Arsip untuk November, 2011

WAHN

Posted: 11/27/2011 in Cerita Hikmah

“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan tajam seperti itu. Sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu. Terserah kau mau pergi atau tidak. Aku ingin tidur sekarang.”

Malam gelap. Pekat. Gulita. Rembulan merasa terusik, cahayanya terhalang awan mendung. Ah, mungkin hujan akan turun. Biarlah, rembulan sudah lama tidak merasakan guyuran air hujan dan menari-nari layaknya ‘nama’ dan ‘cintaku’dalam dunia mimpi mereka. Bagaimana rembulan bisa tahu? ‘Nama’ sering  bercerita banyak tentang ‘cintaku’ yang selalu berada didekapannya. Rembulan jadi penasaran, ingin mengintip ‘nama’ dan ‘cintaku’. Sayangnya mendung sedang menghalanginya.

Masih malam, tepatnya sepertiga malam. Beberapa rumah memancarkan cahaya keimanan oleh sujud hamba Allah dengan penuh syukur. Sebagian orang menangis, beban-beban dosa yang dipikulnya mulai perlahan berguguran karena taubatan nasuha. Tapi rumah mewah ‘nama’ tetap gelap. Tidak ada cahaya. ‘Nama’ tertidur pulas, kedua tangannya memeluk erat celengan ayam berwarna kuning yang diberi nama ‘cintaku’. ‘Nama’ mencintai ‘cintaku’ lebih dari apa pun. Lihat, perhatikan foto-foto yang terpasang di dinding kamar. Foto bersama teman-temannya ketika masih SMP, ‘nama’ tertawa lebar dan tangan kanannya memegang celengan ayam itu. Lihat juga fotonya saat berbalut seragam abu-abu putih, ‘nama’ mencium ‘cintaku’. Juga foto saat wisuda, ‘nama’ menyalami sang dosen, tangan kirinya juga memeluk si celengan ayam alias ‘cintaku’. Dimana ada ‘nama’ dipelukannya ada ‘cintaku’, dan semua orang sudah menggapnya bukan pemandangan asing lagi. (lebih…)

Iklan