<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Langit Biru</title>
	<atom:link href="http://ceritalangitbiru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com</link>
	<description>Berubah Untuk Menjadi Lebih Baik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 18:11:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ceritalangitbiru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Langit Biru</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ceritalangitbiru.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Langit Biru" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>WAHN</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/11/27/wahn/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/11/27/wahn/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 19:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=803&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2011/11/wahn-1.jpg"><img class="alignleft  wp-image-802" title="WAHN" src="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2011/11/wahn-1.jpg?w=191&#038;h=270" alt="" width="191" height="270" /></a>“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan tajam seperti itu. Sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu. Terserah kau mau pergi atau tidak. Aku ingin tidur sekarang.”</p>
<p>Malam gelap. Pekat. Gulita. Rembulan merasa terusik, cahayanya terhalang awan mendung. Ah, mungkin hujan akan turun. Biarlah, rembulan sudah lama tidak merasakan guyuran air hujan dan menari-nari layaknya ‘nama’ dan ‘cintaku’dalam dunia mimpi mereka. Bagaimana rembulan bisa tahu? ‘Nama’ sering  bercerita banyak tentang ‘cintaku’ yang selalu berada didekapannya. Rembulan jadi penasaran, ingin mengintip ‘nama’ dan ‘cintaku’. Sayangnya mendung sedang menghalanginya.</p>
<p>Masih malam, tepatnya sepertiga malam. Beberapa rumah memancarkan cahaya keimanan oleh sujud hamba Allah dengan penuh syukur. Sebagian orang menangis, beban-beban dosa yang dipikulnya mulai perlahan berguguran karena taubatan nasuha. Tapi rumah mewah ‘nama’ tetap gelap. Tidak ada cahaya. ‘Nama’ tertidur pulas, kedua tangannya memeluk erat celengan ayam berwarna kuning yang diberi nama ‘cintaku’. ‘Nama’ mencintai ‘cintaku’ lebih dari apa pun. Lihat, perhatikan foto-foto yang terpasang di dinding kamar. Foto bersama teman-temannya ketika masih SMP, ‘nama’ tertawa lebar dan tangan kanannya memegang celengan ayam itu. Lihat juga fotonya saat berbalut seragam abu-abu putih, ‘nama’ mencium ‘cintaku’. Juga foto saat wisuda, ‘nama’ menyalami sang dosen, tangan kirinya juga memeluk si celengan ayam alias ‘cintaku’. Dimana ada ‘nama’ dipelukannya ada ‘cintaku’, dan semua orang sudah menggapnya bukan pemandangan asing lagi.</p>
<p>Pagi menjelang. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar ‘nama’ hingga kedua matanya silau. Terbuka sudah kelopak matanya, pagi yang indah bukan? Ah, ‘nama’ tidak peduli dengan nuansa pagi, hal terpenting adalah ‘cintaku’. Ngomong-ngomong dimana ‘cintaku’? Kedua tangan ‘nama’ kosong, ‘cintaku’ telah hilang. ‘Nama’ berteriak histeris. Tubuhnya langsung bangkit dan mengarahkan kepalanya di bawah ranjang. Mungkin celengan ayam itu terjatuh. Nihil. Seperti kerasukan, seluruh isi lemari diobrak-abrik. Rak-rak buku dan majalah menjadi sasaran berikutnya, kemudian kursi-kursi, meja sampai kamar mandi. Tubuhnya mulai gemetar, tangannya mengacak-ngacak rambut, pandangannya ke segala arah dan teriakan pun terdengar nyaring, “Siapa yang mangambil ‘cintaku’?”</p>
<p>‘Nama’ berlari keluar rumah. Tentu tidak dengan tangan kosong, pisau dapur sudah berada digenggamannya. Penuh emosi, ‘nama’ memandangi orang-orang yang ditemuinya. Tetapi ‘nama’ malah melongo shock. Semua orang yang ditemuinya membawa celengan ayam, sekali lagi semua orang. ‘Nama’ semakin gila, dia mendatangi seorang ibu yang sedang memilih sayur disebuah toko kecil. “Bu, itu celangan ayam milik saya,” teriak ‘nama’. Ibu itu langsung sewot, “Sembarangan saja, ini celengan ayam milik saya, namanya ‘cintaku’. “Iya, jangan maen tuduh dong,” sahut seorang bapak penjual sayur. “Saya juga punya celengan ayam kok, ini dia.”</p>
<p>‘Nama’ pun berlari meninggalkan mereka yang mulai naik darah. Tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya hingga keduanya terjatuh. ‘Nama’ melihat celengan ayam yang sama dalam dekapan anak kecil itu. ‘Nama’ merebutnya dengan paksa hingga anak kecil itu menangis keras dan terus berontak. ‘Nama’ mendorong anak kecil itu dengan kasar, kepalanya membentur sebuah batu jalanan. Darah mengalir. ‘Nama’ ketakutan. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menyerbu ‘nama’. “Pembunuh”, teriak orang-orang. ‘Nama’ terjebak, pukulan dan tendangan menyerangnya. Sakit dan perih pun dirasakannya.</p>
<p>Dan semuanya tiba-tiba gelap.</p>
<p>Kepala ‘nama’ terasa berat. Kedua matanya yang lebam sulit untuk dibuka sepenuhnya. Bajunya pun penuh dengan darah. “Aku tidak mau mati sekarang,” jerit ‘nama’. Kemudian bayangan hitam kembali muncul dihadapan ‘nama’. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu. “Oh, rupanya kamu yang mencuri ‘cintaku’. Cepat kembalikan celengan ayamku,” nama memukuli bayangan hitam itu. Percuma, bayangan tetaplah bayangan. “Siapa namamu?” tanya bayangan hitam itu lagi. “Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau cepat kembalikan celangan ayamku.”</p>
<p>“Aku akan mencabut nyawamu,” kata bayangan hitam itu. “Apa? Aku tidak mau mati,” teriak ‘nama’. Dan saat itu juga, celengan ayam berwarna kuning dalam ukuran raksasa terjatuh dari langit. ‘Nama’ berusaha menghindar, namun bayangan hitam itu mencegahnya. Dan, celangan ayam itu menimpa ‘nama’ dengan penuh cinta hingga ‘nama’ tidak bernafas lagi.</p>
<p>&#8220;Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: &#8220;Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan&#8221;. Kemudian ada sahabat yang bertanya: &#8220;Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?&#8221;. Rasulullah Saw menjawab: &#8220;Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.&#8221; Ada sahabat yang bertanya lagi: &#8220;Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Cinta dunia dan takut mati.&#8221;</p>
<p>Silahkan merenungi diri kita masing-masing. Ilustrasi di atas adalah penggambaran secuil kehidupan manusia yang terjangkit penyakit wahn. ‘Nama’ adalah salah satu penderita penyakit wahn, dan ‘cintaku’ dalam bentuk celengan ayam adalah wujud dari materi atau duniawi. Karakter ‘nama’ begitu cinta dunia, dimanapun dia berada bahkan dalam mimpinya sekalipun, materi adalah nonor satu. Begitu materi yang sebenarnya hanya titipan dari sang Khalik diambil, orang-orang yang sudah dibutakan materi mulai kehilangan kendali dan kewarasannya. Orang-orang tak bersalah menjadi sasaran, bahkan anak kecil yang tak berdosa tega dia bunuh demi kepentingan duniawi semata. Na’udbillahmindzalik. Saat malaikat pencabut nyawa mendatangi orang-orang atas perintah Allah, mereka ketakutan dan berontak, “Aku tidak ingin mati.” Apakah kita pernah tahu, kalau hari ini adalah terakhir kalinya kamu melihat indahnya sinar mentari pagi? Sedangkan kamu bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa.</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-hikmah/'>Cerita Hikmah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=803&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/11/27/wahn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2011/11/wahn-1.jpg?w=212" medium="image">
			<media:title type="html">WAHN</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rak Sepatu dan Nasib si Kucing</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/19/rak-sepatu-dan-nasib-si-kucing/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/19/rak-sepatu-dan-nasib-si-kucing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 09:37:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=796&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. Tapi guruku mengernyitkan dahinya saat melihatku menggambar lalu bertanya, &#8220;Kamu menggambar apa?&#8221;  Aku menjawabnya dengan lugu, &#8220;Doraemon.&#8221;</p>
<p>Kembali ke topik kucing berbulu coklat sedikit tebal, badannya kurus dengan ekor panjang yang beredar di sekitar kamar kost. Aku masih ingat dengan kucing itu, dia adalah tersangka utama yang pernah mencuri lele &#8211; makanan sahurku ramadhan tahun lalu. Tapi saat lebaran aku sudah memaafkan kesalahannya. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Satu kebiasaannya yang bikin kesel, pagi-pagi saat mau menyalakan sepeda motorku&#8230; Huh, banyak bulu-bulu warna coklat berjatuhan di atas jok motor. Hmmm&#8230;pasti si kucing semalam tidur disini deh. Seharusnya si kucing keramas dulu pake shampo anti rontok sebelum tidur.  Dan membersihkan bulu-bulu kucing bisa menghambat waktuku sekitar 30 detik untuk mengejar absen. Telat masuk kantor 1 detik saja, maka akan dipotong 2% dari presentasi prestasi UK (Uang Kinerja) dan 1 hari dari presentasi absen akan berkurang. Selain itu akan ada efek-efek seperti tidak bergairah bekerja, otot terasa lemah dan adrenalin saat berlari-lari mengejar absen terasa sia-sia.</p>
<p>Aku tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Tidak seperti lagu anak-anak yang sudah mengajarkan untuk menyalahkan si Komo yang hanya numpang lewat. Apa salahnya coba? Hehe&#8230;  Tapi hari-hari berikutnya, bulu-bulu si kucing makin banyak yang rontok di atas jok motorku. Pertanyaan penting adalah, kenapa si kucing memilih tidur di atas jok motorku? Padahal di parkiran kost ada pilihan empat motor yang lebih bagus, lebih bersih, lebih mahal tentunya dan joknya lebih empuk dari motorku. Aku pernah bertanya langsung pada si kucing, dan untungnya si kucing hanya mengeong.</p>
<p>Aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Sebelum kucing itu tidur &#8211; biasanya si kucing tidur di atas jam 11 malam (hebat kan, aku sampai tahu jadwal tidur si kucing (-_-&#8221;) &#8211; aku menaruh dua helm di atas jok motor dan sedikit merenggangkan jaraknya hingga tidak ada space untuk tidur si kucing. Hihihihihii&#8230; :p</p>
<p>Subuh, aku mengintip dari balik jendela kamar. Yes,berhasil! Aku tidak melihat si kucing tidur di atas jok motorku lagi.</p>
<p>Saat mau berangkat ke kantor. Aaaaaarrrrrghhh&#8230; rontokan bulu-bulu kucing itu kini berjatuhan di atas tumpukan beberapa sepatuku. Itu menghabiskan waktuku 30 detik untuk mencari sikat semir sepatu yang entah dimana letaknya, 20 detik untuk membersikan sepatu dengan metode menyikat cepat dan 10 detik untuk melempar kaos kaki ke keranjang  cucian kotor &#8211; aku butuh beberapa kali untuk  bisa tepat memasukkannya karena aku tidak bisa olahraga basket.</p>
<p>Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Hanya saja si kucing tidur di tempat yang kurang tepat. Dan kebiasaan buruknya adalah tidak merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Huhuhuhuhu&#8230;</p>
<p>Sekali lagi aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Aku menaruh beberapa tumpukan kain &#8211; lebih tepatnya kaos lusuh yang sudah tidak aku pake lagi. Berharap si kucing tidur di tempat yang telah disediakan. Tapi dasar kucing, esok paginya masih ada rontokan bulu2 di sepatuku. Huft, tapi biarlah&#8230; Mungkin si kucing memang mencintai sepatu-sepatuku, tumpukannya yang berantakan pun terlihat seperti kasur empuk. Aku cukup mengambil satu sepatu yang sering kupakai ke kantor dan memasukkannya dalam kamar. Sepatu-sepatuku yang lain biarlah ditemani si kucing.</p>
<p>Aku membeli rak sepatu di pasar baru &#8211; menjelang waktu makan siang bersama rekan-rekan kantor.</p>
<p>Malamnya kurangkai rak sepatu baru berwarna abu-abu monyet dan menaruhnya di pojok depan kamar kost. Menata sepatu-sepatuku dengan cukup rapi,membersihkan barang-barang disekitar depan kamar yang tidak terpakai lagi dan sedikit menyapu lantai. Wow sekarang depan  kamarku terlihat lebih bersih dan cerah. ^_^</p>
<p>Tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Kulirik angka yang tertera di kayar HP, jam 2 pagi. MasyaAllah aku baru ingat, aku belum sholat isya&#8217;. Seuasai ambil air wudhu pikiranku tiba-tiba terlintas nasib si kucing, kalau ada rak sepatu si kucing tidur dimana? Aku membuka pintu kamar pelan-pelan dan ingin melihat si kucing sedang terlelap tidur di sebuah tempat yang nyaman baginya. Kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada sosok kucing terlihat.</p>
<p>Aku merasa bersalah. Tumpukan kain yang tadi sudah kubereskan, aku susun kembali . Cukup empuk, pikirku. Aku berharap si kucing baik-baik saja dan tidak tersinggung saat aku &#8220;mengusir dengan bahasaku sendiri&#8221; dengan membeli rak sepatu baru. Aku pun berharap besok malam si kucing datang lagi.</p>
<p>Sampai sekarang, tumpukan kain yang kusediakan tetap kosong. Aku tidak  pernah melihat wajah kucing itu lagi. Maafkan aku&#8230; T_T</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/796/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=796&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/19/rak-sepatu-dan-nasib-si-kucing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Ceritaku Tentang YISC Al-Azhar, Mana Ceritamu?</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/sepenggal-ceritaku-tentang-yisc-al-azhar-mana-ceritamu/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/sepenggal-ceritaku-tentang-yisc-al-azhar-mana-ceritamu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 23:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kita berpikir tentang rel kereta api, kenapa semakin jauh terlihat semakin mengecil kemudian menghilang, jika kita meninggalkan perngertian yang sejati. Atau disaat kita naik kereta ketika mata memandang ke kaca jendela, sesungguhnya kereta ini yang bergerak atau pohon-pohon itu yang berlari mengejar kita. Jawabannya adalah barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan. Aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=794&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita berpikir tentang rel kereta api, kenapa semakin jauh terlihat semakin mengecil kemudian menghilang, jika kita meninggalkan perngertian yang sejati. Atau disaat kita naik kereta ketika mata memandang ke kaca jendela, sesungguhnya kereta ini yang bergerak atau pohon-pohon itu yang berlari mengejar kita. Jawabannya adalah barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan. Aku sendiri tidak tahu pasti&#8230;</p>
<p>Seperti kebedaraanku di Jakarta sekarang, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini membuatku ragu melangkah maju. Racun fiksi sinetron tentang gaya hidup Jakarta yang serba glamor, metroseksual, dan tokoh-tokoh jahat ala dongeng bawang merah – juga membuat ibuku khawatir. Aku bisa membaca raut wajahnya saat berpamitan di stasiun mengantarkan kepergianku. Dan kereta jurusan Tulungagung – Jakarta sudah tiba. Kucium tangan ibu dan segera meloncat ke dalam gerbong. Dari balik kaca aku terus memerhatikan mimik wajah ibu, kemudian ibu tersenyum dan kereta pun melaju.</p>
<p>Saat itulah kali pertama ke Jakarta. Takjub. Melihat bangunan serba tinggi dan orang-orang yang berjalan tanpa menghiraukanku. Kemudian mataku melirik tugu Monas yang merasa dirinya paling populer, “Hei kamu hanya sebuah tugu, jangan sombong. Aku datang ke Jakarta untuk mengejar impianku. Dan aku akan bisa lebih kuat darimu, aku bisa berdiri tegar menghadapi kemelut kota Jakarta.”</p>
<p>Aku merasa sepi dan sangat kesepian. Dunia maya pelarianku, tiap malam autis di depan komputer. Itulah caraku membunuh kesepianku, karena aku tidak ingin dibunuh dengan kesepian. Dan sebuah jejaring sosial mengenalkanku dengan sosok “aku memanggilnya nama”. Dia mengenalkanku tentang pengajian remaja, Youth Islamic Studi Club (YISC).</p>
<p>Aku langsung berkata, “iya”. Mungkin inilah jalan untuk mengisi kekosongan hati. Niatku bergabung waktu itu hanya satu, mencari “teman”. Definisi “teman” sangat luas, bisa teman yang bener-bener teman mengarah ke persahabatan, persaudaraan atau teman yang sejati untuk perjuangan suci.</p>
<p>(Backsound: Lagu “Teman Sejati” by SNADA”)</p>
<p>“Oki kamu nanti ikut acara wisuda YISC Al-Azhar kan?” tanya teman pengajianku di YISC Al-Azhar. Aku terdiam sesaaat. Bimbang. “Hmmm&#8230;gimana ya?”</p>
<p>“Ikut saja lah, gpp kalau orang tua ga bisa datang, bisa ajak saudara, kakak, atau calon mertua juga boleh,” bujuk temanku.</p>
<p>“Hehehe,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.</p>
<p>Aku benar-benar sendiri di kota Jakarta ini, artinya tidak ada sanak-saudara di sini. Dan aku tidak tahu harus mengajak siapa, bagiku keluarga keduaku adalah teman-teman di YISC Al-Azhar. Aku memandangi undangan wisuda, “tidak terasa sudah setahun berjalan.” Rasanya aku ingin berlari dan menyerahkan undangan ini langsung kepada ibuku. Aku ingin membuatnya bangga padaku, ingin menunjukkan bahwa aku disini mempunyai saudara-saudara baru yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku disini tidak sendiri lagi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bahwa aku – anak bungsumu ini berada dalam lingkaran positif – insyaAllah.</p>
<p>Terimakasih teman-teman di YISC Al-Azhar, terutama angkatan Mumtaaz yang membuat hari-hariku berwarna. Ibuku titip salam buat kalian semuanya. Dan aku tidak akan takut lagi dengan masa depan, biarkan rel itu semakin jauh semakin kecil, biarkan pohon-pohon itu berlari mengejar kereta yang kita naiki, biarkan monas itu berdiri angkuh&#8230; Aku disini bersama saudara-saudara Mumtaaz tidak akan berhenti mengejar mimpi dan berjuang meraih surga-Nya&#8230; Aamiin.</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/794/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=794&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/sepenggal-ceritaku-tentang-yisc-al-azhar-mana-ceritamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rambu-Rambu Macet #curhat penulis part.1</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/rambu-rambu-macet-curhat-penulis-part-1/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/rambu-rambu-macet-curhat-penulis-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 10:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta sudah identik dengan istilah &#8220;macet&#8221;, kalau nggak macet akan banyak komentar terlontar, &#8220;tumben ga macet?&#8221; Apalagi saat jam pulang kantor, kemacetan semakin menjadi&#8230; Bagi pengendara motor yang mengalami peristiwa sama, harap memerhatikan Rambu-Rambu Macet sebagai berikut: 1. Dilarang pacaran saat macet! Bayangkan saja, ditengah kemacetan yang membuatmu motormu terhenti, tepat disampingmu seorang cewek yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=791&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta sudah identik dengan istilah &#8220;macet&#8221;, kalau nggak macet akan banyak komentar terlontar, &#8220;tumben ga macet?&#8221; Apalagi saat jam pulang kantor, kemacetan semakin menjadi&#8230; Bagi pengendara motor yang mengalami peristiwa sama, harap memerhatikan Rambu-Rambu Macet sebagai berikut:</p>
<p>1. Dilarang pacaran saat macet! Bayangkan saja, ditengah kemacetan yang membuatmu motormu terhenti, tepat disampingmu seorang cewek yang dibonceng pacarnya (kok bisa tahu kalau mereka pacaran? hihihihi&#8230; ya tau lah :p) sedang becanda ketawa-ketiwi diatas motor, kadang ada yang maen peluk-pelukan segala&#8230; Huh&#8230; Bikin adegan hot dalam keadaan macet yang sudah hot begini, ga bisa dibiarkan! #curhat penulis jombo lagi galau</p>
<p>2. Dilarang pasang knalpot dengan ketinggian diatas rata-rata. Saat macet, posisi yang paling tidak enak adalah berada di belakang bajaj, metromini dan motor dengan kenalpot tinggi. Asapnya langsung menonjok ke muka. Huh, ini dia salah satu penyebab munculnya jerawat. #curhat penulis yang sedang mengalami konflik jerawat di jidat</p>
<p>3. Dilarang kehabisan bensin. Hahahahaha&#8230;satu kehebatan motor jadulku yang aku beri nama si Thunder Blue ini adalah memerlakukannya dengan perasaan. Misal, &#8220;perasaan bensinnya dah mulai abis deh&#8221; atau &#8220;kok tiba-tiba berhenti sih, perasaan aku isi bensin hari senin&#8230; sekarang dah hari kamis&#8230;pantes mati, bensinnya abis&#8221; Kalau sudah kehabisan bensin ditengah kemacetan, turun dari motormu (ya iyalah (-__-&#8221;) udah ga bisa nyala), tetap pasang helm untuk menutupi rasa malu, tetap berjalan cool sambil pasang headset, dengarkan musik-musik yang mengingatkan tentang kampung halamanmu dan ibumu. Kamu tidak akan merasa kesal, apalagi mengeluh memiliki motor jadul. Harus tetap bersyukur dengan apa yang kamu miliki, dan akan termotivasi untuk membeli motor baru. #curhat penulis dengan duit pas-pasan diantara dua pilihan, duitnya mo dipake kredit motor apa untuk lanjut kuliah?</p>
<p>4. Dilarang Bacor alian Ban Bocor. Masih seputar Thunter Blue, saat-saat mendebarkan bukan hanya ketika kau berada di deket seorang cewek yang kamu sukai. Tapi bagiku saat mendebarkan adalah ketika ban motor tiba-tiba bocor di saat berangkat kantor mengejar absen. Yang bisa aku lakukan hanyalah berjalan dengan cool tanpa melepas helm dan bertanya kepada setiap orang yang kamu temui, &#8220;pak, tukang tambal ban terdekat dimana ya?&#8221; Tips untuk melepaskan rasa kesal adalah dengan berpikir, &#8220;inilah saatnya aku membagi rezeki dengan bapak tukang tambal ban.&#8221; #curhat penulis yang merasa kurang amal, ampuni hambamu ya Allah&#8230; :&#8217;(</p>
<p>5. Dilarang mengumpat atau bicara kotor. Sabar Pak, sabar Bu, bukankah udah biasa kena macet. Jangan marah-marah ya, sabar sabar&#8230; Daripada mengumpat gak jelas, dan ga tahu umpatan itu ditujukan khusus untuk siapa, sebaiknya mendengarkan headset dan ikut menyanyi. Buat folder di HP Anda dan beri nama &#8216;Lagu Macet&#8221;, lalu pilih lagu-lagu yang kira-kira cocok untuk menjadi soundtrack macet. Mungkin saya bisa pilihkan beberapa lagu untuk Anda, seperti lagunya &#8220;Ridho Rhoma &#8211; Let&#8217;s Have Fun Together&#8221; atau lagunya &#8220;Vita KDI &#8211; Alun-Alun Nganjuk&#8221;, hahahaha&#8230; #curhat penulis yang sebenarnya suka lagu dangdut dan lagu campursari jawa :p</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Udah dulu deh curhatnya hihihihi&#8230; udah mo maghrib, kantor dah mulai sepi&#8230; Mo pulang ke kost dan merebahkan badan. #curhat penulis yang kesepian di kost (kok masih curhat sih, hahahaha&#8230;)</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=791&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/07/18/rambu-rambu-macet-curhat-penulis-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adobe CS Error &#8220;jscript is not properly registered&#8221;</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/05/13/adobe-cs-error-jscript-is-not-properly-registered/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/05/13/adobe-cs-error-jscript-is-not-properly-registered/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 11:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Mendadak, program adobe CS3 di laptop minta register. Huh, padahal kan udah di crack, kemarin saja masih baik-baik saja. Dunia bisa kacau balau nih kalau program adobe cs3 tidak bisa dibuka. Anehnya lagi, diuninstal pun nggak bisa. Huwaaaa&#8230;malah muncul tulisan &#8220;jscript is not properly registered&#8221;. Makanan apa lagi nih, nggak ngerti. Panik! Beberapa kali menelan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=788&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendadak, program adobe CS3 di laptop minta register. Huh, padahal kan udah di crack, kemarin saja masih baik-baik saja. Dunia bisa kacau balau nih kalau program adobe cs3 tidak bisa dibuka. Anehnya lagi, diuninstal pun nggak bisa. Huwaaaa&#8230;malah muncul tulisan &#8220;jscript is not properly registered&#8221;. Makanan apa lagi nih, nggak ngerti. Panik! Beberapa kali menelan ludah, nanti sore desain x-banner dan poster untuk YISC Al-Azhar harus dicetak. Tenang&#8230;tenang&#8230; 2 menit, 5 menit, 15 menit, dan alhamdulillah ketemua caranya&#8230; Cihuy&#8230;</p>
<p>Ini dia solusinya; dimulai dengan mengetahui system windwows kamu, 32-bit atau 64-bit.</p>
<ol type="1">
<li>Klik Start.</li>
<li>Klik kanan Computer dan pilih Properties.</li>
<li>Cari &#8220;32-bit&#8221; or &#8220;64-bit&#8221;</li>
</ol>
<p>Kemudian ikut instruksi berukut sesuai dengan system windows kamu.</p>
<p>Jika system windows 32-bit:</p>
<ol type="1">
<li>Pilih Start &gt; All Programs &gt; Accessories.</li>
<li>Klik kanan di Command Prompt, pilih Run As Administrator, dan authenticate.</li>
<li>Jika prompt terbaca <strong>C:\Windows\System32&gt;</strong>, langsung ke langkah nomer  4. Jika tidak, ketik perintah seperti berikut lalu Enter:
<p><code><code>cd %windir%\syswow64 atau </code>cd "%systemroot%\System32"</code></li>
<li>Kemudian akan muncul tulisan, type <code>regsvr32 jscript.dll</code> dan tekan Enter.</li>
<li>Ketika muncul pesan  &#8220;DllRegisterServer in jscript.dll succeeded&#8221; , klik OK.</li>
</ol>
<p>Jika system windows 64-bit:</p>
<ol type="1">
<li>Pilih Start &gt; All Programs &gt; Accessories.</li>
<li>Klik kanan di Command Prompt, pilih Run As Administrator, dan authenticate.</li>
<li>Jika prompt terbaca <strong></strong> <strong>C:\Windows\SysWow64&gt;</strong>, langsung ke langkah nomer  4. Jika tidak, ketik perintah seperti berikut lalu Enter:
<p><code>cd %windir%\syswow64 atau cd "%systemroot%\SysWow64"</code></li>
<li>Kemudian akan muncul tulisan, type <code>regsvr32 jscript.dll</code> dan tekan Enter.</li>
<li>Ketika muncul pesan  &#8220;DllRegisterServer in jscript.dll succeeded&#8221; , klik OK.</li>
</ol>
<p>Semoga berhasil&#8230; ^__^,</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/788/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=788&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2011/05/13/adobe-cs-error-jscript-is-not-properly-registered/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Internet Sehat Bikin Hebat</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/11/17/kehebatan-peran-internet/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/11/17/kehebatan-peran-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 07:23:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival BLOG 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Ibarat hujan yang turun dari langit, kini internet membanjiri dunia. Hampir semua orang mengenal internet dan berkecimpung didalamnya. Mulai dari dunia kerja &#8211; orang-orang kantoran dengan kemeja rapi yang duduk di depan komputer, tak bisa lepas dari Interconnection Networking (kepanjangan dari internet). Internet menghubungkan dari banyak jaringan komputer dengan berbagi tipe dan jenis, tentunya hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=767&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE                         &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p>Ibarat hujan yang turun dari langit, kini <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> membanjiri dunia. Hampir semua orang mengenal <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> dan berkecimpung didalamnya. Mulai dari dunia kerja &#8211; orang-orang kantoran dengan kemeja rapi yang duduk di depan komputer, tak bisa lepas dari <em>Interconnection Networking </em>(kepanjangan dari <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a>).<a href="http://telkomspeedy.com/"> Internet</a> menghubungkan dari banyak jaringan komputer dengan berbagi tipe dan jenis, tentunya hal inilah yang membuat orang-orang berkata bahwa<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> itu mudah. Sistem surat-menyurat dalam <em>email</em> yang mampu mengirimkan data dalam hitungan detik, bisa menggeser peran pak pos. Dalam dunia ilmu pengetahuan pun, <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> memegang peran penting. Seorang siswa bisa berselancar menjelajahi dunia hanya dengan duduk di depan komputer, berbagai informasi yang disajikan mesin pencarian menjangkau  apa saja. Ada sejarah, ilmu pengetahuan umum, sastra, sampai mengunduh<em> e-book</em> (<em>elektronic book</em>) secara gratis. Atau yang hobi menulis, bisa bikin<a href="http://blogdetik.com/"> blog </a>dengan gratis pula. Sebut saja Raditya Dika, tulisannya di <a href="http://blogdetik.com/">blog</a> menyedot perhatian publik yang akhirnya diterbitkan buku dan kisahnya diangkat ke layar lebar. Sebuah prestasi yang membanggakan. Masih banyak lagi para <em>blogger</em> yang tidak kalah hebat, tulisannya pun bervariatif dan inspiratif.</p>
<p><a href="http://telkomspeedy.com/">Internet</a> pun merambah ke dunia bisnis, salah satunya adalah toko <em>online</em>. Berbagai jenis baju, asesoris, jam tangan, sampai perlengkapan komputer bisa dibeli secara <em>online</em>. Membangun kepercayaan kepada konsumen menjadi titik penting dalam bisnis ini. Jas Onlineshop, salah satu toko<em> online</em> di salah satu jejaring sosial terpopuler &#8211; facebook  yang menawarkan produk <em>fashion</em> buat kalangan anak muda ini menuturkan, “Bisnis <em>online</em> itu tidak terikat waktu dan masih bisa mengerjakan aktivitas lainnya. Selain gratis juga gampang dalam buat <em>onlineshop</em>-nya.”</p>
<p>Memang jika berbicara manfaat,<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> memberikan banyak <em>point</em> keuntungan. Yang jauh bisa jadi terasa dekat, komunikasi jadi lebih mudah. Seperti <em>social network</em> yang menghubungkan orang-orang diseluruh dunia, aplikasi <em>chat</em>, sampai <em>video call</em>. Tidak munafik, banyak orang kegandrungan<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> bahkan ada yang kecanduan. Warnet-warnet yang masuk desa sudah buka 24 jam nonstop tak pernah sepi pengunjung, apalagi para remaja yang gila <em>game online</em>. Belum lagi posisi PC (<em>Personal Computer</em>) dan <em>notebook</em> sekarang sedang mengalami masa jaya, tawaran berlangganan ISP (<em>Internet Service Provider</em>) semakin gila-gilaan murahnya – <em>unlimited</em>. Tinggal pasang modem, langsung <em>connect</em>. Dan hal inilah yang memicu para cafe dan beberapa tempat makan berlomba-lomba memanjakan pengunjung mereka dengan memberikan <em>the best service </em>dengan fasilitas <em>free wifi</em>. Stategi yang bagus dengan memanfaatkan<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a>.</p>
<p>Seperti halnya dengan Rois Abidin, seorang desainer grafis muda yang seringkali menjuarai kompetisi desain ini mengatakan, “Peran<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet </a>sangat besar dan vital bagi pembangunan &#8216;intelektual&#8217; dan kepekaan estetis seorang desainer, dunia desain adalah dunia yng dinamis, terus bergerak dan selalu melahirkan tren baru setiap waktu. Mau tidak mau kita sebagai desainer harus mengikutinya, setidaknya itu sebagai pengetahuan saja, dan kemudian kita mengolahnya dengan desain yang sesuai dengan karakter kita masing-masing. Dan semua referensi-referensi tersebut (jurnal desain, <em>website</em> inspiratif, <em>online magazine,</em> dll) salah satunya diperoleh dari dunia<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> itu sendiri.” Cowok kelahiran kota Blitar-Jawa Timur ini pernah menjadi  ; <em>First Winner</em> CAMS AWARD 2009, Jakarta ; Juara 1 <em>Rextreme Idea &amp; Concept Design Competition</em>, Jakarta ; <em>Double First Place / Winners Djarum Black Innovation Awards</em>; dan masih banyak kompetisi desain yang dijuarainya. “Dari berbagai kompetisi yang saya ikuti lebih dari 70% informasi saya peroleh dari<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a>. Dari lomba di <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> kalau ditotal nominalkan ada lebih dari 100 juta saya dapat.”</p>
<p>Sedangkan penuturan Hadi Wibowo, cowok muda yang bekerja di Badan Pusat Statistik ini mengaku<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya dalam pekerjaannya yang bergerak di bidang IT. “IT akan terus selalu mencoba memberikan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi keinginan-keinginan dan kebutuhan manusia, membuat setiap hal yang sulit (bahkan dirasa tidak mungkin) menjadi mudah. Dan saya, walau pun hanya sedikit, ingin menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang selalu mengembangkan IT yang bermanfaat itu,” tuturnya dengan ramah. Kehebatannya pun dibuktikan dengan memenangkan juara 1 disebuah ajang karya cipta kreativitas dan inovasi teknologi komunikasi dan informasi INAICTA 2009 yang lalu untuk kategori <em>Research and Development</em> bersama tim Zaitun Timeseries. “<a href="http://telkomspeedy.com/">Internet</a> menjadi alat penyedia informasi yang lengkap untuk menjawab setiap kendala yang muncul selama beraktifitas. Mungkin saya sudah punya ketergantungan dengan<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a>. Walaupun masih bisa hidup, tapi akan terasa sangat sulit hidup tanpanya,” tambahnya.</p>
<p>Seperti hukum alam, ada kebaikan, ada pula kejahatan. Ada putih, ada hitam. Ada virus, ada antivirus. Sehat dan tidak sehat sebenarnya tergantung dari perspektif mana seseorang itu melihat. Katakanlah sebuah pisau, pisau akan baik dan berguna jika dipakai memasak, menyembelih hewan qurban, pisau akan buruk dan jelek bila digunakan membunuh orang, nah contohnya seperti itu. Memang semua bergantung dengan sang pengguna. Dua orang siswa sama-sama duduk di bangku kelas 3 SMP. Mereka berdua pergi ke warnet yang sama dan di waktu yang sama pula. Siswa satu mencari bahan artikel buat tugas sekolah, siswa satunya mengunduh video porno. Contoh kecil yang mungkin sering terjadi di lingkungan sekitar kita. “Seperti di warnet tempat saya bekerja”, kata Ecko Prasetyo, mahasiswa UNIKOM Bandung yang bekerja part time di sebuah warnet dekat kampusnya, “untuk situs-situs porno itu sudah diblokir, tapi sistem keamanan masih saja bisa dijebol kejahatan dunia maya.”</p>
<p>Kasus seperti tidak bisa menyalahkan posisi<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a>, semua dikembalikan kepada diri kita sendiri sebagai pengguna <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> yang baik. Peran orang tua dalam mengontrol anak-anaknya sangat penting, tentunya diimbangi dengan kesadaran diri untuk tidak nakal dan tidak melakukan tindakan bodoh. “Menurut pengalaman saya selama menjadi operator warnet, banyak sekali hal positif yang saya temui dibanding negatifnya,” kata Ecko, “salah satunya dalam pencarian bahan untuk menyelesaikan suatu tugas perkuliahan, terus pencarian tentang lowongan pekerjaan, berbagai macam informasi yang kita inginkan dan kalau kita ingin mendapatkan suatu <em>software </em>secara gratis dengan internet kita bisa <em>download software </em>tersebut.”</p>
<p>Jadi peran <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> tergantung moralitas dan intelektualitas seseorang untuk menggunakannya dengan bijak. Dan <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> yang sehat adalah <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> yang bisa membuat &#8216;<em>value</em>&#8216; seseorang menjadi lebih dengan mengunakannya secara bijak dan positf. Orang mengatakan negatif karena belum mengenal lebih jauh dan mendalaminya secara baik dan hanya tau luarnya saja dan orang yang beranggapan seperti inilah yang seharusnya perlu dididik dan diluruskan pemikirannya. Bahwa <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> bisa membuat orang hebat, berkarya, dan berprestasi dibidang masing-masing dalam lingkup positif.  Ketika kita menggunakan <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> pastikan kita punya target positif. Untuk apa kita menggunakan<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> ini, kemudian kita tanamkan dalam diri kita sikap timbal balik positif, artinya kita menggunakan <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> maka kita harus memberikan sesuatu yang baik atau kontribusi positif bagi<a href="http://telkomspeedy.com/"> internet</a> itu sendiri, bagi diri sendiri, dan masyarakat. Dengan demikian apa yang kita dapatkan di <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> akan bermanfaat juga bagi orang lain. ***</p>
<div id="_mcePaste" class="mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;overflow:hidden;">
<pre>&lt;!--tag lomba code--&gt;
&lt;a href="http://bandungblogvaganza.blogdetik.com/?page_id=73" target="_blank" title="festival blog"&gt;
&lt;img src="http://o.detik.com/images/blog/festivalblog.gif" width="150" height="200" /&gt;
&lt;/a&gt;</pre>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/festival-blog-2010/'>Festival BLOG 2010</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/767/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=767&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/11/17/kehebatan-peran-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menemukan Karakter</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/07/07/menemukan-karakter/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/07/07/menemukan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 01:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[AKU MENYEBUT DIA “nama”, ya… orang-orang memanggilnya “nama”. Dan aku memang belum tahu siapa namanya… Berawal dengan obrolan yang tidak sengaja, tanpa perencanaan yang matang untuk bertemu dan aku langsung bilang “iya”. Kemudian dua pandangan beradu dalam sebuah tempat makan, dan aku mencoba membaca gerak matanya… Setiap orang mempunyai karakter yang berbeda. Dan aku termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=764&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>AKU MENYEBUT DIA</strong> “nama”, ya… orang-orang memanggilnya “nama”. Dan aku memang belum tahu siapa namanya…</p>
<p>Berawal dengan obrolan yang tidak sengaja, tanpa perencanaan yang matang untuk bertemu dan aku langsung bilang “iya”. Kemudian dua pandangan beradu dalam sebuah tempat makan, dan aku mencoba membaca gerak matanya…</p>
<p>Setiap orang mempunyai karakter yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang menghargai perbedaan. Bukankah pelangi itu indah karena ada perbedaan warna? Termasuk bunga yang bermekaran di halaman rumah dengan berbagai warna dan jenis, juga perbedaan watak bapak yang bertolak belakang dengan sifat ibu. Aaku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala jika melihat ibu sedang ngomel-ngomel marah,  bapak meredakan amarahnya dengan tidur ngorok di kamar belakang, hahaha&#8230;  Itu hanya dalam skala keluarga.</p>
<p>Mari kita berjalan keluar menjauh dari rumah kita…  Dan, sekarang aku berada di Jakarta. Ibu kota yang katanya angkuh dan memiliki kantong ajaib bak doraemon. Semua serba ada… termasuk impianku, ada di “kantong ajaib” itu… hihihi….</p>
<p>Dan selama di Jakarta, aku menemukan berbagai karakter dari orang-orang yang pernah aku temui…<span id="more-764"></span></p>
<p>Salah satunya adalah seseorang bernama “nama”. Sosok sederhana ini ternyata mempunyai karakter yang menarik. Aku bisa membaca gerak tubuhnya, pemilihan diksi saat dia berbicara dan gerakan matanya. Ingat, mata adalah jendela hati… Deddy Cobuzer dalam bukunya yang berjudul Mantra membahas bahwa kejujuran dan kebohongan seseorang bisa dilihat dari gerakan mata. <em>Wow, it’s great!</em></p>
<p><strong>Karakter pertama</strong>, “nama” mempunyai <strong>type Buah cenderung Daun</strong>. Apa artinya sih? Ibarat pohon, ada bagian batang, bagian daun dan bagian buah. Type seseorang bisa dipecah berdasarkan karakter bagian pohon ini. Aku belajar hal ini dari training <em>Social Entrepreneurship Basic</em> beberapa bulan yang lalu di Jakarta. Bagian batang disebut juga sebagai pemikir. Orang-orang yang memiliki karakter type batang, dia cenderung kaku, lebih berkembang otak kiri, dan dalam organisasi dia menduduki sebagai penggagas ide. Bagian buah adalah bagian yang sangat menarik. Ibarat buah yang matang, segar dan berwarna, semua orang akan langsung menyukainya saat bertama kali bertemu. Karakter ini memiliki daya tarik tersendiri, pembawaan yang santai, menyenangkan dan memiliki interaksi yang baik dengan orang lain. Sedangkan daun, karakternya meneduhkan dan jika tertiup angin si daun akan gemerisik. Nah, orang yang memiliki karakter ini dia bisa melakukan hal-hal diluar apa yang kita bayangkan. Dia bisa nekad jika memiliki tekad, dan dia bisa bertahan mesti masalah meniupnya dengan kencang. Dan “nama” memiliki type buah yang menawan setiap orang, tapi lebih cenderung ke type daun karena hal-hal yang dilakukannya kadang diluar kemampuannya sendiri.</p>
<p><strong>Karakter kedua</strong>, <strong>dewasa</strong>. Kata dewasa memang terlalu luas jika didefinisikan. Banyak orang menganggap kedewasaan dinilai dari jumlah umur. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Kalau ada yang pernah membaca novel karya Tere Liye berjudul Hafalan Shalat Delisa, maka kedewasaan telah di temukan pada sosok Delisa yang masih berumur 6 tahun. (Novel ini aku rekomendasikan buat kamu deh, hehe…). Sedangkan “nama” mempunyai kedewasaan yang berjalan sesuai dengan umurnya. Salah satu cirinya adalah tidak mau merepotkan orang lain. Tentunya tidak hanya itu, aku bisa membayangkan setiap kata yang mengalir dari ceritanya. Seperti berusaha untuk memahami orang lain, mengalah dengan si egois demi menjaga hubungan baik dan bisa menjadi pendengar yang baik pula. Berlebihan ya? Kurasa tidak, orang-orang dewasa memiliki sikap-sikap itu.</p>
<p><strong>Karakter ketiga</strong>, <strong>pekerja keras</strong>. Bagaimana aku bisa menyimpulkan dengan begitu cepat dan mengatakan bahwa “nama” termasuk type pekerja keras? Aku pernah bekerja di swasta selama 2 tahun dan tidak mengenal kata <em>weekend</em> atau istilah malam mingguan yang katanya malam yang lebih panjang dari malam-malam lainnya. Hahaha…<em>every day is working</em>. Hal yang sama berada di lingkungan kerja “nama”. Selain itu, aku bisa memcium aroma lelah yang terpudarkan dengan semangat bekerja dan sesekali tawa lepasnya. Aku suka karakter ini…</p>
<p><strong>Karakter keempat</strong>, <strong><em>principal</em></strong>. Aku mengenal karakter prinsip ini setelah nonton film besutan Rudi Soedjarwo, Ada Apa Dengan Cinta. Dalam dialognya dengan Cinta, Rangga menyebutkan kata <em>principal</em> atau berprinsip. Kurasa “nama” termasuk dalam type orang yang mempunyai prinsip. Contoh kecilnya adalah, “sebentar ya sebentar”, “tidak mau diantar ya tidak mau diantar”, “tidak mampir ya tidak mampir”, “belum bisa menerima ya belum bisa menerima”, dan “kalau udah sayang ya sayang, sulit melupakan.”  Karakter ini bisa dibilang orangnya agak keras kepala, hahaha… tapi justru karakter ini bagus, tidak mudah goyah dengan lingkungan yang terus menekannya kedalam. Dan dia ibarat elang yang ingin terbang tinggi untuk bergerak bebas.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan karakter kita ataupun karakter orang-orang disekeliling kita? Cobalah untuk memahaminya, jangan pernah tertipu dengan penampilan fisik. Kekuatan karakter bisa mengalahkan kecantikan paras wajah. Mari kita membangun karakter untuk menemukan jati diri kita.</p>
<p><em>Special thanks to “nama” for the inspiration, success for you.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/764/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=764&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/07/07/menemukan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shrek Forever After : Satu Hari yang Menentukan</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/31/shrek-forever-after-satu-hari-yang-menentukan/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/31/shrek-forever-after-satu-hari-yang-menentukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 03:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=758</guid>
		<description><![CDATA[Awal long weekend, kamis malam kemarin aku memutuskan untuk pulang tepat waktu jam kerja – 16.30 tet. Nonton film bareng bersama teman-teman seangkatan adalah pilihan yang manis untuk mengawali liburan tiga hari. Film Prince of  Persia yang diangkat dari game ini sudah menari-nari dalam imajinasiku. Tapi sebelum aku duduk di kursi merah bioskop, ada dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=758&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/shrek_forever_after_poster.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-760" title="shrek_forever_after_poster" src="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/shrek_forever_after_poster.jpg?w=190&#038;h=300" alt="" width="190" height="300" /></a>Awal<em> long weekend</em>, kamis malam kemarin aku memutuskan untuk pulang tepat waktu jam kerja – 16.30 tet. Nonton film bareng bersama teman-teman seangkatan adalah pilihan yang manis untuk mengawali liburan tiga hari. Film Prince of  Persia yang diangkat dari game ini sudah menari-nari dalam imajinasiku. Tapi sebelum aku duduk di kursi merah bioskop, ada dua kekecewaan. Pertama, kenapa di Djakarta Teater tidak ada parkir motor? Hohoho&#8230;. ini diskriminasi, aku protes. Apa karena ini bioskop khusus yang mempunyai roda empat? Tahu begini, aku akan mengajak keponakanku yang masih berumur 2 tahun dengan membawa sepeda roda empatnya. Dan parkir motor liar yang dibatasi sampai jam sepuluh malam dengan aturan tidak boleh dikunci ganda, akan membuatku tidak tenang meninggalkan motorku sendirian disana. Aku tidak tega, khawatir jika ada yang menculiknya. Kata orang, Jakarta ini kejam (mereka melihat Jakarta dalam dimensi sinetron) makanya jangan sampai sembrono di kota besar ini. Kedua, tiket untuk film Prince of Persia <em>sold out</em>. Huhuhu&#8230;terpaksa kami menggantinya dengan film Shrek Forever After. Daripada pulang bengong di kost, <em>I think this movie is not too bad.</em></p>
<p>Ternyata eh ternyata, film Shrek Forever After sangat mengagumkan&#8230; Aku hanya bisa berkata ‘wow!’</p>
<p>Setelah semua petualangannya, Shrek (Mike Myers) telah menjadi raksasa berkeluarga dengan tiga anak. Bosan dengan kehidupan sehari-harinya, Shrek ingin menjadi raksasa yang ditakuti penduduk desa. Dan perjanjian sebuah kontrak dengan Rumpelstiltskin (Walt Dohrn) telah disepakati. Namun, setelah penandatanganan kontrak, Shrek baru sadar bahwa ia dijebak.<span id="more-758"></span></p>
<p>Shrek menemukan keadaan sebaliknya di Far Far Away, dimana Rumpelstiltskin adalah raja, Shrek adalah buronan raksasa, Donkey (Eddy Murphy) tidak mengenali Shrek, begitu juga Gingy (Conrad Vernon) si petarung kue jahe dan si Puss (Antonio Banderas) dengan tubuh gemuk menggemaskan dan malas. Serta Fionna (Cameron Diaz) adalah buronan raksasa pemimpin sekumpulan ogre yang tidak mengenali Shrek.</p>
<p>Shrek pun tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Kebahagiaan bersama orang-orang yang mencintainya selama ini, dihancurkannya begitu saja demi sebuah ego. Tapi jika Shrek dapat mewujudkan “Ciuman Cinta Sejati” kepada Fiona sebelum matahari terbit, kontrak tersebut batal dan semua akan kembali seperti semula.Apakah Shrek berhasil menyelamatkan hari tersebut sebelum ia kehilangan semuanya?</p>
<p>Tenang, aku tidak akan menulis ending cerita ini, karena kalian harus menyaksikan sendiri petuangan seru menegangkan sekaligus mengundang tawa. Film produksi Dreamworks Animation ini tak lepas dari pesan penuh hikmah. Kadang kita mengalami seperti apa yang dirasakan Shrek. Seringkali kita lupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki, keberadaan keluarga dan orang-orang yang mencintai kita seakan tak berarti apa-apa. Dan kita baru menyadarinya setelah kehilangan semuanya. Dan perjanjian Shrek dengan Rumpelstiltskin membuktikan apa yang kita lakukan hari ini sangat berpengaruh dengan apa yang terjadi hari esok dan apa yang telah terjadi hari ini ditentukan oleh satu hari jauh sebelumnya, tanpa kita sadari&#8230;</p>
<p>(<em>Jakarta, 31 Mei 2010 – Saat tanggal tua krisis duit dan jaringan internet kantor mati. Huft&#8230;</em>)</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-film/'>Cerita Film</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/758/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=758&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/31/shrek-forever-after-satu-hari-yang-menentukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/shrek_forever_after_poster.jpg?w=190" medium="image">
			<media:title type="html">shrek_forever_after_poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awas Tilang!</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/25/awas-tilang/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/25/awas-tilang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 03:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua niat baik yang akan kita lakukan dalam proses perjalanannya akan baik-baik pula, bahkan ada batu-batu sandungan yang justru membuat kita apes. Huhuhu&#8230;sedihnya. Niat pertama adalah ingin ikut kajian YISC (Youth Islamic Study Center) di masjid Al-Azhar pada hari Minggu siang – beberapa minggu yang lalu. Aku pun mengajak seorang teman dan menjemputnya di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=742&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak semua niat baik yang akan kita lakukan dalam proses perjalanannya akan baik-baik pula, bahkan ada batu-batu sandungan yang justru membuat kita apes. Huhuhu&#8230;sedihnya. Niat pertama adalah ingin ikut kajian YISC (Youth Islamic Study Center) di masjid Al-Azhar pada hari Minggu siang – beberapa minggu yang lalu. Aku pun mengajak seorang teman dan menjemputnya di daerah Radio Dalam. Karena untuk bisa mengajak seseorang untuk mau ngaji itu cukup susah, beda kalau ngajak teman nonton konsernya Ungu&#8230;. (mau mau mau, ada Pasha sih, hihihi&#8230;.)</p>
<p>Saat melewati putaran balik dekat Plasa Semanggi, tiba-tiba saja ada polisi yang mengikuti motor Thunder Blue-ku. Karena aku selalu berpikiran positif, maka ada tiga dugaanku; yang pertama polisi itu ingin melindungiku , yang kedua bisa jadi polisi itu naksir <a href="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/tilang21.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-749" title="tilang2" src="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/tilang21.jpg?w=260&#038;h=243" alt="" width="260" height="243" /></a>padaku dan ingin mengikutiku, duh&#8230; yang ini bisa gawat! Dan dugaan yang ketiga, mungkin polisi itu juga searah denganku yaitu ikut ngaji di Al-Azhar, hohoho&#8230;.</p>
<p>Dan polisi itu pun menghentikanku. OMG, perasaanku kok jadi nggak enak ya? Deg-degan tidak karuan gini. Temanku berkata pelan padaku, “Kita kena tilang karena salah jalur.” Aku hanya bisa meringis pada polisi itu. Setelah sedikit berdialog akhirnya aku mengakui dengan terpaksa bahwa aku memang melanggar peraturan lalu lintas yaitu salah masuk jalur cepat untuk roda empat. Hahaha&#8230;baru sadar kalau aku sedang naik motor (biasanya juga naik motor gak pernah naik mobil ^_^ ) Dan sebuah pilihan mudah dihadapkan padaku, damai atau ditilang? Dengan sedikit berbasa-basi aku rundingan dengan temanku, dan basa-basi pula polisi itu menulis surat tilang dengan gerakan slow motion sambil menungguku mengatakan “damai saja Pak!”</p>
<p>Inilah budaya ‘suap’ yang sudah menjadi rahasia umum seluruh warna negara Indonesia, bahwa jalur damai adalah pilihan yang tepat. Uang dua puluh ribu yang masuk kantong polisi cukup efisien daripada harus antri sidang di pengadilan negeri. Dan kali ini aku memilih itu&#8230; (padahal kemarin baru saja aku ikut kompetisi desain poster dengan tema Anti Korupsi dan Anti Suap, apa kata dunia? )</p>
<p>Niat baik kedua adalah menjemput seorang teman di daerah Tosari yang berencana nginap di kostku. Sebenarnya temanku tidak ingin aku menjemputnya dengan alasan klasik, takut merepotkan. Tapi aku tahu, temanku akan lebih senang jika aku menjemputnya dan memperbolehkan dia nginap semalam di kostku daripada harus memaksakan diri pulang ke Bogor. Mengingat di stasiun kereta Manggarai sudah tidak ada kereta ke Bogor karena sudah hampir pukul 12 malam (yang ada juga Kereta Hantu Manggarai, hihihi&#8230;. serem kan?)<span id="more-742"></span></p>
<p>TKP (Tempat Kejadian &#8216;Petaka&#8217;) yang kedua adalah saat melewati di Bundaran HI, tanpa sengaja, ya memang tanpa sengaja aku menerobos lampu merah. Bayangkan aja sudah hampir jam 12 malam, keadaan jalan pun sudah mulai lengang, bagiku tidak menjadi persoalan jika sekali-kali melanggarnya&#8230; (hahaha&#8230;.sekali-kali gimana, kemarin masuk jalur cepat, kemarin lagi lewat jalur bus way, kemarin-kemarin lagi gak pake helm, kemarinnya lagi masuk jalur tol, kemarin kemarinnya lagi&#8230;. bla bla bla&#8230;tak terhitung dosa-dosanya bagai butiran debu&#8230;. parah!!!)</p>
<p>Dan polisi lagi-lagi mengikutiku&#8230; Duh, polisi Jakarta ini kok pada seneng sama aku ya? Padahal tampangku juga gak cakep-cakep amat&#8230; (masih cakepan Si Amat, tetanggaku di kampung) Setelah polisi menghentikan motorku, aku merubah ekspresi mukaku seketika untuk menarik simpati polisi agar melepasku saja&#8230;</p>
<p>Percuma, aku tetap ditilang. Kali ini aku tidak bisa memilih jalur damai, mana tanggal tua, uang tinggal lima puluh ribu. Apes deh! Daripada uangku satu-satunya melayang di kantong polisi, lebih baik sidang di pengadilan negeri tanggal 4 Juni nanti (aromanya masih tanggal muda, lumayan berduit hahaha&#8230; ) Itung-itung nambah pengalaman bagaimana rasanya sidang, haruskah menyewa pengacara untuk kasusku ini&#8230; &gt;_&lt; Dan SIM C-ku kini tertahan&#8230;</p>
<p>Esoknya aku cerita ke temanku yang polwan, berharap polisi yang semalam menilangku adalah pacarnya&#8230; (karena temanku bilang kalau cowoknya itu polisi lantas yang beroperasi di Jakarta Pusat) Tapi harapan tinggal harapan, temanku yang polwan mengatakan bahwa aturan sekarang udah beda, dulu masih bisa nitip diambilkan sekarang sudah gak bisa lagi. Lalu dia bertanya padaku, &#8220;kamu terima slip warna merah atau biru?&#8221; Aku jawab dengan tegas, &#8220;slipnya warna pink.&#8221; (emang iya warnanya merah muda alias pink kok) Temanku malah ngakak bukannya bantuin juga&#8230; Tapi dia memberikanku tips dan informasi tentang perbedaan slip warna biru dan merah. Jika ditilang, sebaiknya kita mengakui kesalahan kita, dan minta slip biru. Jika kita sudah menerima slip tilang warna biru, kita tidak perlu sidang di pengadilan negeri dan cukup transfer ke BRI. Pada slip itu harus tertulis nominal yang harus di bayar dan tempat bank BRI tempat kita transfer. Dan uang yang kita transfer langsung masuk ke kas negara, bukan kantong polisi. Tapi jangan heran, tidak semua polisi mau memberi slip warna biru ini. Ih, curang ya? Ya iyalah secara gitu, kantong polisi gak terisi&#8230; Jika kita dikasih slip merah, berarti kita menyangkal polisi atau tidak mengakui kesalahan. Dan itu harus melalui proses sidang di pengadilan negeri&#8230;</p>
<p>Dan aku pun hanya mampu mengamati slip warna merah (aku suka menyebutnya warna pink) yang aku terima&#8230; dan menunggu hari sidang itu datang&#8230; Pengacara&#8230; Help me please&#8230; T_T</p>
<p>(Malam minggu yang kelabu, 22 Mei 2010)</p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pengalaman/'>Cerita Pengalaman</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/742/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=742&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/05/25/awas-tilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com/2010/05/tilang21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tilang2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Mbok Simah</title>
		<link>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/04/15/kisah-mbok-simah-2/</link>
		<comments>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/04/15/kisah-mbok-simah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 08:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/04/15/kisah-mbok-simah-2/</guid>
		<description><![CDATA[Jalan mulai sepi. Sudah jarang orang yang berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam. Beberapa toko masih ditemani sinar lampu neon. Memancarkan barang dagangannya yang melambai-lambai menciptakan nuansa ramai. Percuma, tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=739&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>Jalan mulai sepi</strong>. Sudah jarang orang yang  berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam  menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan  wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi  awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam.</p>
<p>Beberapa toko masih ditemani sinar lampu  neon. Memancarkan barang dagangannya yang melambai-lambai menciptakan  nuansa ramai. Percuma, tidak ada yang mendengar. Toko tetap sepi. Tapi para karyawan masih setia  menanti pembeli yang kedatangannya belum pasti. Mereka berdiri dengan  kehampaan. Bosan. Mereka pun duduk. Lalu berdiri lagi. Mondar-mandir.  Hingga akhirnya, tepat pukul sepuluh malam, mereka memutuskan untuk  tutup toko.</p>
<p>Lampu-lampu toko telah padam. Melengkapi kesepian malam. Kota ini seperti mati. Ah, malam  resah. Malam tidak ingin mati kecuali matahari saja yang boleh  membunuhnya. Malam pun mencari teman. Perempatan kemuning dekat  alun-alun kota. Di emperan toko, pojok sebelah barat jalan, malam  menemukan tempat beradu. Ada cahaya kehidupan. Bukan kehidupan malam  yang dipenuhi gairah haram, melainkan malam yang akan memberikan  pelajaran tentang makna kehidupan.</p>
<p>Seorang perempuan tua duduk bersimpuh. Rambutnya yang memutih terikat  rapi. Kebaya yang dikenakannya terlihat sedikit lusuh. Tapi jaritnya,  warna coklat tua bermotif batik, cukup bersih. Di depannya ada nyala  redup lampu minyak tanah, tungku kecil, kipas bambu berbentuk persegi  dan beberapa jagung muda yang sudah dikupas. Perempuan tua itu bernama  Mbok Simah. Baru kemarin, Mbok Simah menjalani pekerjaannya, menjual  jagung bakar. Bagi Mbok Simah, pekerjaan ini adalah pilihan terbaik  daripada berdiam diri sebagai orang yang terbuang di panti jompo. Bahkan  Mbok Simah harus melakukan perang gerilya melawan penjaga gerbang agar  bisa keluar dari tempat pembuangan. Bagi  Mbok Simah, panti jompo adalah tempat penyiksaan batin. Karena Aji,  anak kandung Mbok Simah sendiri yang mengirimnya ke sana.</p>
<p>“Mbok lebih baik tinggal di panti jompo. Di sana lebih terurus.  Saya kan sudah berumah tangga  Mbok, mana sempat kalau terlalu sering bolak-balik dari kota ke sini  hanya untuk menemui Mbok,”  keluh Aji.<span id="more-739"></span></p>
<p>Mbok Simah menatap anak sulungnya dengan kecewa. Tapi Mbok Simah  menyunggingkan senyum. “Mbok kangen sama kamu Le. Mbok juga ingin  bertanya tentang kabar. Kabar kamu, kabar istrimu dan kabar keberadaan  adikmu, Sutri.”</p>
<p>Aji mendongakkan kepalanya. Keadaannya sekarang jauh lebih baik. Aji  tidak lagi seperti dulu. Istrinya, Sinta, anak konglomerat dari  keturunan orang ningrat, menyelamatkan dirinya dari badai melarat. Entah apa yang membuat Sinta  terbius, padahal Aji hanya mengenal bangku SMP. Mungkin karena Aji  berparas tampan. Sampai-sampai Sinta nekat mengiris pergelangan  tangannya untuk mengancam kedua orang tuanya agar memberikan restu yang  telah berlanjut di pelaminan. Sedang Aji sendiri tidak pernah membiarkan  Sinta mengetahui keadaan mboknya. Aji takut Sinta akan meninggalkannya,  takut kekayaan Sinta akan membawanya kembali ke bawah. Juga tentang  kelahiran Pratama Diningrat setahun yang lalu. Alangkah bahagia hati  Mbok Simah jika mengetahui ada jabang bayi laki-laki yang memanggilnya  nenek. Sebuah kisah klasik Malin Kundang telah berjaya dengan berbagai  versi.</p>
<p>“Kabar saya dan Sinta baik-baik saja Mbok,” kata Aji.</p>
<p>“Lalu keberadaan Sutri? Mbok takut kalau terjadi apa-apa dengan  adikmu.”</p>
<p>Aji tidak menjawab. Dia tidak mempunyai jawaban rekayasa lagi yang  sering diucapkannya. Sudah seminggu Sutri minggat. Sejak itulah Mbok  Simah terus-terusan menghubungi Aji untuk mencari Sutri ke kota.  Bagaimana bisa menemukan Sutri, Aji tidak pernah mencari adiknya.</p>
<p>“Kenapa kamu diam Le?”</p>
<p>“Sudahlah,” bentak Aji. “Mbok ini merepotkan saja. Sekarang Mbok  boleh berkemas. Bukankah Mbok ingin pergi ke kota? Besok pagi saya akan  menjemput Mbok dan mengantar Mbok ke panti jompo.”</p>
<p>Mbok Simah menghela nafas. Dielus-eluskan tangannya ke dada. Ingatan  itu terasa menyesakkan. Mbok Simah tidak mungkin bisa melupakan kedua  anaknya begitu saja, meskipun Aji dan Sutri telah meninggalkannya.  Perasaan Mbok Simah sakit. Hatinya menjerit. Anak adalah harta bagi  setiap orang tua. Pikiran mbok simah merembet pada suaminya yang sudah  meninggal semenjak kelahiran Sutri. Kini, gadis bungsu itu berusia dua  puluh tahun. Naluri seorang ibu, membawa Mbok Simah lebih memilih jualan  di emperan toko dekat alun-alun kota ini ketika menjelang malam. Mbok  Simah masih menangkap jelas ucapan Sutri sebelum dia minggat.</p>
<p>Malam tetap beradu. Diam. Malam menyibak kisah Mbok Simah.</p>
<p>Suara deru sepeda motor berhenti di samping Mbok Simah. Sosok  laki-laki muda berjaket hitam itu melepas helmetnya. Dia turun dari  motornya dan berjalan mendekati mbok Simah.</p>
<p>“Mbok jagung bakar satu ya?” ucap pemuda itu. Kedua tangannya saling  digosokkan. Mbok Simah memilah-milah jagung yang kiranya paling muda dan  diletakkan di atas tungku kecil. Tangan Mbok Simah mengayun-ayunkan  kipas bambu. Hembusan udara membangunkan api untuk segera melahap jagung  dengan kobarannya.</p>
<p>“Pulang kerja Nak?” tanya Mbok Simah.</p>
<p>“Iya Mbok.”</p>
<p>Mbok Simah menatap wajah pemuda itu. “Tidak perlu mengernyitkan  kening untuk menghadapi sebuah masalah. Nanti cepat tua seperti Mbok.”</p>
<p>Pemuda itu tersenyum. “Tiga hari lagi saya akan menikah Mbok.”</p>
<p>“Mbok senang mendengarnya. Tapi kenapa kamu malah resah?”</p>
<p>“Betapa bahagianya jika ibu saya bisa melihat anaknya bersanding di  pelaminan,” pemuda itu menarik nafas. “Ibu saya sudah meninggal.”</p>
<p>Mbok Simah trenyuh. Hatinya meluluh. Terharu. Dipandanginya lagi raut  wajah pemuda itu. Terbesit dalam ingatan Mbok Simah tentang Aji dan  istrinya, Sinta. Mbok Simah belum tahu wajah menantunya sendiri. Aji  tidak pernah mengenalkan Sinta pada mboknya. Mbok Simah bertanya-tanya,  apa dirinya terlalu hina karena terlahir sebagai orang melarat?</p>
<p>“Mbok tidak perlu datang ke pernikahan saya. Acaranya hanya dihadiri  orang-orang konglomerat. Saya tidak ingin mereka tahu kalau saya berasal  dari keluarga melarat. Apa Mbok ingin saya dihina banyak orang?” teriak  Aji pada mboknya.</p>
<p>Saat itu Mbok Simah baru saja membeli pakaian, setelan kebaya dan  jarit baru khusus dibelinya untuk menghadiri acara pernikahan anaknya dari pasar Melarat. Kekecewaan menampar Mbok Simah.</p>
<p>Air mata Mbok Simah menetes perlahan. Pemuda tadi salah tingkah.  Takut kalau ada ucapan yang menyinggung perasaan si Mbok.</p>
<p>“Maaf Mbok, kenapa Mbok menangis?”</p>
<p>Mbok Simah menggeleng. Buru-buru dihapus air mata yang sudah  membasahi kedua pipinya. “Ndak apa-apa. Mbok hanya teringat dengan  anak-anak Mbok.”</p>
<p>“Kenapa dengan anak-anak Mbok?”</p>
<p>“Mbok punya tiga anak,” mbok Simah mulai bercerita. “Yang pertama  laki-laki, dia sudah menikah dengan gadis kota. Yang kedua juga  laki-laki, tapi meninggal saat dilahirkan. Yang terakhir perempuan,  mungkin seumuran dengan kamu, Nak. Mbok sangat merindukan mereka semua.”</p>
<p>“Apa Mbok sudah lama tidak bertemu dengan mereka?”</p>
<p>Mbok Simah sengaja tidak menjawab. Tangannya masih mengayun  menebarkan aroma kehangatan malam. Kali ini pikirannya mengarah pada  sosok gadis, anak bungsunya, yang keberadaannya entah di mana. Setelah  kabur dari panti jompo, sepanjang hari Mbok Simah mencari Sutri ke  setiap toko dekat alun-alun kota. Malam harinya Mbok Simah sengaja  jualan di emperan toko berharap salah satu karyawan yang bekerja di  toko-toko itu adalah Sutri.</p>
<p>“Sutri ingin pergi ke Malaysia Mbok. Seperti Sari, Nipah dan Sri.  Mereka sukses Mbok,” rengek Sutri.</p>
<p>“Kamu kira pergi ke Malaysia itu tidak butuh uang? Bisa makan saja  sudah alhamdullilah, Nduk.”</p>
<p>“Justru itu Mbok,” Sutri berjalan mendekati mboknya yang sibuk di  dapur. “Sutri akan ikut Paklik Kardi ke kota. Kata orang-orang, di dekat  alun-alun kota banyak di bangun rumah toko dan membutuhkan banyak  karyawan. Suti akan bekerja di sana.”</p>
<p>“Ndak usah neko-neko, Nduk. Kamu itu perempuan, ndak baik pergi  jauh-jauh meninggalkan rumah. Di sini kamu kan sudah dapat kerja.  Menjahit baju di rumah Mbak Karyati, apa itu bukan pekerjaan?”</p>
<p>“Kapan kehidupan ini akan berubah kalau kita hanya menjalani nasib  saja.”</p>
<p>Tanpa sepengetahuan mbok Simah, menjelang subuh, Paklik Kardi  menjemput Sutri. Sutri sudah siap. Pakaiannya rapi dan tangannya  menjinjing tas besar. Sutri minggat.</p>
<p>“Mbok,” gugah pemuda itu.</p>
<p>Sekejab, Mbok Simah sudah kembali dari lamunan panjang. Jagung itu  dibolak-balik sebentar. Begitu jagungnya matang, Mbok Simah langsung  menyodorkannya pada pemuda itu.</p>
<p>“Siapa namamu Nak?”</p>
<p>“Arif,” jawabnya seraya melahap jagung yang ditunggunya dari tadi.  Sesekali meniup-niup jagung sekedar mengurangi panasnya.</p>
<p>“Kalau Mbok namanya siapa?”</p>
<p>“Panggil saja Mbok Simah.”</p>
<p>Pemuda itu mengangguk-angguk. “Mbok tinggal dimana?”</p>
<p>“Dimana-mana bisa.”</p>
<p>Mata pemuda itu mengisyaratkan tanda tanya.</p>
<p>“Jangan mengira kalau Mbok ndak punya rumah. Mbok punya rumah tapi di  desa.”</p>
<p>“Desa mana?”</p>
<p>“Desa melarat.”</p>
<p>“Calon istri saya juga dari desa, tapi saya belum tahu desa apa.  Besok pagi kami akan ke sana, menjemput calon mertua saya,” senyum  pemuda itu malu-malu. “Mbok tidak sekalian bareng saya ke desa?”</p>
<p>“Mbok belum ingin pulang. Mbok doakan, semoga kamu bahagia.”</p>
<p>“Suwun Mbok.”</p>
<p>Tatapan mata pemuda itu jernih. Menyinarkan ketulusan dan rasa  hormat. Didepannya ada secercah cahaya masa depan yang akan membawanya  ke dalam kebahagiaan. Sedang Mbok Simah hanya tersenyum sendiri  menyelami keragaman hidup yang dirasa semakin menggerogotinya.</p>
<p>Setelah menghabiskan jagungnya, pemuda itu mengambil pena dan sebuah  kertas dalam kemasan apik. Ditulisnya nama Mbok Simah pada kotak kecil  yang telah tertera.</p>
<p>“Undangan ini untuk Mbok.”</p>
<p>Mbok Simah terlihat linglung. Dia tidak segera mengambil undangannya.  “Undangan apa ini, Nak?”</p>
<p>“Ini undangan pernikahan saya. Saya harap Mbok sudi datang bukan  sebagai tamu, melainkan sebagai pengganti ibu saya. Saya merasa ada  suatu ikatan antara saya dengan Mbok.</p>
<p>Air mata Mbok Simah menetes seketika. Bibirnya gemetar, tidak kuat  menahan rasa haru. Diambilnya undangan itu. Kedua tangan Mbok Simah  memegangnya erat.<br />
“Kenapa bukan anak kandungku sendiri yang bisa melegakan hati ini,”  jerit Mbok Simah dalam hati.</p>
<p>“Datang ya Mbok. Rumah saya tidak jauh dari sini. Di undangan itu ada  alamat saya.”<br />
Mbok Simah mengangguk-angguk sambil terisak. Pemuda itu beranjak. Dia  mengambil selembar uang dan diselipkan ke tangan Mbok Simah.</p>
<p>“Jangan Nak,” tolak mbok Simah. “Jagung itu buat Nak Arif, ndak usah  bayar.”<br />
Pemuda itu tidak memedulikan teriakan mbok Simah. Dia segera menyalakan  motornya dan menghilang dalam gelap jalan. Mbok Simah tidak sempat  melakukan apa-apa, termasuk mengembalikan selembar uang lima puluh  ribuan.</p>
<p>“Maaf  Nak,” ucap mbok Simah lirih. “Mbok ndak bisa datang.”</p>
<p>Mbok Simah membolak-balik undangannya. Tangan kanannya memegang erat,  seperti membawa benda pecah belah yang tidak boleh jatuh. Mbok Simah  kembali duduk dan memandangi undangan itu. Mbok Simah mencoba mengeja  huruf-huruf yang tertata rapi. Sia-sia saja, Mbok Simah buta huruf.  Seandainya Mbok Simah tahu, huruf-huruf itu membentuk serangkaian kata  kunci jawaban tentang keberadaan anak bungsunya.</p>
<p>Telah menikah. Dua mempelai, Arif Budi Setiawan dan Sutri Melarat. *</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ceritalangitbiru.wordpress.com/category/cerita-pendek/'>Cerita Pendek</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritalangitbiru.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritalangitbiru.wordpress.com&amp;blog=6270146&amp;post=739&amp;subd=ceritalangitbiru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritalangitbiru.wordpress.com/2010/04/15/kisah-mbok-simah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Oki</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
