Arsip untuk Mei, 2010

Awal long weekend, kamis malam kemarin aku memutuskan untuk pulang tepat waktu jam kerja – 16.30 tet. Nonton film bareng bersama teman-teman seangkatan adalah pilihan yang manis untuk mengawali liburan tiga hari. Film Prince of  Persia yang diangkat dari game ini sudah menari-nari dalam imajinasiku. Tapi sebelum aku duduk di kursi merah bioskop, ada dua kekecewaan. Pertama, kenapa di Djakarta Teater tidak ada parkir motor? Hohoho…. ini diskriminasi, aku protes. Apa karena ini bioskop khusus yang mempunyai roda empat? Tahu begini, aku akan mengajak keponakanku yang masih berumur 2 tahun dengan membawa sepeda roda empatnya. Dan parkir motor liar yang dibatasi sampai jam sepuluh malam dengan aturan tidak boleh dikunci ganda, akan membuatku tidak tenang meninggalkan motorku sendirian disana. Aku tidak tega, khawatir jika ada yang menculiknya. Kata orang, Jakarta ini kejam (mereka melihat Jakarta dalam dimensi sinetron) makanya jangan sampai sembrono di kota besar ini. Kedua, tiket untuk film Prince of Persia sold out. Huhuhu…terpaksa kami menggantinya dengan film Shrek Forever After. Daripada pulang bengong di kost, I think this movie is not too bad.

Ternyata eh ternyata, film Shrek Forever After sangat mengagumkan… Aku hanya bisa berkata ‘wow!’

Setelah semua petualangannya, Shrek (Mike Myers) telah menjadi raksasa berkeluarga dengan tiga anak. Bosan dengan kehidupan sehari-harinya, Shrek ingin menjadi raksasa yang ditakuti penduduk desa. Dan perjanjian sebuah kontrak dengan Rumpelstiltskin (Walt Dohrn) telah disepakati. Namun, setelah penandatanganan kontrak, Shrek baru sadar bahwa ia dijebak. (lebih…)

Iklan

Awas Tilang!

Posted: 05/25/2010 in Cerita Pengalaman

Tidak semua niat baik yang akan kita lakukan dalam proses perjalanannya akan baik-baik pula, bahkan ada batu-batu sandungan yang justru membuat kita apes. Huhuhu…sedihnya. Niat pertama adalah ingin ikut kajian YISC (Youth Islamic Study Center) di masjid Al-Azhar pada hari Minggu siang – beberapa minggu yang lalu. Aku pun mengajak seorang teman dan menjemputnya di daerah Radio Dalam. Karena untuk bisa mengajak seseorang untuk mau ngaji itu cukup susah, beda kalau ngajak teman nonton konsernya Ungu…. (mau mau mau, ada Pasha sih, hihihi….)

Saat melewati putaran balik dekat Plasa Semanggi, tiba-tiba saja ada polisi yang mengikuti motor Thunder Blue-ku. Karena aku selalu berpikiran positif, maka ada tiga dugaanku; yang pertama polisi itu ingin melindungiku , yang kedua bisa jadi polisi itu naksir padaku dan ingin mengikutiku, duh… yang ini bisa gawat! Dan dugaan yang ketiga, mungkin polisi itu juga searah denganku yaitu ikut ngaji di Al-Azhar, hohoho….

Dan polisi itu pun menghentikanku. OMG, perasaanku kok jadi nggak enak ya? Deg-degan tidak karuan gini. Temanku berkata pelan padaku, “Kita kena tilang karena salah jalur.” Aku hanya bisa meringis pada polisi itu. Setelah sedikit berdialog akhirnya aku mengakui dengan terpaksa bahwa aku memang melanggar peraturan lalu lintas yaitu salah masuk jalur cepat untuk roda empat. Hahaha…baru sadar kalau aku sedang naik motor (biasanya juga naik motor gak pernah naik mobil ^_^ ) Dan sebuah pilihan mudah dihadapkan padaku, damai atau ditilang? Dengan sedikit berbasa-basi aku rundingan dengan temanku, dan basa-basi pula polisi itu menulis surat tilang dengan gerakan slow motion sambil menungguku mengatakan “damai saja Pak!”

Inilah budaya ‘suap’ yang sudah menjadi rahasia umum seluruh warna negara Indonesia, bahwa jalur damai adalah pilihan yang tepat. Uang dua puluh ribu yang masuk kantong polisi cukup efisien daripada harus antri sidang di pengadilan negeri. Dan kali ini aku memilih itu… (padahal kemarin baru saja aku ikut kompetisi desain poster dengan tema Anti Korupsi dan Anti Suap, apa kata dunia? )

Niat baik kedua adalah menjemput seorang teman di daerah Tosari yang berencana nginap di kostku. Sebenarnya temanku tidak ingin aku menjemputnya dengan alasan klasik, takut merepotkan. Tapi aku tahu, temanku akan lebih senang jika aku menjemputnya dan memperbolehkan dia nginap semalam di kostku daripada harus memaksakan diri pulang ke Bogor. Mengingat di stasiun kereta Manggarai sudah tidak ada kereta ke Bogor karena sudah hampir pukul 12 malam (yang ada juga Kereta Hantu Manggarai, hihihi…. serem kan?) (lebih…)