Archive for the ‘Cerita Pendek’ Category

“Gempa, ada gempa!” teriakan warga yang diiringi suara kaki berlari, turut mengguncang Desa Kediri. Suasana kacau. Emak menarik tanganku keluar dari rumah Laras. Panik. Guncangan makin besar. Acara keluarga bubar. Sial, hari ini sangat penting bagiku. Bahkan aku masih menunggu Laras keluar dari kamarnya. Aku ingin melihat wajah cantiknya mengangguk menerima lamaranku. Walau aku tahu, bapaknya Laras akan berfikir seratus kali untuk bisa menerimaku sebagai menantunya. Aaaarrrggh, aku memang hanya bekerja sebagai buruh tani, wajahku juga tidak tampan. Tapi sebagai lelaki berusia kepala dua lebih lima tahun, sudah saatnya aku menunjukkan keseriusanku untuk meminangnya. Tidak ada yang salah. Dan aku tak mampu menyalahkan bencana alam yang merusak hari bersejarah ini.

“Ayo cepat lari, Gunung Kelud akan meletus!” teriak salah seorang warga. Orang-orang pun ikut berteriak histeris. Ketakutan. Aku dan Emak membaur dalam lari massal warga. Beberapa kali mataku berputar mencari sosok Laras. Sumpah, aku ingin memastikan Laras baik-baik saja. Aku menaruh hati pada Laras sejak kita sama-sama dalam seragam abu-abu putih.

Tangan Emak masih memegangku erat. Nafasnya mulai terengah-engah. Aku tak tega melihatnya terus berlari. Aku hanya berharap keajaiban datang, gempa berhenti seketika dan gunung tidak jadi meletus.

“Braaak!!!” suara bebatuan yang berjatuhan dari atas bukit saling menghantam satu sama lain. Kerikil-kerikil kecil melukai kaki-kaki yang berlari tanpa alas. Kaki Emak berdarah. Aku menarik tangan Emak untuk menghentikannya. Emak menoleh padaku dan menggelengkan kepalanya.
“Bagus, anakku… kita harus segera turun dari bukit ini,” Emak berteriak padaku. Belum sempat aku mengatakan apa-apa, batu-batu berdiameter sekitar lima puluh centimeter menerjang kaki-kaki kecil kami yang tengah berlari. Emak terjatuh. Tangan Emak terlepas dari genggamanku. Badanku pun tertabrak gerombolan orang-orang. Dimana Emak. Kenapa kepalaku mendadak pusing. Badanku terasa lemas. Aku pun terjatuh. Pandanganku buram. Warga terus berlari tanpa memedulikanku. Semua tampak seperti bayangan hitam. Perlahan memudar. Bulatan besar menggelinding dari atas. Aku tidak bisa menghindar. Mataku tertutup. Gelap.

***

Kepalaku masih terasa sangat sakit. Silau cahaya memaksa mataku terbuka. Makhluk kecil dengan sayap tipis menari-nari di depanku. Ada satu. Dua. Tiga. Jumlahnya lebih dari lima. Makhluk kecil bersayap itu beterbangan mengelilingiku. Dengan matanya yang lebar dan kepalanya lonjong. Tinggi tubuhnya sekitar lima belas centi meter dengan warna ungu kombinasi ornamen batik warna kuning. Berbalut baju dari dedaunan kecil. Mereka tertawa dan beterbangan di depanku. Makhluk apa itu, aku tidak pernah menjumpai sebelumnya. Apa mereka peri? Mungkin aku sudah gila, dongeng lebih cocok untuk anak-anak berusia satu digit angka.

Makhluk-makhluk kecil itu menarik bajuku hingga aku bangkit dan berdiri tegak. Kupandangi sekelilingku. Asing. Hamparan rumput hijau, pepohonan sangat besar seukuran rumah petak, dan tak jauh dari tempat aku berdiri ada jalan selebar satu meter. Beberapa kelinci meloncat kemudian bersembunyi di balik rumput. Sebentar, tapi aku tidak yakin apa itu benar-benar kelinci. Kelinci itu berwarna merah, biru, pink, kuning. Ah, sebenarnya aku ini berada di mana. Tanganku meraba-raba kepalaku yang makin terasa berat melihat hal-hal aneh ini. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang menempel di kepalaku. Aku memegangnya dengan ketakutan yang hebat. Tidak mungkin. Ada dua tanduk. Mataku pun terasa lebih lebar. Mulutku lebih maju beberapa centimeter ke depan. Aku hanya terdiam dengan badan berguncang. Makhluk kecil bersayap itu, menarik-narik bajuku lagi. Aku berjalan mengikutinya menyusuri jalan setapak. Persis di depanku ada arus sungai yang jernih. Dengan gemetar aku memberanikan diri untuk melihat wujudku dalam refleksi riak air itu.

“Aaaarrrghhh!!!!”

Kenapa kepalaku berwujud lembu? Aku tidak mengerti semua ini. Kupandangi seluruh tubuhku dalam pantulan air. Badanku lebih tinggi, lebih berotot, tapi kepalaku… aku ngeri sendiri. Bajuku dengan gaya rompi terbuat dari bahan kain yang bagus dan tebal walau terlihat sedikit lusuh. Aku mencoba memejamkan mata dan berharap saat membukanya kembali, aku menjadi normal. (lebih…)

Iklan

Kisah Mbok Simah

Posted: 04/15/2010 in Cerita Pendek

Jalan mulai sepi. Sudah jarang orang yang berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam.

Beberapa toko masih ditemani sinar lampu neon. Memancarkan barang dagangannya yang melambai-lambai menciptakan nuansa ramai. Percuma, tidak ada yang mendengar. Toko tetap sepi. Tapi para karyawan masih setia menanti pembeli yang kedatangannya belum pasti. Mereka berdiri dengan kehampaan. Bosan. Mereka pun duduk. Lalu berdiri lagi. Mondar-mandir. Hingga akhirnya, tepat pukul sepuluh malam, mereka memutuskan untuk tutup toko.

Lampu-lampu toko telah padam. Melengkapi kesepian malam. Kota ini seperti mati. Ah, malam resah. Malam tidak ingin mati kecuali matahari saja yang boleh membunuhnya. Malam pun mencari teman. Perempatan kemuning dekat alun-alun kota. Di emperan toko, pojok sebelah barat jalan, malam menemukan tempat beradu. Ada cahaya kehidupan. Bukan kehidupan malam yang dipenuhi gairah haram, melainkan malam yang akan memberikan pelajaran tentang makna kehidupan.

Seorang perempuan tua duduk bersimpuh. Rambutnya yang memutih terikat rapi. Kebaya yang dikenakannya terlihat sedikit lusuh. Tapi jaritnya, warna coklat tua bermotif batik, cukup bersih. Di depannya ada nyala redup lampu minyak tanah, tungku kecil, kipas bambu berbentuk persegi dan beberapa jagung muda yang sudah dikupas. Perempuan tua itu bernama Mbok Simah. Baru kemarin, Mbok Simah menjalani pekerjaannya, menjual jagung bakar. Bagi Mbok Simah, pekerjaan ini adalah pilihan terbaik daripada berdiam diri sebagai orang yang terbuang di panti jompo. Bahkan Mbok Simah harus melakukan perang gerilya melawan penjaga gerbang agar bisa keluar dari tempat pembuangan. Bagi Mbok Simah, panti jompo adalah tempat penyiksaan batin. Karena Aji, anak kandung Mbok Simah sendiri yang mengirimnya ke sana.

“Mbok lebih baik tinggal di panti jompo. Di sana lebih terurus.  Saya kan sudah berumah tangga Mbok, mana sempat kalau terlalu sering bolak-balik dari kota ke sini hanya untuk menemui Mbok,” keluh Aji. (lebih…)

Potret Langit Biru

Posted: 04/13/2010 in Cerita Pendek

Gadis kecil itu menatapku dengan tajam. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada keberadaanku tanpa mengubah posisi duduknya. Dia terlihat nyaman dengan menyandarkan tubuh kecilnya di bawah pohon rindang. HIjau daunnya bergerak pelan mengikuti alunan semilir angin yang berhembus lembut. Aku yang berdiri sejauh lima meter dari anak kecil itu seakan ikut mengalun mengikuti gerakan angin. Matahari memancarkan sinar hangat. Cahayanya menerobos masuk melaui celah-celah ranting pohon yang begitu lebat. Kemilaunya memantul ke segala arah, salah satu pantulannya mengenai wajah anak kecil itu. Wajahnya seakan bersinar. Dan sorot mata hitamnya masih menatapku tajam. Setajam pisau yang telah menggores bagian dalam tubuhku. Luka itu masih menganga hingga sekarang. Tapi biarlah, semua orang pernah mengalah atau pun kalah, tapi tidak semua orang sadar akan rasa salah atas semua hasil perbuatannya. Entahlah, aku tahu salah tapi tidak seharusnya semua orang menyalahkanku. Dua tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk kita jalani. Putaram jutaan detik masih membuat ibu bungkam. Waktu akan membantuku menyelesaikan semuanya, namun siapa yang bisa memastikan kalau berjalannya waktu malah membuatku diriku terpojok dalam persimpangan konflik abstrak. Kecuali waktu berjalan mundur dan takdir Tuhan bsa dikompromikan. Mustahil. Lebih baik aku menertawai diriku sendiri.

“Bapak!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak keras seraya tangan kanannya menunjuk ke atas. Kepalanya juga mendongak ke atas. Mataku berputar seketika. Tidak ada orang lain selain aku di sini. Lalu aku pun mendongak ke atas. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas. Melahirkan nuansa hati sedamai mata memandang. Ah, perasaan ini pernah kualami di masa-masa bunga berkembang dengan mahkota warna yang memesona. Keindahan visual itu menyerbak wangi mengundang kepakan sayap kupu-kupu bermain-main disekelilingku dan menghisap madu. Siapa yang bodoh jika ternyata kupu-kupu itu hanya mengenakan sayap palsu, dibalik topengnya dia masih ulat bulu yang menggelikan. Siapa yang bodoh jika semerbak wangi itu tidak lebih berasal dari parfum buatan yang dijual di pasaran dengan kadar alkohol tinggi. Kini aku bisa menjawab dengan tegas kalau semuanya bodoh. Sebaiknya aku segera menemukan pengganti kaca mata yang sempat membutakan pandangan hidupku bertahun-tahun. Aku lega kaca mata itu sudah pecah, walau dengan cara yang menyakitkan hingga luka sampai menganga. (lebih…)

Bab I

Potret Langit Biru

 

            Gadis kecil itu menatapku dengan tajam. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada keberadaanku tanpa mengubah posisi duduknya. Dia terlihat nyaman dengan menyandarkan tubuh kecilnya di bawah pohon rindang. HIjau daunnya bergerak pelan mengikuti alunan semilir angin yang berhembus lembut. Aku yang berdiri sejauh lima meter dari anak kecil itu seakan ikut mengalun mengikuti gerakan angin. Matahari memancarkan sinar hangat. Cahayanya menerobos masuk melaui celah-celah ranting pohon yang begitu lebat. Kemilaunya memantul ke segala arah, salah satu pantulannya mengenai wajah anak kecil itu. Wajahnya seakan bersinar. Dan sorot mata hitamnya masih menatapku tajam. Setajam pisau yang telah menggores bagian dalam tubuhku. Luka itu masih menganga hingga sekarang. Tapi biarlah, semua orang pernah mengalah atau pun kalah, tapi tidak semua orang sadar akan rasa salah atas semua hasil perbuatannya. Entahlah, aku tahu salah tapi tidak seharusnya semua orang menyalahkanku. Dua tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk kita jalani. Putaram jutaan detik masih membuat ibu bungkam. Waktu akan membantuku menyelesaikan semuanya, namun siapa yang bisa memastikan kalau berjalannya waktu malah membuatku diriku terpojok dalam persimpangan konflik abstrak. Kecuali waktu berjalan mundur dan takdir Tuhan bsa dikompromikan. Mustahil. Lebih baik aku menertawai diriku sendiri.

            “Bapak!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak keras seraya tangan kanannya menunjuk ke atas. Kepalanya juga mendongak ke atas. Mataku berputar seketika. Tidak ada orang lain selain aku di sini. Lalu aku pun mendongak ke atas. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas. Melahirkan nuansa hati sedamai mata memandang. Ah, perasaan ini pernah kualami di masa-masa bunga berkembang dengan mahkota warna yang memesona. Keindahan visual itu menyerbak wangi mengundang kepakan sayap kupu-kupu bermain-main disekelilingku dan menghisap madu. Siapa yang bodoh jika ternyata kupu-kupu itu hanya mengenakan sayap palsu, dibalik topengnya dia masih ulat bulu yang menggelikan. Siapa yang bodoh jika semerbak wangi itu tidak lebih berasal dari parfum buatan yang dijual di pasaran dengan kadar alkohol tinggi. Kini aku bisa menjawab dengan tegas kalau semuanya bodoh. Sebaiknya aku segera menemukan pengganti kaca mata yang sempat membutakan pandangan hidupku bertahun-tahun. Aku lega kaca mata itu sudah pecah, walau dengan cara yang menyakitkan hingga luka sampai menganga.   (lebih…)

 

Sosok lelaki dengan tubuh tinggi dan memiliki badan yang agak gendut itu masih menampakkan keceriaan wajahnya. Usianya bisa dibilang hampir mencapai separuh abad, tapi lelaki itu tidak pernah mengeluh karena usianya yang mulai menua. Mungkin karena senyumnya yang senantiasa merekah dan membuat orang-orang yang berinteraksi dengannya merasa senang, jiwa lelaki itu tak mau kalah dengan para pemuda. 

“Selamat siang Bu,” lelaki itu menyambut seorang perempuan muda berpakaian dinas kerja memasuki ruangan bank seraya membukakan pintu. Perempuan itu pun hanya membalas senyum datar tanpa berkata apa pun.

“Selama datang, Pak,” kali ini yang datang seorang pria yang mengenakan kemeja putih dengan dasi motif garis hitam-putih. Pintu pun terbuka dan pria berdasi itu acuh karena disibukkan dengan telepon genggamnya. 

Berdiri di dekat pintu, menyapa ramah dan membukakan pintu bagi nasabah yang keluar masuk bank. Ya, sudah dua tahun berjalan lelaki itu menyandang sebagai satpam di salah satu bank kota Jakarta. Lelaki itu terlihat gagah dengan seragam putihnya, di bagian sebelah kanan atas saku tercantum namanya dengan jenis huruf arial bold, Sutrisno.

“Pak Sutris,” rekan seprofesinya yang berjaga di pos parkir menghampiri. Dia jauh lebih muda dari Pak Sutris, umurya masih kepala tiga.

Pak Sutris menyambut rekan kerjanya yang sudah dianggap seperti anaknya itu dengan senyum khasnya. “Ada apa Nak Ahmad, kok memasang muka sedih begitu?”

Beberapa saat Ahmad terdiam. Beberapa kali dia menelan ludah, seakan-akan dia seperti menelan kembali kata-kata yang akan dilontarkan pada Pak Sutris.

Lagi-lagi Pak Sutris tersenyum melihat Ahmad, “Sudah, katakan saja pada Bapak.”

“Pak, saya mau pinjam uang lagi,” Ahmad berkata lirih, kemudian dia menundukkan kepalanya. “Saya minta maaf Pak, uang pinjaman minggu kemarin belum bisa saya kembalikan dan sekarang…”

Pak Sutris menepuk bahu Ahmad. Dipandangi lekat-lekat wajah pemuda itu. Pak Sutris pun tersenyum. Sungguh sulit bagi Pak Sutris untuk berkata tidak jika dimintai bantuan, apalagi keadaan Ahmad untuk saat ini memang sangat membutuhkan biaya untuk anak sulungnya yang terbaring di rumah sakit. (lebih…)

Emaaaak….!

Posted: 01/31/2009 in Cerita Pendek

Dengan kecepatan tinggi, sepeda motor dari arah utara menyambar seorang perempuan setengah baya yang tengah menyebrang.

“Aarrrggghhh…,” teriakan orang-orang yang melihat kejadian di depan stasiun itu terdengar mengerikan. 

Dari kejauhan di seberang jalan, Indah melihat kecelakaan itu. Perempuan setengah baya itu terseret sekitar satu meter. Sang pengendara tergeletak tak jauh dari sepeda motornya yang ambruk. Helm teropong menyelamatkan jiwanya – semoga. Tubuhnya bergerak-gerak. Menggeliat kesakitan.

Orang-orang berlarian untuk menolong. Beberapa di antara mereka berteriak minta bantuan pada siapa saja yang tergerak hatinya. Dan, hati Indah tergerak untuk menolong, tapi kakinya terpaku seperti patung. Kedua tangan Indah menutup mulutnya yang masih menganga. Dahinya berkerut. Ngeri. Seluruh tubuhnya seakan-akan terasa ikut sakit.

“Ayo tunjukkan keberanianmu untuk menolongnya, Indah. Apa kamu lupa, bahwa status kamu sekarang adalah mahasiswa Akademi Perawat? Dan apa seorang calon perawat tidak mampu memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan?” suara nurani Indah menggugahnya.

Sesaat Indah masih diam. Tapi akhirnya Indah berlari ke arah orang-orang yang sedang mengangkat tubuh perempuan itu ke tepi jalan. Kendaraan yang semula sudah memadati jalan depan stasiun itu, kini semakin ramai. Macet. Masalahnya banyak orang-orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian. Banyak juga kendaraan yang ikut berhenti sekedar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Indah menyebrangi jalan dengan sangat hati-hati. Dilaluinya kerumunan orang-orang yang malah antusias bercerita tentang runtutan peristiwa. Mereka menduga, mengira-ngira dan menyimpulkan sendiri. (lebih…)

Elegi Pernikahan Lara

Posted: 01/23/2009 in Cerita Pendek

           Perlahan Lara membuka kedua kelopak matanya. Silau cahaya memancar dari segala arah. Ia memicingkan matanya, mengintai ruangan ruangan serba putih dengan pandangan kabur. Kemudian ia memejamkan matanya – satu dua detik. Ah, ia merasakan sakit menyerang kepalanya. Dibuka kembali pandangannya, cahaya masih memenuhi ruangan serba putih ini. Dimana aku? Apa aku sudah mati? Pikirannya penuh dengan tanda tanya. Berangsur-angsur pandangannya mulai jelas. Bayangan matanya menangkap sosok perempuan setengah baya tengah menghampirinya.

            “Ibu,” ucap Lara pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

            Perempuan dengan kebaya sederhana warna coklat dan rambut bersanggul itu menyeringai lebar ke arah putrinya, “Syukurlah Nak, kamu sudah siuman.”

            “Ibu, Lara ada di mana?”  Lara mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ruangan kecil bercat putih dengan nyala lampu terang, meja kecil berukuran persegi – dipenuhi buah-buahan, beberapa bungkusan plastik yang entah apa isi di dalamnya dan satu rangkaian bunga mawar –  berada tepat di samping kanan tempat Lara terbaring. Kondisinya lemah.

            Ibu Lara hanya menunduk sedih melihat keadaan putri semata wayangnya. Lalu tangan sang ibu menggenggam erat tangan kanan Lara, tapi ia menyambutnya tanpa tenaga. Sentuhan fisik diantara keduanya seolah mampu menjelaskan semuanya. (lebih…)