Awas Tilang!

Posted: 05/25/2010 in Cerita Pengalaman

Tidak semua niat baik yang akan kita lakukan dalam proses perjalanannya akan baik-baik pula, bahkan ada batu-batu sandungan yang justru membuat kita apes. Huhuhu…sedihnya. Niat pertama adalah ingin ikut kajian YISC (Youth Islamic Study Center) di masjid Al-Azhar pada hari Minggu siang – beberapa minggu yang lalu. Aku pun mengajak seorang teman dan menjemputnya di daerah Radio Dalam. Karena untuk bisa mengajak seseorang untuk mau ngaji itu cukup susah, beda kalau ngajak teman nonton konsernya Ungu…. (mau mau mau, ada Pasha sih, hihihi….)

Saat melewati putaran balik dekat Plasa Semanggi, tiba-tiba saja ada polisi yang mengikuti motor Thunder Blue-ku. Karena aku selalu berpikiran positif, maka ada tiga dugaanku; yang pertama polisi itu ingin melindungiku , yang kedua bisa jadi polisi itu naksir padaku dan ingin mengikutiku, duh… yang ini bisa gawat! Dan dugaan yang ketiga, mungkin polisi itu juga searah denganku yaitu ikut ngaji di Al-Azhar, hohoho….

Dan polisi itu pun menghentikanku. OMG, perasaanku kok jadi nggak enak ya? Deg-degan tidak karuan gini. Temanku berkata pelan padaku, “Kita kena tilang karena salah jalur.” Aku hanya bisa meringis pada polisi itu. Setelah sedikit berdialog akhirnya aku mengakui dengan terpaksa bahwa aku memang melanggar peraturan lalu lintas yaitu salah masuk jalur cepat untuk roda empat. Hahaha…baru sadar kalau aku sedang naik motor (biasanya juga naik motor gak pernah naik mobil ^_^ ) Dan sebuah pilihan mudah dihadapkan padaku, damai atau ditilang? Dengan sedikit berbasa-basi aku rundingan dengan temanku, dan basa-basi pula polisi itu menulis surat tilang dengan gerakan slow motion sambil menungguku mengatakan “damai saja Pak!”

Inilah budaya ‘suap’ yang sudah menjadi rahasia umum seluruh warna negara Indonesia, bahwa jalur damai adalah pilihan yang tepat. Uang dua puluh ribu yang masuk kantong polisi cukup efisien daripada harus antri sidang di pengadilan negeri. Dan kali ini aku memilih itu… (padahal kemarin baru saja aku ikut kompetisi desain poster dengan tema Anti Korupsi dan Anti Suap, apa kata dunia? )

Niat baik kedua adalah menjemput seorang teman di daerah Tosari yang berencana nginap di kostku. Sebenarnya temanku tidak ingin aku menjemputnya dengan alasan klasik, takut merepotkan. Tapi aku tahu, temanku akan lebih senang jika aku menjemputnya dan memperbolehkan dia nginap semalam di kostku daripada harus memaksakan diri pulang ke Bogor. Mengingat di stasiun kereta Manggarai sudah tidak ada kereta ke Bogor karena sudah hampir pukul 12 malam (yang ada juga Kereta Hantu Manggarai, hihihi…. serem kan?)

TKP (Tempat Kejadian ‘Petaka’) yang kedua adalah saat melewati di Bundaran HI, tanpa sengaja, ya memang tanpa sengaja aku menerobos lampu merah. Bayangkan aja sudah hampir jam 12 malam, keadaan jalan pun sudah mulai lengang, bagiku tidak menjadi persoalan jika sekali-kali melanggarnya… (hahaha….sekali-kali gimana, kemarin masuk jalur cepat, kemarin lagi lewat jalur bus way, kemarin-kemarin lagi gak pake helm, kemarinnya lagi masuk jalur tol, kemarin kemarinnya lagi…. bla bla bla…tak terhitung dosa-dosanya bagai butiran debu…. parah!!!)

Dan polisi lagi-lagi mengikutiku… Duh, polisi Jakarta ini kok pada seneng sama aku ya? Padahal tampangku juga gak cakep-cakep amat… (masih cakepan Si Amat, tetanggaku di kampung) Setelah polisi menghentikan motorku, aku merubah ekspresi mukaku seketika untuk menarik simpati polisi agar melepasku saja…

Percuma, aku tetap ditilang. Kali ini aku tidak bisa memilih jalur damai, mana tanggal tua, uang tinggal lima puluh ribu. Apes deh! Daripada uangku satu-satunya melayang di kantong polisi, lebih baik sidang di pengadilan negeri tanggal 4 Juni nanti (aromanya masih tanggal muda, lumayan berduit hahaha… ) Itung-itung nambah pengalaman bagaimana rasanya sidang, haruskah menyewa pengacara untuk kasusku ini… >_< Dan SIM C-ku kini tertahan…

Esoknya aku cerita ke temanku yang polwan, berharap polisi yang semalam menilangku adalah pacarnya… (karena temanku bilang kalau cowoknya itu polisi lantas yang beroperasi di Jakarta Pusat) Tapi harapan tinggal harapan, temanku yang polwan mengatakan bahwa aturan sekarang udah beda, dulu masih bisa nitip diambilkan sekarang sudah gak bisa lagi. Lalu dia bertanya padaku, “kamu terima slip warna merah atau biru?” Aku jawab dengan tegas, “slipnya warna pink.” (emang iya warnanya merah muda alias pink kok) Temanku malah ngakak bukannya bantuin juga… Tapi dia memberikanku tips dan informasi tentang perbedaan slip warna biru dan merah. Jika ditilang, sebaiknya kita mengakui kesalahan kita, dan minta slip biru. Jika kita sudah menerima slip tilang warna biru, kita tidak perlu sidang di pengadilan negeri dan cukup transfer ke BRI. Pada slip itu harus tertulis nominal yang harus di bayar dan tempat bank BRI tempat kita transfer. Dan uang yang kita transfer langsung masuk ke kas negara, bukan kantong polisi. Tapi jangan heran, tidak semua polisi mau memberi slip warna biru ini. Ih, curang ya? Ya iyalah secara gitu, kantong polisi gak terisi… Jika kita dikasih slip merah, berarti kita menyangkal polisi atau tidak mengakui kesalahan. Dan itu harus melalui proses sidang di pengadilan negeri…

Dan aku pun hanya mampu mengamati slip warna merah (aku suka menyebutnya warna pink) yang aku terima… dan menunggu hari sidang itu datang… Pengacara… Help me please… T_T

(Malam minggu yang kelabu, 22 Mei 2010)

Iklan
Komentar
  1. meita berkata:

    hidup kadang memang kejam, kak…

    hehehe. anyway,, thanks for visit my blog. I hope you enjoy it.
    🙂

  2. Muthiah Hassan berkata:

    hehehe…. interest bgt bca tulisan k

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s