Sumpah Gunung Kelud (diikutsertakan pada ajang Fantasy Fiesta 2012)

Posted: 06/15/2012 in Cerita Pendek

“Gempa, ada gempa!” teriakan warga yang diiringi suara kaki berlari, turut mengguncang Desa Kediri. Suasana kacau. Emak menarik tanganku keluar dari rumah Laras. Panik. Guncangan makin besar. Acara keluarga bubar. Sial, hari ini sangat penting bagiku. Bahkan aku masih menunggu Laras keluar dari kamarnya. Aku ingin melihat wajah cantiknya mengangguk menerima lamaranku. Walau aku tahu, bapaknya Laras akan berfikir seratus kali untuk bisa menerimaku sebagai menantunya. Aaaarrrggh, aku memang hanya bekerja sebagai buruh tani, wajahku juga tidak tampan. Tapi sebagai lelaki berusia kepala dua lebih lima tahun, sudah saatnya aku menunjukkan keseriusanku untuk meminangnya. Tidak ada yang salah. Dan aku tak mampu menyalahkan bencana alam yang merusak hari bersejarah ini.

“Ayo cepat lari, Gunung Kelud akan meletus!” teriak salah seorang warga. Orang-orang pun ikut berteriak histeris. Ketakutan. Aku dan Emak membaur dalam lari massal warga. Beberapa kali mataku berputar mencari sosok Laras. Sumpah, aku ingin memastikan Laras baik-baik saja. Aku menaruh hati pada Laras sejak kita sama-sama dalam seragam abu-abu putih.

Tangan Emak masih memegangku erat. Nafasnya mulai terengah-engah. Aku tak tega melihatnya terus berlari. Aku hanya berharap keajaiban datang, gempa berhenti seketika dan gunung tidak jadi meletus.

“Braaak!!!” suara bebatuan yang berjatuhan dari atas bukit saling menghantam satu sama lain. Kerikil-kerikil kecil melukai kaki-kaki yang berlari tanpa alas. Kaki Emak berdarah. Aku menarik tangan Emak untuk menghentikannya. Emak menoleh padaku dan menggelengkan kepalanya.
“Bagus, anakku… kita harus segera turun dari bukit ini,” Emak berteriak padaku. Belum sempat aku mengatakan apa-apa, batu-batu berdiameter sekitar lima puluh centimeter menerjang kaki-kaki kecil kami yang tengah berlari. Emak terjatuh. Tangan Emak terlepas dari genggamanku. Badanku pun tertabrak gerombolan orang-orang. Dimana Emak. Kenapa kepalaku mendadak pusing. Badanku terasa lemas. Aku pun terjatuh. Pandanganku buram. Warga terus berlari tanpa memedulikanku. Semua tampak seperti bayangan hitam. Perlahan memudar. Bulatan besar menggelinding dari atas. Aku tidak bisa menghindar. Mataku tertutup. Gelap.

***

Kepalaku masih terasa sangat sakit. Silau cahaya memaksa mataku terbuka. Makhluk kecil dengan sayap tipis menari-nari di depanku. Ada satu. Dua. Tiga. Jumlahnya lebih dari lima. Makhluk kecil bersayap itu beterbangan mengelilingiku. Dengan matanya yang lebar dan kepalanya lonjong. Tinggi tubuhnya sekitar lima belas centi meter dengan warna ungu kombinasi ornamen batik warna kuning. Berbalut baju dari dedaunan kecil. Mereka tertawa dan beterbangan di depanku. Makhluk apa itu, aku tidak pernah menjumpai sebelumnya. Apa mereka peri? Mungkin aku sudah gila, dongeng lebih cocok untuk anak-anak berusia satu digit angka.

Makhluk-makhluk kecil itu menarik bajuku hingga aku bangkit dan berdiri tegak. Kupandangi sekelilingku. Asing. Hamparan rumput hijau, pepohonan sangat besar seukuran rumah petak, dan tak jauh dari tempat aku berdiri ada jalan selebar satu meter. Beberapa kelinci meloncat kemudian bersembunyi di balik rumput. Sebentar, tapi aku tidak yakin apa itu benar-benar kelinci. Kelinci itu berwarna merah, biru, pink, kuning. Ah, sebenarnya aku ini berada di mana. Tanganku meraba-raba kepalaku yang makin terasa berat melihat hal-hal aneh ini. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang menempel di kepalaku. Aku memegangnya dengan ketakutan yang hebat. Tidak mungkin. Ada dua tanduk. Mataku pun terasa lebih lebar. Mulutku lebih maju beberapa centimeter ke depan. Aku hanya terdiam dengan badan berguncang. Makhluk kecil bersayap itu, menarik-narik bajuku lagi. Aku berjalan mengikutinya menyusuri jalan setapak. Persis di depanku ada arus sungai yang jernih. Dengan gemetar aku memberanikan diri untuk melihat wujudku dalam refleksi riak air itu.

“Aaaarrrghhh!!!!”

Kenapa kepalaku berwujud lembu? Aku tidak mengerti semua ini. Kupandangi seluruh tubuhku dalam pantulan air. Badanku lebih tinggi, lebih berotot, tapi kepalaku… aku ngeri sendiri. Bajuku dengan gaya rompi terbuat dari bahan kain yang bagus dan tebal walau terlihat sedikit lusuh. Aku mencoba memejamkan mata dan berharap saat membukanya kembali, aku menjadi normal.“Goooong… gooooong…. gooooong,” bunyi gong dari kejauhan dipukul bertalu-talu. Aku berusaha mencari sumber suara itu berasal.

“Woro-woro… ada seyembara dari Raja,” teriakan suaranya mendekati arahku. Aku menoleh ke belakang dan melihat sosoknya di atas kuda cokelat, bajunya lengan panjang berwarna merah, balutan kain batik mengikat di pinggangnya, dan celananya longgar hitam di bawah lutut. Kudanya berjalan pelan dengan membawa gong kecil dan membunyikannya beberapa kali.

“Hei, pemuda kepala lembu! Aku prajurit dari Kerajaan Kediri, sampaikan woro-woro ini pada warga disini,” lelaki itu memberikan gulungan terbuat dari kulit kayu. Setelah aku menerimanya, prajurit itu berlalu melewatiku. Tak lama kemudian, suara beberapa orang sayup-sayup terdengar. Aku berlari menuju arah suara. Sebuah pintu kecil terbuka dari pohon-pohon besar, nampak beberapa orang keluar dari sana. Mereka berkerumun saling melontarkan pertanyaan.

“Itu pengumumannya,” salah seorang pemuda menunjukku. “Ayo bacakan untuk kami apa woro-woro dari Raja.”
Pandangan orang-orang tertuju padaku. Aku segera membuka gulungan pengumuman itu dan memperhatikan setiap huruf yang tertulis. Aksara jawa. Duh, aku sudah lupa bagaimana cara membacanya, terakhir belajar aksara jawa waktu di Sekolah Dasar.

“Kenapa diam, ayo cepat bacakan untuk kami,” teriak pemuda yang menunjukku tadi.

“Woro-Woro Sayembara Raja dari Kerajaan Kediri,” tiba-tiba aku membaca dengan lancar. Eh, kenapa aku jadi bisa membacanya. Aku sendiri bingung. Suara tawa terdengar pelan, aku meliriknya. Makhluk kecil bersayap itu memutar-mutar tangannya kemudian menghilang. Rupanya dia memberikan sihir padaku.
Kulanjutnya membaca dengan mengeraskan volumenya. “Bagi para pemuda di seluruh negeri dari semua kalangan, barang siapa yang bisa mengalahkan tantangan Raja, akan dinikahkan dengan Tuan Putri Dewi Kilisuci. Datanglah besok pagi di Alun-Alun Kediri, dan jadilah pemenangnya.”
Riuh seketika. Mereka saling bicara dan bertanya-tanya, kira-kira apa tantangan yang diberikan Raja.

“Tuan Putri Dewi Kilisuci sangat cantik, kulitnya putih bercahaya, rambutnya hitam kemilau dan panjang terurai. Laki-laki mana yang tidak mau menikah dengannya?” salah seorang warga mulai berkomentar.

“Benar,” sahut pemuda yang lain. “Tapi kira-kira apa tantangan Raja?”

“Besok kita semua datang ke Alun-Alun Kediri,” ajak seorang yang berusia cukup tua. “Hei pemuda berkepala lembu, siapa namamu, besok datanglah kesana.”

“Namaku…,” aku menunjuk mukaku sendiri. “Namaku Lembu Suro,” jawabku reflek. Nama yang barusan kusebut tergelincir begitu saja dari lidahku.

***

Keesokan paginya, aku mengikuti warga yang berbondong-bondong datang ke Alun-Alun Kediri menyaksikan sayembara raja. Walaupun aku belum mengerti dengan semua yang terjadi padaku, aku yakin teka-teki aneh ini akan terpecahkan. Semalam aku hanya melingkarkan badanku di hamparan rumput bertemankan cahaya kunang-kunang, mencoba melepas lelah tapi pikiran tak bisa berhenti berputar. Abstrak.

Halaman Alun-Alun Kediri yang sangat luas ini sudah penuh dengan orang-orang. Mereka mengerumun pada satu titik membentuk lingkaran besar. Raja yang didampingi empat prajurit berada di tengah-tengahnya.

“Terima kasih rakyatku atas kedatangannya untuk mengikuti sayembara ini,” Raja mulai angkat bicara. Orang-orang langsung membungkam mulutnya, menyimak perkataan raja. Aku berusaha menerobos gerombolan orang-orang, mereka sedikit kesal dengan melototkan matanya padaku.

“Aku ingin melihat Raja dari dekat,” belaku. Beberapa orang yang mendengar suaraku langsung menatapku seraya menempelkan jari telunjuk di mulutnya.

“Pemenang dari sayembara ini, akan kunikahkan dengan putri kesayanganku Dewi Kilisuci,” lanjut Raja. “Persyaratannya, barang siapa yang bisa merentangkan busur sakti dan mengangkat gong sakti, dia lah yang berhak menikahi putriku,” Raja menunjukkan busur panah di sebelah kanannya. Ukurannya lebih besar dari busur panah biasa. Warnanya emas dengan ukiran indah menghiasi seluruh badan busur. Kemudian gong raksasa di sebelah kiri raja. Ukurannya sangat besar, terbuat dari bahan logam berwarna kuningan. Sepertinya sangat berat, aku menggeleng-geleng. Orang-orang pun saling bicara satu sama lain. Dari jarak jauh, aku bisa melihat wajah raja. Aku seperti mengenalinya, tapi entahlah, begitu banyak hal-hal aneh menyelimuti otakku.

“Sayembara di mulai,” isyarat raja diiringi pukulan gong. Beberapa pemuda saling dorong mendorong berebut mengikuti sayembara. Para prajurit segera mengatasinya dengan memberikan nomer antrian. Peserta pertama dari kalangan bangsawan, berjalan dengan membusungkan dadanya. Gayanya angkuh. Diangkatlah busur panah dengan kedua tangannya. Terlihat berat. Dengan sekuat tenaga, direntangkan busur itu. Giginya meringis, tidak sedikitpun bergerak. Pemuda itu membanting busur sakti itu. Gagal. Sorakan dan ejekan orang-orang membuat pemuda bangsawan itu segera berlalu pergi. Dilanjut seorang pemuda berbadan besar. Dengan langkah tegapnya, dia mendekati gong sakti. Segala tenaga ia kerahkan. Tidak sedikitpun terangkat. Sorakan kembali menggetarkan alun-alun kota. Sudah puluhan pemuda mencobanya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil merentangkan busur sakti atau mengangkat gong sakti itu. Aku sendiri penasaran, tapi tak ada nyali untuk mengikuti sayembara konyol ini.
Hari sudah menjelang siang. Panasnya menyengat. Dan hasilnya masih sama, sayembara itu belum terpecahkan. Hingga datang lah kereta kuda berlapis warna emas yang menyibak kerumuman orang-orang.

“Itu putri raja,” teriak salah seorang yang berada dalam kerumuman. Seperti paduan suara, riuh kembali terdengar. Aku terdorong maju karena desakan orang-orang di belakangku. Semua mata tertuju pada kereta kuda yang berhenti di tengah halaman. Raja menyambut kedatangan putri raja dan membukakan pintunya.
Wajah cantik yang menjadi pujaan semua pemuda di negeri ini digandeng sang raja berjalan menuju kursi tahta yang diletakkan diantara busur panah dan gong sakti. Aku memerhatikan wajah sang putri raja. Mahkota di kepalanya dan gaun anggun berwarna emas, makin menambah keelokannya.

“Laras,” aku berkata pelan. Tidak salah lagi, putri raja itu adalah Laras. Aku hafal betul senyum khasnya. Cara dia berjalan dan ekspresinya saat tertunduk malu. Iya, dia Laras, aku yakin itu. Dan sang raja itu, aku baru ingat kalau sosoknya sangat mirip dengan Pak Romli – bapak Laras.

“Laraaaaas,” aku berteriak dengan sekencang-kencangnya seraya berusaha menerobos kerumuman. Orang-orang melihatku dengan tatapan aneh.

“Siapa yang kamu panggil,” lontaran pertanyaan dari salah seorang yang berdiri didekatku. “Dia putri Raja, namanya Dewi Kilisuci.”

“Dia Laras, gadis yang akan kupinang,” jawabku tegas.

“Kalau begitu, rentangkan busur sakti dan angkat gong sakti itu,” imbuh seorang yang berada di belakangku yang kemudian disusul tawanya.

“Wahai pemuda di seluruh negeri ini,” teriak Raja, “siapa yang akan jadi calon suami putri kesayanganku?”

“Ayo maju,” orang-orang mendorongku ke depan hingga membuatku hampir terjatuh. Aku pun melangkahkan kakiku perlahan maju mendekati putri raja. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Dia adalah Laras. Aku yakin. Tapi dia tidak berani menatapku, malah menundukkan wajah cantiknya.
Tanganku sudah memegang busur sakti. Tidak berat. Perlahan-lahan kurentangkan busur sakti. Berhasil. Raja tercengang melihatku yang begitu mudah merentangkan busur sakti itu. Tidak ada sorakan dari orang-orang. Hening. Kemudian aku berjalan mendekati gong sakti. Dan aku mengangkatnya dengan kedua tangan sampai di atas kepalaku. Semua mata memandangku. Takjub. Tidak ada sorakan. Semua tercengang.
Aku sendiri bingung. Kenapa tidak terasa berat sama sekali. Aku meletakkan gong itu dan berdiri di depan Raja.

“Siapa namamu?” tanya Raja.

“Lembu Suro,” jawabku singkat.

“Datanglah ke Kerajaan Kediri,” perintah Raja.

Aku mengangguk. Tepuk tangan orang-orang mengguncang Alun-Alun Kediri. Mereka berteriak menyebut namaku berulang-ulang. Kulirikkan mataku pada Dewi Kilisuci. Tidak ada ekspresi senang yang terpancar, putri raja itu terlihat ketakutan kemudian berlari masuk ke dalam kereta kuda. Sayembara selesai, Raja menjabat tanganku. Senyumnya kecut.

***

Namaku mendadak jadi perbincangan di seluruh negeri. Semua orang membicarakan kesaktianku – manusia berkepala lembu. Setiap kali berpapasan dengan orang, mereka tersenyum dan memberikan salam hormat dengan membungkuk. Aku pun membalasnya dengan senyuman. Tidak ada yang bisa kulakukan, karena aku masih belum mengerti tentang kesaktianku. Ah, aku menyandarkan tubuhku pada sebuah pohon besar. Cukup melelahkan untuk bisa sampai disini. Jalan menuju puncak Gunung Kelud ini tidak lah mudah. Dan aku belum menemukan cara untuk bisa memenuhi persyaratan Dewi Kilisuci. Aku terus berpikir dan mengingat ucapannya.

“Kalau kamu serius mau menikahiku, aku ada satu persyaratan yang harus dipenuhi,” ucap Dewi Kilisuci saat aku datang ke Kerajaan Kediri, seusai sayembara. “Buatkan sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu semalaman. Jika kamu berhasil, aku bersedia menjadi istrimu.”

Tidak mungkin. Tapi apa boleh buat, aku sudah menganggukkan kepala dan bersedia menyanggupinya. Aku harus membuat sumur di puncak Gunung Kelud ini.

“Dewi Kilisuci mencoba menjebakmu,” suara itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke kanan-kiri.

“Lembu Suro,” suara itu memanggilku. Aku seperti mengenal nada suara itu. Seperti suara Emak.

“Emak,” panggilku. “Emak dimana?”

Seekor kelinci berwarna biru meloncat di depanku. Aku terperanjat kaget.

“Dewi Kilisuci tidak mau menikah dengan pemuda berkepala lembu,” kelinci biru itu berbicara padaku. Suaranya persis seperti Emak saat menasehatiku. “Persyaratan membuat sumur di puncak Gunung Kelud hanya salah satu untuk menghalangimu, Lembu Suro”

Aku terhentak kaget, “Emak?”

“Percayalah padaku Lembu Suro,” ucap sang kelinci biru seraya meloncat-loncat dan menghilang di balik pohon.

Aku memegangi kepalaku, tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku terasa berat, bayangan Emak saat memegang tanganku, wajah Laras yang mirip Dewi Kilisuci, sayembara dan persyaratan yang tidak masuk akal. Sedangkan malam mulai larut. Aku berharap ada keajaiban lagi. Kudongakkan kepalaku ke langit, rembulan menampakkan dirinya dengan cantik tanpa tertutup awan gelap. Sinarnya memberikan ketenangan.
Tidak ada waktu lagi. Aku segera beranjak. Mengambil logam tajam dengan pemegang yang terbuat dari kayu dan mulai menggali tanah. Aku membuat lingkaran cekung berdiameter kira-kira dua meter. Tiga jam berlalu, aku terus membuat cekungnya semakin dalam. Tidak sia-sia. Aku yakin bisa menjadikannya sumur. Sudah tengah malam dan aku terus menggali. Kedalamannya sudah setinggi tubuhku. Aku merekahkan senyum.

Keyakinanku pada janji Dewi Kilisuci menjadi dorongan untuk memenuhi persyaratannya. Mungkin yang dikatakan kelinci berwarna biru dengan suara Emak itu benar, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Semua butuh pengorbanan. Aku paham hal itu.

“Krak!!!,” logamnya terlepas dari pemegang kayunya. Pasti terlalu sering beradu dengan bebatuan yang keras.

Kutarik nafas dalam-dalam. Dan melepaskan hembusannya bersama rasa lelah. Aku memukul batu besar itu berkali-kali dengan kedua kakiku. Tiba-tiba batu besar itu bergerak, menyebabkan guncangan yang membuatku terjatuh. Aku buru-buru keluar dari galianku yang sudah cukup dalam. Batu besar tadi terus bergerak-gerak dan terangkat ke permukaan tanah. Aku berusaha menjaga jarak dengan batu besar itu yang bergeser mendekatiku. Lalu berputar di tanah. Kepala kecil keluar dari ujung batu. Disusul kaki muncul dari empat sisi. Di atas permukaannya keluar serat-serat transparan yang membentuk sayap. Wujudnya seperti kura-kura raksasa bersayap.

“Siapa kamu,” teriakku seraya menunjukkan jariku ke arahnya.

Makhluk itu terbang mengelilingiku, “Apa yang kamu lakukan tengah malam menggali tanah hingga membangunkan tidurku selama ratusan tahun?”

“Aaa…kuu… hanya ingin membuat sumur,” jawabku dengan sedikit gemetar. “Memenuhi persyaratan Dewi Kilisuci.”

Kura-kura raksasa bersayap itu menatapku. “Aku akan menolongmu,” ucapnya dengan senyuman. Aku terdiam. Kaget. Melihat makhluk itu mengambil batu kecil, dan menyulapya menjadi terompet berwarna emas. Bunyinya sangat nyaring tanpa irama. Dalam hitungan detik, makhluk-makhuk serupa muncul dari dalam tanah. Jumlahnya banyak. Ratusan lebih. Ini ajaib. Mereka langsung masuk ke dalam galian dan dengan cepat mengeluarkan gemburan tanah. Tidak hanya itu, pepohonan di sekitarku mulai bergerak-gerak. Pohon-pohon itu berjalan seperti manusia, rantingnya berubah jadi tangan dan akarnya terlihat seperti kaki. Lalu kunang-kunang bermunculan satu persatu untuk memberikan penerangan. Makhluk kecil bersayap pun tiba-tiba muncul. Seperti biasa, mereka menari-nari di depanku. Keajaiban alam bersimfoni saling membantu menciptakan sumur. Aku takjub. Kemudian aku pun berlari ke arah mereka dan membantu mengangkat batu.

Fajar mulai mengendap-endap menyingsing. Ini benar-benar keajaiban. Sumur sudah hampir selesai. Dinding-dindingnya berasal dari tumpukan batu terlihat sangat rapi dan kokoh. Airnya menggenang jernih. Bagian atas permukaan tanah, sudah terbentuk susunan batu setinggi satu meter. Kura-kura raksasa bersayap merapikan susunan batu paling atas, sebagian dari mereka meratakan gundukan tanah di bantu manusia pohon. Ada satu manusia pohon yang paling tinggi, menjulurkan rantingnya ke dalam sumur memastikan sumber air mengalir dengan baik. Aku tersenyum lega. Sempurna.

Cahaya kunang-kunang mulai redup, beberapa diantaranya sudah mati. Kulihat langit, lengkungan kuning kemerahan menyibak awan-awan.

“Sebentar lagi cahaya matahari akan terbit,” kataku pada mereka. Kura-kura raksasa yang bersayap itu terbang menghampiriku.

“Tugasku sampai disini,” ucapnya. “Kita semua harus pergi sebelum ayam berkokok.”

Aku mengangguk, “Terimakasih.”

Makhluk itu mengeluarkan terompet emas dan meniupnya. Seketika, semua aktivitas terhenti. Kura-kura raksasa yang bersayap itu bergerak dengan cepat dan masuk ke dalam tanah. Manusia-manusia pohon kembali menyebar menduduki posisi awalnya, mematung menjadi pohon. Dan suara kokok ayam pun berbunyi.
Suasana sepi. Tinggal aku sendiri yang berdiri di sebelah sumur permintaan Dewi Kilisuci. Aku menarik nafas lega. Tidak sabar menantikan Dewi Kilisuci yang akan menjadi istriku – sebentar lagi.

Para prajurit kerajaan berdatangan ke puncak Gunung Kelud seiring matahari terbit. Aku menyambut mereka senyum bangga dan percaya diri. Para prajurit berbaris tepat di depanku. Saat Dewi Kilisuci datang, para prajurit menaruh lutut kananya ke tanah dengan merendahkan punggungnya, memberi hormat.
Aku melihat sosok Dewi Kilisuci yang bercahaya dan cantik memesona. “Aku sudah memenuhi persyaratanmu Tuan Putri Dewi Kilisuci,” ucapku tenang.
Aku bisa melihat wajah Dewi Kilisuci tersentak kaget, tapi dia segera mengubah ekspresinya untuk menjaga wibawanya. Dia berjalan mendekatiku. Kepalanya mendongak ke sumur, terpantul wajah cantiknya di permukaan air.

“Aku ingin memastikan kalau sumur ini dalam,” kata Dewi Kilisuci.

Aku mengernyitkan keningku, “Maksud Tuan Putri?”

“Masuklah kedalam sumur itu, aku ingin tahu seberapa dalam kamu telah menggalinya. Waktu yang kuberikan hanya semalaman, kamu mengerti maksudku kan?” Dewi Kilisuci menatapku dengan matanya yang indah.
Seperti terbius akan kecantikannya, aku menuruti perintah Dewi Kilisuci masuk ke dalam sumur. Semalam makhluk kura-kura raksasa bersayap mengajarkanku ilmu meloncat ke dalam sumur saat mengambil batu-batu dan terbang ke permukaan hanya dengan menghentakkan kakiku. Hebat.

“Tuan Putri,” teriakku dari dalam sumur, suaranya menggema. Ketinggian sumber air ini mencapai leherku. “Lihat, sumur ini sangat dalam.”

Dewi Kilisuci melihatnya, aku melambaikan tangannya. Kemudian sosoknya menghilang. Para prajurit mengelilingi pinggiran sumur. Aku menghentakkan kakiku dan siap terbang keatas. Sial, para prajurit itu mejatuhkan bebatuan ke dalam sumur. Mereka mau menguburku di dalam sumur ini. Gila. Ini jebakan Dewi Kilisuci.

“Penghkianaaaaat,” teriakku. “Kau tidak menepati janjimu!”

Bebatuan itu melukai seluruh tubuhku. Dalam waktu sekejap tubuhku hampir terkubur. Amarahku memuncak. “Aku bersumpah, kalian semua akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri akan jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau!”

Inilah akhir hidupku. Aku tak bisa bernafas lagi.

***

“Bagus… Bagus!” Aku membuka mataku. Emak menarik-narik tanganku. Aku melihat Emak duduk di sampingku, memakai kebaya rapi. Di depanku, ada Laras berdampingan dengan bapaknya, Pak Romli. Aku memegangi kepalaku. Normal.

“Ada apa?” Emak berbisik padaku. “Kamu baru saja melamar Laras, kenapa sekarang jadi bingung sendiri?”

“Bagus,” ucap Laras. “Kalau kamu serius mau menikahiku, aku ada satu persyaratan yang harus dipenuhi.”

Aku terperanjat kaget mendengar ucapannya seperti Dewi Kilisuci. Mengingat pengkhianatannya, amarahku bangkit.

“Laras,” kataku tegas. “Jika persyaratanmu hanya sebuah alasan untuk menolak lamaranku, lupakan saja. Aku bukan Lembu Suro yang terjebak dengan pengkhiatan Dewi Kilisuci.”

Emak, Laras dan Pak Romli terkejut mendengar ucapanku. Gempa tiba-tiba mengguncang. “Ini adalah amarah Lembu Suro. Gunung Kelud akan meletus,” kataku tenang. Dan senyumku mengembang.

***

*woro-woro: pengumuman (bahasa jawa)
*diangkat dari mitos asal-asul terjadinya gunung kelud di Kediri, Jawa Timur

Iklan
Komentar
  1. Ochiii berkata:

    Wow, ini keren. Cerita cerita rakyat memang selalu menarik kkk 😀
    waduh, lembu suro kkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s