Arsip untuk Januari, 2009

Filosofi Angsa

Posted: 01/31/2009 in Cerita Hikmah

 

Sebuah renungan bagi kita semua :

Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”

Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi “V”.

 

Pelajaran Pertama

Fakta:

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.  

Hikmah:

Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka, dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain. 

(lebih…)

Iklan

 

Sosok lelaki dengan tubuh tinggi dan memiliki badan yang agak gendut itu masih menampakkan keceriaan wajahnya. Usianya bisa dibilang hampir mencapai separuh abad, tapi lelaki itu tidak pernah mengeluh karena usianya yang mulai menua. Mungkin karena senyumnya yang senantiasa merekah dan membuat orang-orang yang berinteraksi dengannya merasa senang, jiwa lelaki itu tak mau kalah dengan para pemuda. 

“Selamat siang Bu,” lelaki itu menyambut seorang perempuan muda berpakaian dinas kerja memasuki ruangan bank seraya membukakan pintu. Perempuan itu pun hanya membalas senyum datar tanpa berkata apa pun.

“Selama datang, Pak,” kali ini yang datang seorang pria yang mengenakan kemeja putih dengan dasi motif garis hitam-putih. Pintu pun terbuka dan pria berdasi itu acuh karena disibukkan dengan telepon genggamnya. 

Berdiri di dekat pintu, menyapa ramah dan membukakan pintu bagi nasabah yang keluar masuk bank. Ya, sudah dua tahun berjalan lelaki itu menyandang sebagai satpam di salah satu bank kota Jakarta. Lelaki itu terlihat gagah dengan seragam putihnya, di bagian sebelah kanan atas saku tercantum namanya dengan jenis huruf arial bold, Sutrisno.

“Pak Sutris,” rekan seprofesinya yang berjaga di pos parkir menghampiri. Dia jauh lebih muda dari Pak Sutris, umurya masih kepala tiga.

Pak Sutris menyambut rekan kerjanya yang sudah dianggap seperti anaknya itu dengan senyum khasnya. “Ada apa Nak Ahmad, kok memasang muka sedih begitu?”

Beberapa saat Ahmad terdiam. Beberapa kali dia menelan ludah, seakan-akan dia seperti menelan kembali kata-kata yang akan dilontarkan pada Pak Sutris.

Lagi-lagi Pak Sutris tersenyum melihat Ahmad, “Sudah, katakan saja pada Bapak.”

“Pak, saya mau pinjam uang lagi,” Ahmad berkata lirih, kemudian dia menundukkan kepalanya. “Saya minta maaf Pak, uang pinjaman minggu kemarin belum bisa saya kembalikan dan sekarang…”

Pak Sutris menepuk bahu Ahmad. Dipandangi lekat-lekat wajah pemuda itu. Pak Sutris pun tersenyum. Sungguh sulit bagi Pak Sutris untuk berkata tidak jika dimintai bantuan, apalagi keadaan Ahmad untuk saat ini memang sangat membutuhkan biaya untuk anak sulungnya yang terbaring di rumah sakit. (lebih…)

Emaaaak….!

Posted: 01/31/2009 in Cerita Pendek

Dengan kecepatan tinggi, sepeda motor dari arah utara menyambar seorang perempuan setengah baya yang tengah menyebrang.

“Aarrrggghhh…,” teriakan orang-orang yang melihat kejadian di depan stasiun itu terdengar mengerikan. 

Dari kejauhan di seberang jalan, Indah melihat kecelakaan itu. Perempuan setengah baya itu terseret sekitar satu meter. Sang pengendara tergeletak tak jauh dari sepeda motornya yang ambruk. Helm teropong menyelamatkan jiwanya – semoga. Tubuhnya bergerak-gerak. Menggeliat kesakitan.

Orang-orang berlarian untuk menolong. Beberapa di antara mereka berteriak minta bantuan pada siapa saja yang tergerak hatinya. Dan, hati Indah tergerak untuk menolong, tapi kakinya terpaku seperti patung. Kedua tangan Indah menutup mulutnya yang masih menganga. Dahinya berkerut. Ngeri. Seluruh tubuhnya seakan-akan terasa ikut sakit.

“Ayo tunjukkan keberanianmu untuk menolongnya, Indah. Apa kamu lupa, bahwa status kamu sekarang adalah mahasiswa Akademi Perawat? Dan apa seorang calon perawat tidak mampu memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan?” suara nurani Indah menggugahnya.

Sesaat Indah masih diam. Tapi akhirnya Indah berlari ke arah orang-orang yang sedang mengangkat tubuh perempuan itu ke tepi jalan. Kendaraan yang semula sudah memadati jalan depan stasiun itu, kini semakin ramai. Macet. Masalahnya banyak orang-orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian. Banyak juga kendaraan yang ikut berhenti sekedar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Indah menyebrangi jalan dengan sangat hati-hati. Dilaluinya kerumunan orang-orang yang malah antusias bercerita tentang runtutan peristiwa. Mereka menduga, mengira-ngira dan menyimpulkan sendiri. (lebih…)

Film Animasi 3D 2009

Posted: 01/24/2009 in Cerita Film

Astroboy_October, 2009 / Coraline_February, 2009 / Ice Age Dawn of the Dinosaurs_July, 2009 / The Tale of Despereaux_December, 2009 / Delgo_December, 2009 / Up_May, 2009 / Madagascar Eccape 2 Africa_November, 2008 / Monsters vs Aliens_March, 2009

            Dahiku berkerut saat dihadapkan pada beberapa lembar kertas berukuran folio. Aku menghitungnya. Delapan lembar berisi tentang organization profile lembaga dimana aku bekerja sekarang.

            “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu,” bapak direktur utama memulai kuliahnya*  yang diperkirakan lebih dari satu jam. Beliau menjelaskan dengan volume suara yang mantap. Senada dengan perawakannya yang tinggi besar. “Pantas sekali sebagai sosok pemimpin,” batinku. Apalagi jika sedang berjalan secara berdampingan diantara kami – para karyawan yang rata-rata memiliki postur tubuh kurus, orang awam pun sudah pasti tahu mana yang bos dan mana yang anak buah. Bagiku penampilan itu penting, tidak dapat dinafikkan kalau kita memang sering menilai seseorang dari penampilan luarnya. Seperti lontaran ini, “Eh, lihat. Lelaki itu selalu memakai celana diatas mata kaki, pasti dia orang islam radikal. Apalagi jenggotnya itu loh.” Atau berpikir semacam ini, “Badannya kok bisa gemuk gitu ya, pasti banyak makannya.”

            “Paham?” pertanyaan beliau membuyarkan pikiran yang sempat ngalor-ngidul.* Aku pun mengangguk pelan. Begitu juga rekan-rekan dari berbagai divisi.

            “Sekarang buka halaman tujuh. Inilah form goals setting, tahapan untuk mengetahui key performance indicator kalian,” beliau mengangkat lembaran yang berisi kotak-kotak kosong. “Saya kasih waktu tiga puluh menit untuk mengisinya.”

            Bukannya langsung menulis, tanganku mulai memainkan pulpen. Nah, ini adalah pertanda sedang berpikir serius. Volume otak lebih lebih besar dari keadaan normal, jarak kedua mata dekat dan jangan ada yang berani coba mengajak bercanda atau sekedar melontarkan lelucon. Satu menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Aduh, kenapa aku bingung? (lebih…)

 

Rumah Tumbuh

Rumah Tumbuh

            Alysa merasa tidak beruntung dilahirkan sebagai anak bungsu, posisinya itu sering dimanfaatkan kakak-kakaknya dan kedua ortunya untuk disuruh ini itu. Padahal Alysa bukan anak kecil lagi, dia sudah kelas dua SMA. Namun di sekolah, Alysa telah menunjukkan eksistensinya sebagai ketua redaksi MAC – Mading Anak Cendekiawan. Ambisinya untuk mengharumkan nama sekolah untuk menjadi juara pertama dalam lomba mading tahunan, membuat Alysa bekerja keras dan para anggota redaksi harus dikejar-kejar deadline. Akhirnya mereka memutuskan untuk merekrut anggota baru untuk meringankan tugas MAC. Dan, terpilihlah si kembar Ella-Elli dan seorang murid baru, Ghifary Ramdhan.

            Tidak disangka, Ghifa sang murid baru yang berasal dari kampung bisa menarik menarik perhatian Alysa karena cara berpikirnya yang cerdas. Latar belakang di antara keduanya yang berbeda membuat hubungan mereka saling dekat, namun di sisi lain latar belakang itu pula yang mengantarkan Alysa dan Ghifa menghadapi masalah-masalah baru. Saling keterkaitan konflik  yang muncul telah membentuk sebuah simpul yang tidak mereka mengerti. (lebih…)

Model : Rizky Andrianto / Fotografer : Oki Heryanto / Kamera : Digital Camera Sony  /  Editing : Adobe Photoshop CS 3

Diikutkan dalam Kontes Foto “Be Frutarian with Buavita” Periode 1 (Akhir Desember 2008). Memperebutkan  1 Apple MacBook White (untuk juara 1) dan paket Buavita (untuk 9 foto unggulan). Wow… siapa sih yang gak kepengen dapat Apple MacBook. Dan, alhamdulilah salah foto yang dikrim masuk dalam 9 Pemenang Foto Unggulan (sudah menjadi hak milik PT. Unilever dan berhak untuk menggunakannya untuk kegiatan promosi). Hmm… lumayan juga mendapatkan Paket Buavita. 

Tidak ada salahnya bermimpi dapat Apple MacBook. Walau seringkali harapan tidak berjalan dengan kenyataan, yang terpenting kita terus berusaha. Dan jangan pernah berhenti untuk bermimpi. “Mimpi itu memang harus tinggi. Mimpi itu harus diatas kemampuan kita. Dengan begitu, kita akan terus berjuang menggapai mimpi kita. Suatu saat nanti, yakinlah… mimpi kita akan menjadi kenyataan. InsyaALLAH.”

***