Cerita Langit Biru : Bab 1

Posted: 03/30/2009 in Cerita Pendek

Bab I

Potret Langit Biru

 

            Gadis kecil itu menatapku dengan tajam. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada keberadaanku tanpa mengubah posisi duduknya. Dia terlihat nyaman dengan menyandarkan tubuh kecilnya di bawah pohon rindang. HIjau daunnya bergerak pelan mengikuti alunan semilir angin yang berhembus lembut. Aku yang berdiri sejauh lima meter dari anak kecil itu seakan ikut mengalun mengikuti gerakan angin. Matahari memancarkan sinar hangat. Cahayanya menerobos masuk melaui celah-celah ranting pohon yang begitu lebat. Kemilaunya memantul ke segala arah, salah satu pantulannya mengenai wajah anak kecil itu. Wajahnya seakan bersinar. Dan sorot mata hitamnya masih menatapku tajam. Setajam pisau yang telah menggores bagian dalam tubuhku. Luka itu masih menganga hingga sekarang. Tapi biarlah, semua orang pernah mengalah atau pun kalah, tapi tidak semua orang sadar akan rasa salah atas semua hasil perbuatannya. Entahlah, aku tahu salah tapi tidak seharusnya semua orang menyalahkanku. Dua tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk kita jalani. Putaram jutaan detik masih membuat ibu bungkam. Waktu akan membantuku menyelesaikan semuanya, namun siapa yang bisa memastikan kalau berjalannya waktu malah membuatku diriku terpojok dalam persimpangan konflik abstrak. Kecuali waktu berjalan mundur dan takdir Tuhan bsa dikompromikan. Mustahil. Lebih baik aku menertawai diriku sendiri.

            “Bapak!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak keras seraya tangan kanannya menunjuk ke atas. Kepalanya juga mendongak ke atas. Mataku berputar seketika. Tidak ada orang lain selain aku di sini. Lalu aku pun mendongak ke atas. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas. Melahirkan nuansa hati sedamai mata memandang. Ah, perasaan ini pernah kualami di masa-masa bunga berkembang dengan mahkota warna yang memesona. Keindahan visual itu menyerbak wangi mengundang kepakan sayap kupu-kupu bermain-main disekelilingku dan menghisap madu. Siapa yang bodoh jika ternyata kupu-kupu itu hanya mengenakan sayap palsu, dibalik topengnya dia masih ulat bulu yang menggelikan. Siapa yang bodoh jika semerbak wangi itu tidak lebih berasal dari parfum buatan yang dijual di pasaran dengan kadar alkohol tinggi. Kini aku bisa menjawab dengan tegas kalau semuanya bodoh. Sebaiknya aku segera menemukan pengganti kaca mata yang sempat membutakan pandangan hidupku bertahun-tahun. Aku lega kaca mata itu sudah pecah, walau dengan cara yang menyakitkan hingga luka sampai menganga.  

            Satu lembar daun jatuh. Berputar melayang di atasku, gerakannya perlahan menukik jatuh. Aku menangkapnya cepat. Memutarnya indah dengan jari-jariku. Daun menguning nan kering telah terjatuh oleh angin, tunas-tunas dedaunan mulai tumbuh di sepanjang ranting. Sang pohon sudah tidak memedulikan daun yang jatuh. Jika jatuh di halaman rumah, setiap sore ibu selalu menyapunya dengan sedikit menggerutu karena begitu banyaknya daun berserakan yang mengotori halaman rumah. Nasib daun-daun itu tinggal menunggu bapakku menyalakan korek api sampai sampah mulai menggunung di belakang rumah, jika tidak ibu akan sedikit mengomel.

Gadis kecil itu kembali mengamatiku. Aku mengembangkan senyum dan menunjukkan selembar daun kering yang kupegang. Tanpa merubah ekspresi, tangannya menunjuk ke langit. “Bapak,” katanya pelan. Kakiku bergerak mendekat. Lalu kurendahkan tubuhku hingga mata kami sejajar. Kuikuti arah bola matanya memandang ke atas langit.  Subhanallah. Kutemukan sudut pandang menarik dari potret langit di sini. Langit biru cerah seakan membelah ranting-ranting dari dua sisi pohon yang berlawanan. Pantulan mentari sore menyebar lembut hijau daun yang bertengger bangga di ujung ranting. Awan putih membentuk bulatan kecil, tepat dibawahnya awan lebih besar membentuk segitiga sembarang. Aku melihat lingkaran kecil dan segitiga itu menyatu. Aku baru sadar, ternyata awan putih itu menggambarkan bentuk manusia dengan pola sederhana. Aku mengamatinya cukup lama. Bau tanah basah tiba-tiba menyengat hidungku. Memori otak bergerak cepat membawaku ke usia sepuluh tahun. Bapak mengajakku ke sawah untuk memperlihatkanku cara mencangkul yang. Tapi aku malah menutup hidungku karena kucium bau tanah sehabis hujan yang bercampur bau keringat bapak. “Aku tidak ingin menjadi petani seperti Bapak,” kata-kata itulah yang akhirnya terlontar.

            “Bapak,” ucapku lirih. Gadis kecil itu langsung melirikku. Mungkin dia tidak suka jika aku ikut-ikutan menyebutkan kata bapak.

            “Dia Bapakku,” kata gadis kecil itu setengah berteriak. Aku menanggapinya dengan anggukan. Namun aku sendiri semakin tidak mengerti dengan gemuruh dada yang menggerola bagai ombak menyapu bibir pantai. Kusandarkan tubuhku pada pohon yang kekokohannya siap menampung keluh kesah. Mendengarkan jerit hati setiap insani tanpa mengenal protes. Rindang daunnya memberikan kesejukan tersendiri. Hingga membuatku sejenak memejamkan mata. Suara desir angin membisik lembut. Suara daun berjatuhan terdengar bergesekan dengan tanah. Decitan ranting-ranting pohon seperti bercengkerama dengan hembusan angin. Sesekali kicauan burung samar terdengar kemudian tiba-tiba mengeras. Dan suara langkah kaki kecil berlari menjauh. Saat kubuka mata, kesepian yang kutemukan.

***

            Aku masih terasa asing dalam sebuah desa kecil yang kukunjungi setiap liburan sekolah tiba. Begitu liburan usai, bu guru selalu memberikan tugas mengarang. Tidak ada yang berbeda dengan teman-teman sekelas, hampir semuanya memilih judul yang sama –          Liburan ke Rumah Nenek. Entah kenapa aku menuliskannya, padahal keadaan desa tempat tinggal nenek tidak jauh beda dengan desaku, sama-sama bergelut seputar petani, sawah dan hasil ladang. Semua terasa biasa saja. Yang membuatku meloncat kegirangan adalah naik kereta ekonomi Jogjakarta – Tulungagung. Ada banyak penjual asongan menawarkan berbagai aneka makanan dan mainan, ibu yang biasanya melototkan matanya jika aku merengek minta dibelikan makanan ini itu atau mainan ini dan mainan itu, dalam keramaian hiruk pikuk penumpang ibu enggan mengomel dan memilih menuruti kemauanku selama harganya terjangkau. Juga petikan gitar pengamen dengan suara apa adanya mengangkat tangan ibu untuk memberi isyarat penolakan. Para pengamen yang rata-rata masih muda itu pun berlalu mencari sasaran lain. Berbeda dengan aksi para pengemis yang bisa merogoh uang receh ibu hingga habis. Waktu itu pun aku bisa menilai sifat ibu yang  memiliki kepedulian tinggi terhadap orang-orang yang lebih membutuhkan. Saat tangannya melepaskan dua atau tiga uang keping seratus rupiah ke plastik bekas yang dibawa sang peminta, aura keikhlasan memancar dari tubuhnya. Senyum ibu pun merekah tulus.

            “Apa terasa berat jika menyisihkan sedikit rezeki kita untuk mereka?” tanya ibu padaku. Aku sengaja tidak menjawabnya, aku tahu kalimat ibu belum selesai. “Jika kita memberikannya dengan ikhlas, sedikit amal kita walau itu hanya sekecil biji sawi maka malaikat akan mencatatnya.”

            Aku yang masih kecil disibukkan mainan pesawat kertas buatan masku tidak memerhatikan petuah ibu. Yang kutahu hanya satu, ibu orang baik.

            Ingatanku berada dalam dimensi ribuan pintu. Aku berada diantaranya. Bebas leluasa masuk ke pintu satu ke pintu lain. Keluar seenaknya dan masuk ke pintu yang mulai melapuk dimakan usia, kadang aku berdiam diri didalamnya cukup lama. Kemudian kuberlari jauh memandang pintu masa depan yang masih terkunci. Haruskah aku mendobraknya paksa tanpa menemukan sebuah kunci. Atau aku harus menunggu didepannya hingga kantuk menyergap?

            Malam menjelang. Sepi menyerang. Jangkrik mulai berdendang. Detik jam berdentang, tepat pukul sembilan malam. Nuansa gelap membingkai desa dalam keangkuhannya. Lampu jalan tidak memberikan nyala terang. Aku bisa menghitung kendaraan yang melewati aspal berdebu. Rumah-rumah penduduk mengakhiri jam bertamu, pintu-pintu tertutup sudah. Walau nyala lampu ruang depan dari beberapa rumah masih menandakan kehidupan bertemankan tayangan televisi. Ketenangan inilah yang mengantarkanku kemari. Hampir seminggu, nenek tidak pernah bertanya padaku kenapa tiba-tiba aku berada di rumah lawasnya yang berdinding bambu. Tidak ada yang berubah tata letak ruangannya maupun barang-barannya kecuali taplak meja berwarna hijau daun yang tampak baru. Empat tahun lalu, setelah diumumkan kelulusan SMA aku mencium keriput tangan nenek. Matanya berbinar memancarkan harapan besar kepada salah satu cucu kebanggaan. Bagaimana tidak, ibu menceritakan semua presatasi akademikku yang gemilang. Juga tentang juara dari berbagai lomba yang kuikuti. Kata ibu aku anak penurut, kata ibu pula aku anak yang rajin. Entah kenapa ibu mengatakannya, padahal ibu sering mengelus dada melihat aku pulang tengah malam masih mengenakan celana abu-abu. Tidak ada kata maaf selain bohong, “Ada kegiatan ekstrakurikuler dan rapat OSIS.”

Nenek menghampiriku yang tengah duduk di kursi teras depan rumah. Segelas teh dengan kepulan uap tipis disodorkan padaku.

Aku menerimanya, “Matursuwun Mbah.”

Tanpa bicara, Mbah Sinem – begitu aku memanggil nenekku, mengambil tempat duduk disampingku.

Mbah dereng sare?” tanyaku menggunakan logat bahasa jawa. Walaupun aku orang jawa asli, aku masih kaku jika harus berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Harus menyesuaikan tingkatan bahasanya yaitu krama inggil menempati urutan pertama, sebagai wujud penghormatan kita kepada orang-orang yang terlahir lebih dulu. Berbeda jika berbicara dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda dari kita cukup menggunakan bahasa ngoko atau bahasa sehari-hari.

Le, nang njobo adem. Mlebu wae,” ucap nenek pelan.

Kulo teng mriki mawon Mbah, mboten saget tilem,” tolakku halus.

Tidak banyak yang kubicarakan dengan nenek.. Hanya beberapa kalimat tanya jawab, tapi aku tahu setiap gerak tubuhnya telah berbicara lebih. Seperti malam ini, teh manis buatan nenek mengalir hangat di tenggorokanku mengurangi dinginnya malam yang menusuk pori-pori kulit. Juga pedulinya padaku dengan menemaniku duduk di teras depan rumah melewati jam tidurnya. Hingga kekhawatiran atas kesehatan nenek memaksaku pura-pura mengantuk dan mengajak nenek masuk ke dalam.

Memandang langit-langit kamar berhiaskan sulaman laba-laba di bagian tepi dan pojoknya, membuatku berpikir serius. Tiga hari lalu, pertama aku menempati kamar ini keadaannya jauh lebih kotor. Dengan tergopoh-gopoh nenek masuk ke kamar membawa sapu lidi, diangkatnya tinggi-tinggi dan menyapu sarang laba-laba hingga bersih. Tak menyerah, laba-laba itu kini kembali muncul membangun pondasi rumahnya.

            Aku berdecak kagum, jika kita mengamati lebih dekat makhluk kecil ini memiliki daya tarik tersendiri. Laba-laba adalah salah satu wujud kesempurnaan ciptaan sang pemilik bumi. Aku pernah melihatnya dalam tayangan televisi bagaimana cara laba-laba membangun jaringnya. Pertama-tama, laba-laba melempar benang yang dipintalnya ke udara, lalu aliran udara membawanya ke tempat tertentu dimana ia menempel. Pekerjaan konstruksi dimulai. Ia menarik benang jenis kuat dan tegang dari titik pusat ke arah luar guna mempersiapkan kerangka jaringnya. Lalu benang jenis kendor dan lengket digunakannya untuk membuat lingkaran dari arah luar ke dalam. Perlu satu jam bahkan lebih untuk menyelesaikannya. Sungguh suatu keajaiban bahwa makhluk kecil ini mampu menghasilkan benang yang lebih kokoh dari baja, dan menggunakannya untuk membuat bangunan dengan cara yang sama seperti para arsitek dan insinyur.

            Benar, tidak ada hal kecil dalam hidup ini. Karena sesuatu yang besar berawal dari hal-hal terkecil. Dan sekarang aku merasa sangat kecil di hadapanNya. Kenapa aku begitu sombong? Aku pun tertunduk malu dalam diamnya langit malam. Lalu terpejam beberapa jam sampai tangan nenek yang dingin menyentuh kakiku. Melayang-layang antara bangun dan tidur, sayup-sayup kudengar adzan subuh menggema.

 

***

            Dapur nenek sudah mengepul, gerak langkah kaki-kaki mulai berirama silih-berganti menyatu dengan jalan. Seorang ibu berjalan menjinjing keranjang plastik, tampak sayur kangkung muncul di permukaannya. Tangan sebelahnya mengelus-elus perutnya yang akan membesar dalam hitungan bulan. Seiring sambutan mentari, sang ibu berjalan menggendong harapan besar kepada sang calon jabang bayi. Dari arah yang berlawanan seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno dengan cangkul dibahunya. Canda tawa segerombolan anak-anak berseragam SMP menyusul dibelakangnya. Kaki-kaki bersepatu mengayuh penuh semangat menggerakkan roda agar berputar cepat. Karena waktu terus melaju, apakah kita akab mengulangi kesalahan yang sama? Tidak pantas jika aku masih mendengkur dibalik selimut. Hangat matahari secara perlahan akan menghilangkan hawa dingin. Kurentangkan kedua tanganku dan kuhirup segarnya udara pagi. Sudah lama aku tidak melakukan ritual pagi seperti ini. Kutengadahkan kepalaku ke atas memandang birunya langit.

            “Gadis kecil itu,” teriakku dalam hati. Berkalung kamera DSLR di leherku, turut kulantunkan suara langkah kaki mengikuti gerak penduduk desa. Tidak jauh dari rumah nenek, aku berjalan mendatangi arah matahari. Setelah melewati beberapa rumah, aku belok mengambil jalan kecil menuju tanah lapang – disinilah aku dulu sering bermain sepak bola melawan anak-anak kampung yang tubuhnya dua kali lebih besar dariku. Dibelakang tanah lapang itulah tumbuh lebat pepohonan dimana semilir angin segar membelai tubuh. Jika tidak sedang bermain bola, anak-anak menjadikan tempat tersebut sasaran bermain petak umpet atau arena perang dengan berperan jadi pendekar mengadu pelepah pisang sebagai pedang dan sarung sebagai penutup kepala. Jika Pak Haji Sobir – sang pemilik lahan – datang, anak-anak langsung berlarian seperti melihat sosok jahat dalam dongeng sandiwara radio. Pernah kupingku dijewernya sampai merah karena kepergok memangkas pelepah pisang. Teman-temanku sudah lari tunggang langgang melepas tawanya yang keras. Aku hanya bisa melilit kesakitan dan mulai menanam benih kebencian pada Pak Haji Sobir. Begitu kembali ke rumah, nenek mencari pisau kecilnya yang akan digunakannya untuk mengiris bawang. Ketika ditanyai, aku menggelengkan kepalaku dan berlari menghindar. Padahal aku tahu, pisau itu masih menancap di pelepah pohon pisang.

            Kini semuanya sudah berubah, tidak ada lagi Pak haji Sobir, tidak ada lagi pohon pisang, tidak ada lagi anak-anak yang bermain di ladang, dan tidak terdengar lagi teriakan anak-anak perempuan ketika ditakuti kepompong putih yang menggulung tubuhnya pada selembar daun. Play Station dan hiburan televisi telah berjaya memikat perhatian anak-anak jaman sekarang. Memang benar, semuanya bisa berubah selama jantung masih berdetak dan perputaran waktu masih berjalan sebagaimana mestinya. Ya Rabb, apakah semua yang kujalani selama ini telah menjelma sebuah batu besar yang kini menghambat langkahku? Ataukah yang akan terjadi nanti bisa terbingkai indah dalam potret langit biru nan cerah?

            Sekarang adalah waktu terbaik untuk mendapatkan foto landscape, aku mengenalnya dengan sebutan Golden Hour. Yaitu sekitar tiga puluh menit setelah matahari terbit atau tiga puluh menit sebelum matahari terbit. Aku akan mengabadikan dalam frame digital awan putih besar dengan langit biru cerah yang berpadu tarian hijau dedaunan. Foto landscape laksana cerita pendek yang memiliki pembukaan atau foreground bisa juga disebut latar depan, bagian tengah yaitu middle ground atau latar tengah, dan bagian akhir yaitu background atau latar belakang. Pemandangan yang terpantul di lensa kamera tampak teratur dan rapi. Aku telah menemukan sebuah tempat yang menguntungkan, kuharap potret ini dapat menerjemahkan ada sesuatu yang menarik didalamnya. Semacam menangkap ruh suatu tempat. Spirit memperlihatkan dirinya tepat didepanku secara emosional.  Lensa sudah kubidikkan ke sasaran. Semburat kuning cahaya pagi menelusuk masuk di antara rerumputan kering di ladang. Warna, arah, kualitas dan itensitas cahaya menyatu memberikan efek indah. Kabut yang melayang-layang ingin segera hilang, begitu juga embun yang menetes dari ujung daun. Cuaca pagi ini bekerja sangat mengagumkan bagiku walau mungkin saja orang lain menganggapnya biasa saja.

            Lensa kameraku menangkap sempurna. Kugunakan aparture dibawah f13 untuk menghindari difraksi foto yang terlalu soft. Ketajaman gambar semua area yang akan didapat. Berbagai posisi cara memotret yang kupelajari semasa kuliah dan sudut pandang yang menurutku bagus kucoba dengan asyiknya. Dunia fotografi kumasuki dengan kebebasan berekspresi, hingga aku tidak sadar ada langkah kecil memasuki area lensaku.  

            Gadis kecil itu muncul tanpa menghiraukanku. Dia langsung duduk dibawah pohon – persis seperti kemarin sore. Kepalanya mendongak ke atas memandang langit biru. ‘Moment yang harus kuabadikan’, kataku dalam hati. Kakiku jongkok, kedua tanganku membidik teliti sasaran. Tidak boleh meleset. Kugunakan shutter relase cable untuk menghindari shake pada kamera. Anak kecil itu sebagai objek utama berada di bagian kanan frame. Aku ingat penjelasan pak Wayan – dosen fotografi, agar menghindari menaruh objek utama di tengah-tenga  frame foto. Karena nanti menjadikan sebuah Dead Center pada foto tersebut.

            “Ibu,” teriak gadis kecil itu. Setelah berhasil mengambil beberapa foto, aku mendekatinya dan mendongakkan kepalaku ke atas. Aku memandang langit cukup lama. Berputar serius memainkan imajinasiku tentang bentuk awan putih, apakah yang kulihat membentuk sosok manusia, perempuan atau ibu? Aneh. Awan putih itu tidak membentuk apa-apa, hanya satu bulatan kecil diluasnya langit biru.

            “Itu ibumu?” tanyaku.

            Gadis kecil itu mengangguk.

            Kugigit bibir bagian bawahku. Masih belum mengerti apa yang sedang dipikirkan anak kecil itu. “Aku tidak melihat ada ibu di sana,” kataku.

            Dia tidak memedulikan ucapanku.

            “Mana ibumu,” tanyaku lagi.

            Gadis kecil itu mengangkat lagi tangannya menunjuk bulatan awan kecil.

            “Aku tidak melihat ibumu disana.”

            “Ibuku adalah telur,” jawabnya pelan.

            Aku terhentak kaget mendengar jawaban si kecil. Kedua alisku mengerut. Kupandang lagi bulatan awan itu. Aku mungkin sudah gila, awan itu seakan-akan memang membentuk sebuah bulatan telur.

            “Temanku bilang aku menetas dari telur itu,” ucapnya lugu.

            Aku memandangi wajah cantik gadis kecil itu, “Kamu percaya?”                     

            Dia mengangguk. “Kakakku yang mengatakan ibu terbang ke langit biru.”

            “Kamu juga percaya?”

            Dia mengangguk lagi.

            Rasanya tidak mungkin jika aku menyuruhnya untuk menjelaskan semuanya secara rasional dan berbicara fakta. Aku memilih mengalihkan pembicaraan dengan bertanya dari namanya, “Lalu, siapa namamu?”

            Dia tidak menjawab. Aku mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Dia masih belum menjawabnya. Sudahlah, aku tidak mau memaksanya.

            “Aku akan memotret wajah ayumu lebih dekat, kamu tidak marah kan?”

            Tidak ada jawaban. Gadis kecil itu tetap memandang langit. Lensaku bekerja kembali, membingkai keindahan wajahnya yang lugu dan titik ganjal dalam dirinya. Aku tersenyum seraya menepuk bahu kecilnya. Kemudian meninggalkannya seorang diri tanpa rasa khawatir. Karena aku yakin, awan, langit biru, hembusan angin dan seluruh alam jagat raya ini adalah sahabat sejatinya.

            ***

Iklan
Komentar
  1. myun berkata:

    postingan yang bagus…
    salam kenal…
    kunjungi repository unand
    terima kasih ^^

  2. tia berkata:

    Kerrreeeeeen… adem bacanya…
    cerita lanjutannya ga ada ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s