Arsip untuk April, 2010

Kisah Mbok Simah

Posted: 04/15/2010 in Cerita Pendek

Jalan mulai sepi. Sudah jarang orang yang berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam.

Beberapa toko masih ditemani sinar lampu neon. Memancarkan barang dagangannya yang melambai-lambai menciptakan nuansa ramai. Percuma, tidak ada yang mendengar. Toko tetap sepi. Tapi para karyawan masih setia menanti pembeli yang kedatangannya belum pasti. Mereka berdiri dengan kehampaan. Bosan. Mereka pun duduk. Lalu berdiri lagi. Mondar-mandir. Hingga akhirnya, tepat pukul sepuluh malam, mereka memutuskan untuk tutup toko.

Lampu-lampu toko telah padam. Melengkapi kesepian malam. Kota ini seperti mati. Ah, malam resah. Malam tidak ingin mati kecuali matahari saja yang boleh membunuhnya. Malam pun mencari teman. Perempatan kemuning dekat alun-alun kota. Di emperan toko, pojok sebelah barat jalan, malam menemukan tempat beradu. Ada cahaya kehidupan. Bukan kehidupan malam yang dipenuhi gairah haram, melainkan malam yang akan memberikan pelajaran tentang makna kehidupan.

Seorang perempuan tua duduk bersimpuh. Rambutnya yang memutih terikat rapi. Kebaya yang dikenakannya terlihat sedikit lusuh. Tapi jaritnya, warna coklat tua bermotif batik, cukup bersih. Di depannya ada nyala redup lampu minyak tanah, tungku kecil, kipas bambu berbentuk persegi dan beberapa jagung muda yang sudah dikupas. Perempuan tua itu bernama Mbok Simah. Baru kemarin, Mbok Simah menjalani pekerjaannya, menjual jagung bakar. Bagi Mbok Simah, pekerjaan ini adalah pilihan terbaik daripada berdiam diri sebagai orang yang terbuang di panti jompo. Bahkan Mbok Simah harus melakukan perang gerilya melawan penjaga gerbang agar bisa keluar dari tempat pembuangan. Bagi Mbok Simah, panti jompo adalah tempat penyiksaan batin. Karena Aji, anak kandung Mbok Simah sendiri yang mengirimnya ke sana.

“Mbok lebih baik tinggal di panti jompo. Di sana lebih terurus.  Saya kan sudah berumah tangga Mbok, mana sempat kalau terlalu sering bolak-balik dari kota ke sini hanya untuk menemui Mbok,” keluh Aji. (lebih…)

Potret Langit Biru

Posted: 04/13/2010 in Cerita Pendek

Gadis kecil itu menatapku dengan tajam. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada keberadaanku tanpa mengubah posisi duduknya. Dia terlihat nyaman dengan menyandarkan tubuh kecilnya di bawah pohon rindang. HIjau daunnya bergerak pelan mengikuti alunan semilir angin yang berhembus lembut. Aku yang berdiri sejauh lima meter dari anak kecil itu seakan ikut mengalun mengikuti gerakan angin. Matahari memancarkan sinar hangat. Cahayanya menerobos masuk melaui celah-celah ranting pohon yang begitu lebat. Kemilaunya memantul ke segala arah, salah satu pantulannya mengenai wajah anak kecil itu. Wajahnya seakan bersinar. Dan sorot mata hitamnya masih menatapku tajam. Setajam pisau yang telah menggores bagian dalam tubuhku. Luka itu masih menganga hingga sekarang. Tapi biarlah, semua orang pernah mengalah atau pun kalah, tapi tidak semua orang sadar akan rasa salah atas semua hasil perbuatannya. Entahlah, aku tahu salah tapi tidak seharusnya semua orang menyalahkanku. Dua tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk kita jalani. Putaram jutaan detik masih membuat ibu bungkam. Waktu akan membantuku menyelesaikan semuanya, namun siapa yang bisa memastikan kalau berjalannya waktu malah membuatku diriku terpojok dalam persimpangan konflik abstrak. Kecuali waktu berjalan mundur dan takdir Tuhan bsa dikompromikan. Mustahil. Lebih baik aku menertawai diriku sendiri.

“Bapak!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak keras seraya tangan kanannya menunjuk ke atas. Kepalanya juga mendongak ke atas. Mataku berputar seketika. Tidak ada orang lain selain aku di sini. Lalu aku pun mendongak ke atas. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas. Melahirkan nuansa hati sedamai mata memandang. Ah, perasaan ini pernah kualami di masa-masa bunga berkembang dengan mahkota warna yang memesona. Keindahan visual itu menyerbak wangi mengundang kepakan sayap kupu-kupu bermain-main disekelilingku dan menghisap madu. Siapa yang bodoh jika ternyata kupu-kupu itu hanya mengenakan sayap palsu, dibalik topengnya dia masih ulat bulu yang menggelikan. Siapa yang bodoh jika semerbak wangi itu tidak lebih berasal dari parfum buatan yang dijual di pasaran dengan kadar alkohol tinggi. Kini aku bisa menjawab dengan tegas kalau semuanya bodoh. Sebaiknya aku segera menemukan pengganti kaca mata yang sempat membutakan pandangan hidupku bertahun-tahun. Aku lega kaca mata itu sudah pecah, walau dengan cara yang menyakitkan hingga luka sampai menganga. (lebih…)