Arsip untuk Juni, 2012

“Gempa, ada gempa!” teriakan warga yang diiringi suara kaki berlari, turut mengguncang Desa Kediri. Suasana kacau. Emak menarik tanganku keluar dari rumah Laras. Panik. Guncangan makin besar. Acara keluarga bubar. Sial, hari ini sangat penting bagiku. Bahkan aku masih menunggu Laras keluar dari kamarnya. Aku ingin melihat wajah cantiknya mengangguk menerima lamaranku. Walau aku tahu, bapaknya Laras akan berfikir seratus kali untuk bisa menerimaku sebagai menantunya. Aaaarrrggh, aku memang hanya bekerja sebagai buruh tani, wajahku juga tidak tampan. Tapi sebagai lelaki berusia kepala dua lebih lima tahun, sudah saatnya aku menunjukkan keseriusanku untuk meminangnya. Tidak ada yang salah. Dan aku tak mampu menyalahkan bencana alam yang merusak hari bersejarah ini.

“Ayo cepat lari, Gunung Kelud akan meletus!” teriak salah seorang warga. Orang-orang pun ikut berteriak histeris. Ketakutan. Aku dan Emak membaur dalam lari massal warga. Beberapa kali mataku berputar mencari sosok Laras. Sumpah, aku ingin memastikan Laras baik-baik saja. Aku menaruh hati pada Laras sejak kita sama-sama dalam seragam abu-abu putih.

Tangan Emak masih memegangku erat. Nafasnya mulai terengah-engah. Aku tak tega melihatnya terus berlari. Aku hanya berharap keajaiban datang, gempa berhenti seketika dan gunung tidak jadi meletus.

“Braaak!!!” suara bebatuan yang berjatuhan dari atas bukit saling menghantam satu sama lain. Kerikil-kerikil kecil melukai kaki-kaki yang berlari tanpa alas. Kaki Emak berdarah. Aku menarik tangan Emak untuk menghentikannya. Emak menoleh padaku dan menggelengkan kepalanya.
“Bagus, anakku… kita harus segera turun dari bukit ini,” Emak berteriak padaku. Belum sempat aku mengatakan apa-apa, batu-batu berdiameter sekitar lima puluh centimeter menerjang kaki-kaki kecil kami yang tengah berlari. Emak terjatuh. Tangan Emak terlepas dari genggamanku. Badanku pun tertabrak gerombolan orang-orang. Dimana Emak. Kenapa kepalaku mendadak pusing. Badanku terasa lemas. Aku pun terjatuh. Pandanganku buram. Warga terus berlari tanpa memedulikanku. Semua tampak seperti bayangan hitam. Perlahan memudar. Bulatan besar menggelinding dari atas. Aku tidak bisa menghindar. Mataku tertutup. Gelap.

***

Kepalaku masih terasa sangat sakit. Silau cahaya memaksa mataku terbuka. Makhluk kecil dengan sayap tipis menari-nari di depanku. Ada satu. Dua. Tiga. Jumlahnya lebih dari lima. Makhluk kecil bersayap itu beterbangan mengelilingiku. Dengan matanya yang lebar dan kepalanya lonjong. Tinggi tubuhnya sekitar lima belas centi meter dengan warna ungu kombinasi ornamen batik warna kuning. Berbalut baju dari dedaunan kecil. Mereka tertawa dan beterbangan di depanku. Makhluk apa itu, aku tidak pernah menjumpai sebelumnya. Apa mereka peri? Mungkin aku sudah gila, dongeng lebih cocok untuk anak-anak berusia satu digit angka.

Makhluk-makhluk kecil itu menarik bajuku hingga aku bangkit dan berdiri tegak. Kupandangi sekelilingku. Asing. Hamparan rumput hijau, pepohonan sangat besar seukuran rumah petak, dan tak jauh dari tempat aku berdiri ada jalan selebar satu meter. Beberapa kelinci meloncat kemudian bersembunyi di balik rumput. Sebentar, tapi aku tidak yakin apa itu benar-benar kelinci. Kelinci itu berwarna merah, biru, pink, kuning. Ah, sebenarnya aku ini berada di mana. Tanganku meraba-raba kepalaku yang makin terasa berat melihat hal-hal aneh ini. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang menempel di kepalaku. Aku memegangnya dengan ketakutan yang hebat. Tidak mungkin. Ada dua tanduk. Mataku pun terasa lebih lebar. Mulutku lebih maju beberapa centimeter ke depan. Aku hanya terdiam dengan badan berguncang. Makhluk kecil bersayap itu, menarik-narik bajuku lagi. Aku berjalan mengikutinya menyusuri jalan setapak. Persis di depanku ada arus sungai yang jernih. Dengan gemetar aku memberanikan diri untuk melihat wujudku dalam refleksi riak air itu.

“Aaaarrrghhh!!!!”

Kenapa kepalaku berwujud lembu? Aku tidak mengerti semua ini. Kupandangi seluruh tubuhku dalam pantulan air. Badanku lebih tinggi, lebih berotot, tapi kepalaku… aku ngeri sendiri. Bajuku dengan gaya rompi terbuat dari bahan kain yang bagus dan tebal walau terlihat sedikit lusuh. Aku mencoba memejamkan mata dan berharap saat membukanya kembali, aku menjadi normal. (lebih…)

-coming soon-

Pernahkah kita memerhatikan bahwa rel kereta api itu semakin jauh semakin terlihat mengecil kemudian hilang. Barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan hidup. Padahal jika kita terus berjalan menelusuri rel kereta itu, tidak ada rel yang menyempit. Seringkali kita melihat hidup ini hanya sejauh mata memandang. Dunia ini fana, kita tahu istilah itu. Akan ada kehidupan yang kekal pada nantinya – guru ngaji kita sudah mengenalkan kata akhirat di masa seragam merah putih – kita pun tahu itu. Yang perlu kita benar-benar tahu adalah apakah kita sudah berada di jalur rel kereta yang benar? Jalan inilah yang menentukan ke arah manakah kita akan melangkah.

Taffaquh Fiddin adalah bagian dari perjalanan yang mengajak kita melaju di rel yang tepat. Pancaran wajah-wajah peserta Taffaquh Fiddin memberi isyarat kedamaian hati dalam kereta berlabel YISC Al-Azhar. Paling tidak, mereka semua mempunyai satu niat tulus belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Allah. Meskipun masih banyak cabang niat lain, it doesn’t really matter. Taffaquh Fiddin menjadikannya irama silaturahmi yang indah. Obrolan kecil saat keberangkatan naik bus dan berlanjut gesekan interaksi dalam games outbond, tidak terasa telah mengikat benang emosional yang membuat kita berucap bangga, “aku menemukan saudara seiman disini”. Inilah nilai-nilai yang tidak bisa digantikan dengan materi. Orang-orang diluar sana salah besar jika masih menganggap bahwa materi adalah segalanya, kekuatan persaudaraan jauh lebih dahsyat.

“Taffaquh Fiddin itu ibarat pecah telur. Dari sinilah mulai cair suasana keakraban,” kata seorang teman dalam obrolannya di agenda rapat pemandu.  Aku menambahkan pendapatnya dalam hati, “Bagiku Taffaquh Fiddin bisa diibaratkan sebagai kepompong, tak lama lagi kita akan lihat mereka terbang dengan kepakan sayap kupu-kupunya yang indah menghiasi dakwah di YISC Al-Azhar.”

It’s so beautiful…

Sinergi dengan filosofis kehidupan manusia, bahwa dalam rangka meniti perjalanan hidup kita harus mampu mengkonstruksi, merubah adat kebiasaan yang negatif. Kita harus berani merevolusi diri seperti halnya kupu-kupu. Karena kita mempunyai akal untuk berfikir untuk membaca bagaimana ulat menjadi kepompong, bagaimana proses panjang kepompong menjadi kupu-kupu yang indah dan mempesona. Si ulat yang menggeliat menjijikkan berani  bermimpi dan menggapai cita-citanya untuk bisa terbang. Tekadnya yang kuat menggerakkan dirinya untuk “berpuasa” dalam proses kepompong dan akhirnya berubah menjadi makhluk cantik si kupu-kupu.

A better way of life, a better you…

Perubahan untuk menjadi lebih baik dalam setiap individu, tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah. Perjalanan yang tidak flat, seperti saat di persimpangan rel kereta yang bercabang. Ada satu arah yang benar, tapi sebuah pilihan untuk menentukan arah kereta yang kita bawa. Ulurkan tangan kalian, kita bergandengan tangan menelusuri jalanan kehidupan ini dengan cahaya islam. ***

*Taffaquh Fiddin 14-15 April 2012 di Villa Dempo, Puncak-Bogor bersama saudara-saudara terbaik