Arsip untuk Maret, 2009

Pejuang Kecil

Posted: 03/31/2009 in Cerita Foto

 

Pejuang Kecil

Pejuang Kecil

Fotografer : Oki Heryanto / Kamera : Sony DSC-W50 / Setting : Aksi Gerakan Islam di Depan Tugu Pahlawan Surabaya / Software : Adobe Photoshop CS3


Pejuang Kecil

Anak kecil itu menutup telinganya
Suara desingan peluru menghujani Gaza
Tubuhnya bergetar…
Anak kecil itu menutup matanya
Sosok laki-laki memasuki persembunyiannya
Mulutnya terbungkam…
Tembakan mengarah pada abi dan umi
Dua mayat tergeletak didepannya
Air mata sang anak mulai berontak…
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Anak kecil itu berlari mengejar pembunuh
Diambilnya batu besar
Terlempar segala amarahnya… 
YAHUDI PEMBUNUH!
Sang pembunuh membalikkan badannya
Dibidiknya anak kecil tanpa dosa
Ia pun tergeletak bersimbah darah…
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!

Bab I

Potret Langit Biru

 

            Gadis kecil itu menatapku dengan tajam. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada keberadaanku tanpa mengubah posisi duduknya. Dia terlihat nyaman dengan menyandarkan tubuh kecilnya di bawah pohon rindang. HIjau daunnya bergerak pelan mengikuti alunan semilir angin yang berhembus lembut. Aku yang berdiri sejauh lima meter dari anak kecil itu seakan ikut mengalun mengikuti gerakan angin. Matahari memancarkan sinar hangat. Cahayanya menerobos masuk melaui celah-celah ranting pohon yang begitu lebat. Kemilaunya memantul ke segala arah, salah satu pantulannya mengenai wajah anak kecil itu. Wajahnya seakan bersinar. Dan sorot mata hitamnya masih menatapku tajam. Setajam pisau yang telah menggores bagian dalam tubuhku. Luka itu masih menganga hingga sekarang. Tapi biarlah, semua orang pernah mengalah atau pun kalah, tapi tidak semua orang sadar akan rasa salah atas semua hasil perbuatannya. Entahlah, aku tahu salah tapi tidak seharusnya semua orang menyalahkanku. Dua tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk kita jalani. Putaram jutaan detik masih membuat ibu bungkam. Waktu akan membantuku menyelesaikan semuanya, namun siapa yang bisa memastikan kalau berjalannya waktu malah membuatku diriku terpojok dalam persimpangan konflik abstrak. Kecuali waktu berjalan mundur dan takdir Tuhan bsa dikompromikan. Mustahil. Lebih baik aku menertawai diriku sendiri.

            “Bapak!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak keras seraya tangan kanannya menunjuk ke atas. Kepalanya juga mendongak ke atas. Mataku berputar seketika. Tidak ada orang lain selain aku di sini. Lalu aku pun mendongak ke atas. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas. Melahirkan nuansa hati sedamai mata memandang. Ah, perasaan ini pernah kualami di masa-masa bunga berkembang dengan mahkota warna yang memesona. Keindahan visual itu menyerbak wangi mengundang kepakan sayap kupu-kupu bermain-main disekelilingku dan menghisap madu. Siapa yang bodoh jika ternyata kupu-kupu itu hanya mengenakan sayap palsu, dibalik topengnya dia masih ulat bulu yang menggelikan. Siapa yang bodoh jika semerbak wangi itu tidak lebih berasal dari parfum buatan yang dijual di pasaran dengan kadar alkohol tinggi. Kini aku bisa menjawab dengan tegas kalau semuanya bodoh. Sebaiknya aku segera menemukan pengganti kaca mata yang sempat membutakan pandangan hidupku bertahun-tahun. Aku lega kaca mata itu sudah pecah, walau dengan cara yang menyakitkan hingga luka sampai menganga.   (lebih…)

Love Actually

Posted: 03/30/2009 in Cerita Pengalaman

Love Actually

Love Actually

 

Cerita tentang Ibu 

Akankah kita membuat sang Bunda senantiasa tersenyum hingga diusia senjanya? Beliau adalah sosok pahlawan yang membuat kita bisa berdiri tegar seperti sekarang. Bisakah kita merawatnya kelak sebagai wujud balasan cinta?  Jawaban apa yang akan kita beri? Mungkin “ya” saat ini. Tetapi siapa tahu nanti karena kesibukan kita dalam bekerja, kita anggap mereka terlalu merepotkan. Apalagi kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Hanya ada satu keputusan, kita akan membawa sang bunda ke panti jompo. Beberapa bulan kemudian, kita dapat telepon dari panti jompo yang mengatakan, “Ibu Anda sudah  meninggal.” Akankah kita berbuat lebih kejam lagi untuk sang bunda?

 

22 Desember 2008

Kata orang, hari ini diperingati sebagai hari ibu. Mungkin ini salah wujud penghargaan yang  diberikan kepada seorang ibu atas segala jasa dan pengorbanannya. Menurutku memang pantas. Aku pun mengambil ponsel yang tergeletak di meja kamar kostku. Aku mulai merangkai kata-kata indah untuk ibu. Sebelum kutekan tombol send, kubaca ulang tulisanku tadi. Terlalu berlebihan, ibuku tidak akan paham kata-kata puitis seperti ini. Kutekan tombol edit, jemariku mulai mengetik. SMS terikirm. Beberapa menit kemudian, balasan pesan ibu kuterima. “Kok pake ucapan hari ibu segala, hari ibu itu seharusnya setiap hari. Oh ya, minggu depan kamu pulang?”  Aku tersenyum sendiri membaca pesan ibu. Aku jadi berpikir tentang pendapat ibu, memang benar kalau tidak cukup perhatian dan waktu kita untuk ibu tercinta hanya sehari saja.

 

26 Desember 2008

‘Besok kamu pulang?’ Itulah pesan yang selalu kuterima dari ibu setiap hari Jumat. Dari dulu seperti itu, tidak ada kata-kata lain yang lebih kreatif. Padahal ibu tahu, semenjak bekerja aku pulang ke kota Tulungagung di minggu pertama setiap awal bulan setelah gajian. Dengan begitu, aku bisa membawakan sedikit oleh-oleh untuk keluarga dari hasilku bekerja. Entah itu buah-buahan atau sekotak kue brownies, yang pasti aku tidak akan pulang ke rumah dengan tangan kosong. Walaupun ibu sering bilang padaku kalau tidak perlu membawa oleh-oleh karena itu pemborosan. Melihatku pulang dengan keadaan sehat saja ibu sudah senang. Waktu mendengar kata-kata ibu, hatiku trenyuh. Dan aku baru sadar akan makna pesan ibu yang super sangat singkat itu.

 

 4 Januari 2009

Minggu sore, saatnya aku balik ke Surabaya. Kucium tangan ibu saat berpamitan. Tanpa bicara, ibu masih berdiri di ambang pintu rumah mengantar kepergianku. Begitu sampai di terminal Tulungagung, bus tarif biasa jurusan Surabaya lewat Kertosono telah mengangkutku. Sekitar empat sampai lima jam perjalanan. Waktu yang cukup untuk memejamkan mata sejenak.  Tapi suara guyuran hujan membangunkanku. Bus berhenti di sebuah perempatan kota Kediri. Lampu pertanda merah. Dari balik kaca kulihat titik-titik air yang kian membesar berjatuhan dari atas langit, seorang ibu muda dengan perut berisi calon jabang bayi setengah berlari menerjang hujan. Tanpa payung. Dia pun segera masuk kedalam bus dalam keadaan setengah basah. Bola hitam matanya mencari tempat duduk kosong. Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tanganku. Seperti kode rahasia, perempuan itu pun langsung menempati bangku kosong disampingku. Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang sudah membendung dipikiranku untuk mengetahui perjalanan hidupnya, tapi aku menunggu waktu yang tepat. Hingga kulontarkan pertanyaan paling umum dan mendasar, “Turun mana Mbak?” (lebih…)

 

Sendiri Menyapa

Potret Diri

Editing : Oki Heryanto / Kamera : Sony DSC-W50 / Setting : Kapal Penyeberangan Surabaya-Madura / Software : Adobe Photoshop CS3

 

Seseorang yang Disampingku…

…terakhir dulu aku melihatmu pada pertemuan yang tidak disengaja

Bila sekejap itupun diartikan sebagai senyuman ruh,
keadaan semesta hati tentu akan lebih baik dari sekarang

Mengingat semua kebaikanmu pada jalan emosiku
Kemana hendak kau adukan kekecewaan dan rasa marah itu?

Sekali-kali kamu harus mencoba untuk mengerti Tuhan
Sebebas tak ada yang bertanya ketika seseorang ditakdirkan demikian

Kalimat-kalimat langit yang kamu terjemahkan dengan indah
Berhenti pada persimpangan keputusan-keputusan prinsip hidup

Maka…kerasilah aku!
Dengan demikian seluruh diriku akan berputar serius
Kemudian…tuturkanlah dengan perlahan…
Hingga aku mencatatnya tidak sia-sia dan untuk memastikan bahwa aku masih peduli

Kalaupun kamu harus meninggalkan atau aku yang pergi,
biarlah saat-saat itu menjadi bagian dari diri kita
Karena daya hidup ini akan terus berjalan
Dan, aku pun ingin tetap berada disampingmu…

Lomba Desain Header

Lomba Desain Header

Lomba Desain Header

Lomba Desain Header

 

Lomba Desain Header

Lomba Desain Header