak-anak yang sudah mengajarkan untuk menyalahkan si Komo yang hanya numpang lewat. Apa salahnya coba? Hehe…  Tapi hari-hari berikutnya, bulu-bulu si kucing makin banyak yang rontok di atas jok motorku. Pertanyaan penting adalah, kenapa si kucing memilih tidur di atas jok motorku? Padahal di parkiran kost ada pilihan empat motor yang lebih bagus, lebih bersih, lebih mahal tentunya dan joknya lebih empuk dari motorku. Aku pernah bertanya langsung pada si kucing, dan untungnya si kucing hanya mengeong.

Aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Sebelum kucing itu tidur – biasanya si kucing tidur di atas jam 11 malam (hebat kan, aku sampai tahu jadwal tidur si kucing (-_-”) – aku menaruh dua helm di atas jok motor dan sedikit merenggangkan jaraknya hingga tidak ada space untuk tidur si kucing. Hihihihihii… :p

Subuh, aku mengintip dari balik jendela kamar. Yes,berhasil! Aku tidak melihat si kucing tidur di atas jok motorku lagi.

Saat mau berangkat ke kantor. Aaaaaarrrrrghhh… rontokan bulu-bulu kucing itu kini berjatuhan di atas tumpukan beberapa sepatuku. Itu menghabiskan waktuku 30 detik untuk mencari sikat semir sepatu yang entah dimana letaknya, 20 detik untuk membersikan sepatu dengan metode menyikat cepat dan 10 detik untuk melempar kaos kaki ke keranjang  cucian kotor – aku butuh beberapa kali untuk  bisa tepat memasukkannya karena aku tidak bisa olahraga basket.

Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Hanya saja si kucing tidur di tempat yang kurang tepat. Dan kebiasaan buruknya adalah tidak merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Huhuhuhuhu…

Sekali lagi aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Aku menaruh beberapa tumpukan kain – lebih tepatnya kaos lusuh yang sudah tidak aku pake lagi. Berharap si kucing tidur di tempat yang telah disediakan. Tapi dasar kucing, esok paginya masih ada rontokan bulu2 di sepatuku. Huft, tapi biarlah… Mungkin si kucing memang mencintai sepatu-sepatuku, tumpukannya yang berantakan pun terlihat seperti kasur empuk. Aku cukup mengambil satu sepatu yang sering kupakai ke kantor dan memasukkannya dalam kamar. Sepatu-sepatuku yang lain biarlah ditemani si kucing.

Aku membeli rak sepatu di pasar baru – menjelang waktu makan siang bersama rekan-rekan kantor.

Malamnya kurangkai rak sepatu baru berwarna abu-abu monyet dan menaruhnya di pojok depan kamar kost. Menata sepatu-sepatuku dengan cukup rapi,membersihkan barang-barang disekitar depan kamar yang tidak terpakai lagi dan sedikit menyapu lantai. Wow sekarang depan  kamarku terlihat lebih bersih dan cerah. ^_^

Tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Kulirik angka yang tertera di kayar HP, jam 2 pagi. MasyaAllah aku baru ingat, aku belum sholat isya’. Seuasai ambil air wudhu pikiranku tiba-tiba terlintas nasib si kucing, kalau ada rak sepatu si kucing tidur dimana? Aku membuka pintu kamar pelan-pelan dan ingin melihat si kucing sedang terlelap tidur di sebuah tempat yang nyaman baginya. Kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada sosok kucing terlihat.

Aku merasa bersalah. Tumpukan kain yang tadi sudah kubereskan, aku susun kembali . Cukup empuk, pikirku. Aku berharap si kucing baik-baik saja dan tidak tersinggung saat aku “mengusir dengan bahasaku sendiri” dengan membeli rak sepatu baru. Aku pun berharap besok malam si kucing datang lagi.

Sampai sekarang, tumpukan kain yang kusediakan tetap kosong. Aku tidak  pernah melihat wajah kucing itu lagi. Maafkan aku… T_T

Komentar
  1. hanun mengatakan:

    oki…. lutchu bnr tulisan mu, membuat org ga mau pergi sebelum membaca cerita mu sampai tuntas :) Oki mmng keren :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s