Archive for the ‘Cerita Pengalaman’ Category

CCA5

Jagoanku sudah berumur 28 minggu. Tepat 7 bulan. Alhamdulillah. Kalimat syukur terus kusebut saat melihat dede bayi seolah berenang di dalam air ketuban. Tangannya terlihat menggenggam, kakinya bergerak menendang, dan bibirnya terlihat mungil. Lucu sekali, aku tak sabar menantikan kelahirannya. Mirip siapa ya nanti, mirip aku atau istriku? Atau mirip eyang putri dan eyang kakung, atau malah mirip Arjuna di serial Mahabarata, mirip Aliando di sinetron GGS (Ganteng-Ganteng Serigala), atau mirip Adipati Dolken pemeran Keenan di film Perahu Kertas. Hahaha… entah mirip siapa, yang jelas dede bayi adalah anak kebanggaan Abi yang senantiasa kami jaga. Berikut adalah 7 penjaganya:

1. Manggis
“Kabar gembira untuk kita semua, kulit manggis kini ada ekstraknya.” Ini bukan iklan Mastin ya, tapi hanya meminjam sepenggal jingle iklan TV yang terkenal itu buat opening. Berkaitan dengan buah manggis, ternyata sangat bagus untuk ibu hamil. Kandungan yang terdapat dalam buah manggis mampu memberikan asupan nutrisi selama kehamilan. Karena buah manggis mengandung vitamin C, asam folat dan mangan. Kemarin istri tiba-tiba minta dibeliin buah manggis. Aku beliin di pasar Cipadu, sekilo dua puluh lima ribu. Aku tawar sepuluh ribu disewotin sama penjualnya. Akhirnya kena dua puluh ribu sekilo, tapi sama penjualnya dikurangin satu buah manggisnya. Dasar bapak-bapak nggak jago nawar hehe…

Tidak hanya manggis, alpukat dan jeruk juga mengandung asam folat. Untuk bumil dianjurkan memperbanyak konsumsi buah-buahan. Oh iya, kurma juga sangat bagus karena kandungan zat besi yang dapat membantu hemoglobin mengingat ibu hamil sangat rentan terhadap anemia. Hemoglobin normal 12-14 g/dL. Waktu pemeriksaan laboratorium di RS Bhakti Asih kemarin, hasil hemoglobin istri 10,5 g/dL. Wah, harus banyakin makan kurma nih. Tapi kata dokter Wisnu di RS Sari Asih, masih termasuk normal. Semoga istri dan dede bayi baik-baik saja.

2. No Seafood
Aku dan istri paling doyan seafood. Tapi selama kehamilan, kita berdua puasa seafood dulu. Loh, kok bapaknya ikut-ikutan ga makan seafood. Iya, seafood kan mahal hehe…*edisihematbeib* Beneran, seafood tidak baik dikonsumsi untuk bumil. Dikhawatirkan mengandung merkuri atau logam yang berbahaya bagi perkembangan janin. Hmmm… padahal kita pengen banget makan gratis di Loby Lobster saat perayaan ulang tahun. We are what we eat, berhati-hatilah dengan apa yang kita makan. Apalagi seafood memiliki kadar kolesterol yang tinggi dan berbahaya bagi yang alergi *alergimakananmahal*

Yang perlu diperhatikan lagi adalah makan daging. Daging memang kaya dengan zat besi, tetapi kualitasnya harus bagus dan dimasak sempurna. Daging sapi atau steak terkadang dimasak “medium well” agar juicy dan tidak alot. Itu berbahaya, karena mengandung bakteri yang memicu sakit perut. Kita makan ayam dan ikan air tawar dulu ya demi kesehatan dede bayi. Boleh saja ke Holicow, asal dimasak “welldone” dan pas ultah aja ya hehe…

3. No Kosmetik
“Kamu cantik, meski tanpa bedak.” Lirik lagunya Tulus yang judulnya Satu Hari Di Bulan Juni cocok banget buat bahas tema kosmetik. Bukan berarti ibu hamil tidak boleh berdandan, tapi perlu diperhatikan kosmetik yang dipakai. Berikut nama kandungan kimia yang terbukti berbahaya dan dilarang oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM); Merkuri (disalahgunakan pada krim dan losion pemutih kulit yang menyebabkan gangguan pada perkembangan janin), Hidrokinon, Asam Retinoat/Retionic Acid (biasanya terdapat pada obat jerawat), Resorsinol, Diethylene Glycol (DEG), Bahan Pewarna Merah K.3, Merak K.10 dan Jingga K.1 (zat warna sintesis pewarna tekstil yang disalahgunakan pada lipstik, eye shadow, perona pipi). Untuk daftar kosmetik yang telah terdaftar di BPOM dapat diakses di www.pom.go.id

Istri paham betul dengan hal ini, walau tanpa kosmetik istriku tetap cantik kok. Kalau bilang nggak cantik siap-siap digaplok sandal jepit, lebih gawatnya lagi kalau sampai mogok masak. Bencana deh. Hahaha…

4. Be Positive, Fun and Happy
Jangan sampai ibu hamil mengalami stres, karena akan berpengaruh terhadap perkembangan janin. Jika senantiasa berpikir positif, rileks, dan selalu senang, tubuh akan menghasilkan hormon oksitosin dan endorphin yang berfungsi sebagai antinyeri alami, melancarkan peradaran darah, metabolisme tubuh lancar dan membuat ibu hamil merasa nyaman. Dan tentu berkaitan dengan sel saraf di otak janin dapat berkembang optimal. Wah, ini tugas utama suami untuk membuat senang istrinya. Backsound lagunya The Corrs, “What can I do to make you happy?”

5. Diajak Ngobrol
Di usia 6 bulan janin sudah bisa mendengarkan suara. Mengajak bicara dengan suara lembut, calon buah hati akan mengenal kalau orang tuanya adalah sosok yang penuh kasih sayang. Aktif berbicara, mendongeng atau bernyanyi. Disertai dengan mengelus-elus perut, ternyata usapan lembut pada perut mampu menstimulasi kecerdasan anak.

6. Musik Klasik
Memasang musik klasik pada janin di kandungan akan membuatnya pintar. Benarkah? Pasalnya intelegensia ditentukan 60-80% oleh gen. Menurut buku yang kubaca – judulnya Kamus 505 Mitos & Fakta karya Nadia Mulya – dijelaskan bahwa suara yang membuat janin tenang adalah suara yang teratur seperti detak jantung Ibu, sementara musik klasik memiliki frekuensi 5.000 – 8.000 Hz, sesuai dengan detak jantung janin. Karya Mozart memiliki frekuensi terbanyak yang hampir semuanya bernada mayor serta teratur dari segi tempo dan struktrur nada.

Bahkan peneliti di University of California tahun 1993 menemukan “The Mozart Effect”, yaitu mahasiswa yang mendengarkan sonata piano Mozart sebelum ujian menunjukkan hasil yang lebih baik selama 15 menit dibandingkan mahasiwa yang mendengarkan lagu lain atau tidak mendengarkan lagu sama sekali. Dasar pemikiran inilah yang mendasari menggunakan karya Mozart untuk meningkatkan kecerdasan pada janin.

Pada dasarnya, Istri memang suka mendengarkan musik klasik. Sah-sah saja selama membuat istri rileks dan senang, karena akan dirasakan oleh janin. Bukan mengharapkan hasil yang muluk, kalau nanti dede bayi lahir dengan otak genius, bisa jadi dari gen orang tua *ehem… uhuk!*, bisa jadi pengaruh dari musik klasik, dan yang pasti kekuasaan sang Pencipta.

7. Lantunan Al-Quran
Bagi umat muslim, Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan yang diperdengarkan. Mendengarkan bacaan ayat Alquran yang disenandungkan secara merdu memiliki gelombang alpha pada otak bayi. Ini juga menjadikan pikiran yang tenang, kesehatan dan intelejensi meningkat. Bahkan dalam scan dan ulltrasonografi (USG) menunjukkan bayi bersujud ketika dibacakan ayat Alquran. MasyaAllah.

Nah, itu seven guards-nya. Semoga istri dan dede bayi sehat selalu. Rasanya sudah tidak sabar menunggu lahiran, menggendong buah hati dengan penuh cinta.

*sumber: konsultasi langsung dengan lulusan mahasiswi UI jurusan Kesehatan Masyarakat *colek istri pake pensil gambar yang mengaku tidak salah ambil jurusan*, dokter spesialis kandungan, buku Kamus 505 Mitos & Fakta karya Nadya Mulya, buku Catatan Ayah Asi – www.ayahasi.org , dan mbah google.

Iklan

Jpeg

TERAKHIR KONTROL KANDUNGAN, sekitar sebulan yang lalu menjelang lebaran. Sepulang kerja aku langsung bergegas untuk mengantar istri ke RS Sari Asih – Ciledug. Kali ini, kita akan bertemu dengan dokter Wisnu. Setelah kita cari referensi dari beberapa blog, ocehan para ibu di forum ibu hamil dan kata orang-orang terdekat, dokter Wisnu recomended. Sebelum bertemu dokter Wisnu, berikut adalah list shoping dokter yang pernah kita kunjungi:

Yang pertama adalah dokter Arum di RS Sari Asih – Ciledug, dua kali kita kontrol dengan dokter muda ini. Menurutku dokter Arum mirip artis sinetron jaman dulu yang punya tahi lalat di bawah bibir, aduh lupa siapa nama artisnya. Seangkatan sama Lulu Tobing di sinetron Tersanjung. Penilaian kita terhadap dokter Arum, kita merasa kurang puas walaupun dia mirip artis sinetron yang sudah tidak terkenal lagi. Menurutku sih agak pelit informasi, kurang menjelaskan dengan gamblang dan tidak memberi wejangan terkait kehamilan. Kalau kita tidak aktif bertanya, ya tinggal USG aja trus dikasih resep. Kalau cara kerja dokter spesialis seperti itu, yang kelihatan pinter itu alat USG-nya bukan dokternya. Mohon maaf dokter Arum, kita memutuskan untuk mencoret nama Anda.

Pilihan yang kedua adalah dokter Hendri di Klinik PMC (Petukangan Medical Center). Awalnya sih kita ragu untuk kontrol di klinik, takut pelayanannya lebih buruk dari rumah sakit. Tapi setelah kita coba, ternyata dokter Hendri sangat ramah dan welcome. Walau antrinya juga lumayan sih, sampai para bapak-bapak pengantar bumil ga dapat tempat duduk. Dan, dokter Hendri berhasil memuaskan kami yang haus informasi. Waktu USG pun, dokter Hendri menjelaskan dengan detil bagian organ si debay (dede bayi). Kekhawatiran istri pun diredakan dengan wejangan positif, bahwa semua baik-baik saja. Ini baru dokter spesialis, ga hanya baca hasil layar USG. Selamat dokter Hendri, nama Anda masuk ke dalam check list kami.

Ketiga, kita dapat rekomendasi dari mertua untuk ke RSB (Rumah Sakit Bersalin) Avisena dengan dokter Erwin. Luar biasa, antrinya itu sangat panjang. Begitu masuk Avisena, mataku langsung merasa kurang nyaman dengan lukisan dinding tembok di ruang tunggu yang kusam. Kenapa tidak pake wall stiker aja, tinggal printing di poncol atau benhill. Apalagi monitor komputer di meja resepsionis masih berkonde, entah pentium berapa. Belum lagi kartu berobatnya yang masih manual ditulis tangan, tidak menggunakan card seperti kartu ATM. Jadul banget kan? Kita pun duduk manis di ruang tunggu menanti nama istri dipanggil. Nama-nama bumil pun dipanggil, tapi baru dipanggil sebentar saja sudah keluar. Prediksiku per orang untuk melakukan konsultasi dengan dokter dan pemeriksaan USG paling cepat 10 menit, disini hanya 2 menit. Akhirnya nama istri dipanggil. Langsung sama dokternya disuruh berbaring. Diolesi cairan – entah apa namanya – untuk USG sama perawatnya, lalu dokter Erwin memeriksa sebentar. Sial, alat USG jadul! Tidak bisa melihat bagian organ tubuh debay dengan detil, dan si dokter hanya bilang sehat. Berat tidak dikasih tahu, usianya berapa minggu berapa hari juga tidak dikasih tahu. Parahnya adalah cairan yang diolesin di perut istri suruh bersihin sendiri. Perawatnya bilang, “Itu Bu, tissuenya ada di samping.” Semprul, pelayanan macam apa kayak gini. Jangan-jangan nanti kalau bersalin di Avisena, suruh lahiran sendiri. Huh! Mohon maaf dokter Wisnu dan RSB Avisena, kita memutuskan untuk mem-blacklist nama Anda.

Keempat, akhirnya kita duduk di ruang tunggu mengantri untuk dokter Wisnu di RS Sari Asih. Sebelum kujelaskan bagaimana dokter Wisnu ini, mari kita lihat suasana di RS Sari Asih ini. Dimulai dari seragam perawatnya, warna bajunya hijau pupus dipadu kerudung shocking pink. Hmmm… menurutku mirip bunga berjalan. Terus desain logo RS Sari Asih yang mirip logo ON Clinic, hehe…gatal nih tangan pengen redesain logonya. Oke, abaikan hal-hal kecil itu. Kita akan membahas masalah besar, yaitu layanan BPJS. Ceritanya kita mau mencoba memanfaatkan BPJS. Ternyata kartu yang dulunya ASKES ini, sedikit merepotkan. Mulai mengurusnya kudu antri di kantor BPJS, trus harus menyertakan surat rujukan dari puskesmas dengan pelayanan yang super super super slow banget. Ibarat nonton film india berdurasi 3 jam dan diberi efek slow motion. Sempurna banget Puskesmas Inpres Larangan Utara ini. Dan ternyata pelayanan BPJS di RS Sari Asih hanya berlaku Senin-Jumat pukul 8 pagi – 11 pagi. Kok BPJS kayak sistem paket internet ya? Akhirnya kartu BPJS gagal digunakan, lha wong dokternya adanya sore. *elap keringet*

Oh iya, belum diceritakan tentang dokter Wisnu. Dokter Wisnu orangnya ramah dan berhasil memuaskan pertanyaan-pertanyaan kita. Kita cocok dengan dokter Wisnu. Dokter Wisnu bilang, dia pro normal. Ini yang kita cari. Tapi terkait dengan pelayanan BPJS, kebijakan dari RS Sari Asih untuk lahiran normal tidak bisa menggunakan BPJS. Hmmm… semua ada plus minusnya. Dan kami mengucapkan selamat untuk dokter Wisnu, nama Anda masuk ke dalam check list kami.

Tidak puas sampai disini, kami akan terus mencari dokter kandungan dan rumah sakit yang benar-benar pas buat kami. Kok pilih-pilih banget sih. Harus dunk, kami sebagai calon orang tua akan memberikan yang terbaik buat debay. Karena anak adalah amanah dari sang pencipta. So, who’s the next doctor? ***

 

CCA3

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Anakku…

Apa kamu baik-baik saja disana? Kuharap iya, walaupun Abi belum bisa melihat senyummu. Awal Juni kemarin, Abi bersama Bundamu memeriksakanmu ke klinik. Kata dokter, usiamu kini 12 minggu dan panjangmu sekitar 8 cm. Masya Allah, Abi bisa melihatmu sedang bergerak-gerak. Pada titik ini, hampir semua organmu terbentuk, terus tumbuh dan berkembang sampai saat kelahiranmu. Aku bisa melihat jari-jarimu, kakimu juga mulai terpisah. Sedangkan alat kelamin mulai mengambil karakteristik gendermu. Abi dan Bundamu tidak masalah kamu terlahir laki-laki atau perempuan, sama saja. Itu amanah dari Allah, kami akan menjagamu dengan penuh cinta. Ah, Abi selalu merasa terharu ketika melihatmu di mesin canggih bernama USG itu. Rasanya semua masalah dan rasa capek hilang begitu saja. Abi dan Bundamu pulang dengan perasaan lega dan bahagia. Terimakasih Nak, kamu hadir melengkapi cinta kita.

Oh iya Nak…

Abi ingin bercerita sedikit tentang perjuangan Bundamu. Bundamu masih terus mual hingga saat ini, terkadang perutnya terasa panas, dan semalam kepalanya pusing. Makan jadi tak berselera, sedikit sekali nasi yang diambilnya. Tapi Bundamu masih memaksakan untuk tetap beraktivitas, menyelesaikan pekerjaannya menggambar komik – terkadang mengerjakannya di jam 2 pagi. Berlanjut Setelah sholat subuh, menyalakan kompor dan menyiapkan bekal makanan untuk Abi. Bundamu jago memasak, kamu jangan khawatir nanti bakalan dimasakin makanan yang enak-enak. Klo Abimu jago makan haha… biar badan Abi kuat saat menggendongmu nanti.

Anakku…

Satu hal yang perlu kamu ketahui. Saat kamu berusia 120 hari atau 4 bulan, Allah meniupkan ruh padamu dan mengutus malaikat untuk mencatatkan rezekimu, kematianmu, amal perbuatanmu dan nasibmu. Tapi kita semua tidak ada yang tahu, catatan 4 perkara ini sengaja dirahasiakan agar manusia tetap berusaha menjadi yang terbaik. Semoga kamu nanti menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua, dan mencintai Allah SWT.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Salam cinta,

Abi

 

Gak berasa nih, waktu cepat bergulir. Dari masa jomblo, sekarang sudah punya istri, hihihi… *ceileh sombong nih pengantin baru* Tepatnya, tanggal 8 Maret 2014 terucap kalimat sakral di depan penghulu dan dua saksi. “Saya terima nikah dan kawinnya Septia Indah Rosiana dengan mas kawin tersebut tunai.” Alhamdulillah, tamat sudah FTV “Petualangan si Jomblo Kece yang Galau” di tutup adegan yang sangat mengharukan. Ini yang seharusnya menjadi sentilan untuk cerita FTV, endingnya tidak pernah ada yang berakhir di Ijab Qobul. Yang paling sering menjadi ending FTV adalah adegan dua sedjoli bergandengan tangan di pinggir pantai, atau adegan kumpul keluarga yang menunjukkan bahwa hubungan mereka sudah direstui dan semua pemain tertawa lepas, lalu credit title. Selalu bisa ditebak. Oke, skip dulu, saya tidak akan membahas FTV.

Masa-masa setelah pernikahan, justru yang banyak cerita. Banyak adegan-adegan drama yang cocok untuk pengembangan cerita FTV selama ini. *aduh, kenapa bahas FTV lagi -_-* *skip*

Beberapa minggu kemudian…

Setiap pagi istri mengeluh mual-mual pengen muntah. Wah, jangan-jangan istri hamil. Saat itu, yang saya rasakan ada dua hal. Pertama adalah dugaan, kedua adalah berharap dugaan itu benar – positif hamil. Setelah mendapat pesan dari istri untuk beli test pack, sepulang kerja saya mampir ke apotek. Begitu masuk apotek, cukup ramai pembeli dan beberapa orang duduk-duduk di kursi tunggu. Sebentar, saya perhatikan kok pembelinya perempuan semua, yang melayani pengambilan obat perempuan, kasirnya juga perempuan. Saya nggak salah masuk apotek khusus perempuan kan? Ya kali apotek kayak Commuter Line (CL), ada gerbong khusus perempuan. Pernah sekali salah masuk gerbong khusus wanita, langsung mendapat lirikan tajam nan sadis dari para perempuan. Mungkin diantara lirikan mereka, ada lirikannya Dinda hihihi… *maklum, waktu itu baru awal-awal naik CL*

Kembali ke apotek. “Mbak, beli test pack,” ucap saya pelan. Lagi-lagi dapat lirikan mbak-mbak yang mengantre di sebelah saya. Mungkin tampang saya yang masih muda *ehem* tidak ada tampang suami, sedikit dicurigai sebagai pemuda yang baru saja menghamili pacarnya, hihihihi… Mungkin lain kali saya perlu membawa tulisan SUAMI SIAGA yang ditempel di jidat 😀komik test pack

Saya pulang ke rumah membawa dua test pack dengan merk yang berbeda, untuk memastikan keakuratannya. Keesokan harinya, saatnya menguji test pack pada urine pertama di pagi hari. Sedkit menegangkan. Dan sebagai suami, saya sih berakting stay cool aja, tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasanya dag-dig-dug, hehe…

“Mas, stripnya dua sih, tapi kok strip satunya nggak jelas ya?” ucap istri seraya mengangkat test packnya . Saya memperhatikan alat yang bernama test pack itu cukup lama. Tanpa kata. Ceritanya makin penasaran. Benarkah positif? Kamera zoom ke wajah istri, kemudian zoom ke wajah suami. Bersambung besok pagi, mau mencoba test pack yang satunya.

Keesokan harinya setelah dicoba, ternyata hasilnya sama saja. “Mas, strip satunya kok masih nggak jelas ya?”

“Kita ke dokter saja.”

Setelah hasil googling dan nanya ke teman-teman terdekat, akhirnya kita memutuskan ke RS Sari Asih Ciledug. Saat itu, tanggal 14 April 2014. Sepulang kerja, tanpa ganti baju saya langsung mengantar istri menuju rumah sakit. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Katanya sih RS disini cukup bagus. Setelah melihat daftar nama-nama dokter spesialis kandungan, pilihan kita jatuh pada dokter Arum Purnagari, Sp.OG. Sepertinya dokter baru, karena track record-nya di internet belum ada, hehe… Yang paling terkenal adalah dokter Roza *terkenal juteknya :p* dan dokter Wisnu. Ada dua teman yang sudah berpengalaman lahiran di rumah sakit tersebut, tidak merekomendasikan ke dokter Roza. Tapi waktu saya duduk di ruang tunggu, antrean pasiennya dokter Roza kok cukup banyak. Hmmm… sebenarnya pengen ke dokter Wisnu, tapi istri mau dokternya cewek. Ya sudahlah, semoga kita cocok sama dokter Arum. Kita cari dokter yang pro lahir normal, pro ASI dan pro IMD (Inisiasi Menyusu Dini) *cieeee… efek setelah baca buku Ayah ASI nih*

Ternyata setelah di USG, belum terlihat apa-apa. Tapi kata dokter Arum, “Usia kandungannya masih sangat muda, jadi belum terlihat di USG.  Tiga minggu lagi datang kesini, kemungkinan sudah terlihat. Selamat ya, sudah positif hamil.”

Lagi-lagi saya tidak bisa mengekspresikan rasa senang ini, tidak ada adegan koprol dan jungkir balik di ruang dokter. Senyuman bahagia terukir di senyum kita berdua. Alhamdulillah. ***

-coming soon-

Pernahkah kita memerhatikan bahwa rel kereta api itu semakin jauh semakin terlihat mengecil kemudian hilang. Barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan hidup. Padahal jika kita terus berjalan menelusuri rel kereta itu, tidak ada rel yang menyempit. Seringkali kita melihat hidup ini hanya sejauh mata memandang. Dunia ini fana, kita tahu istilah itu. Akan ada kehidupan yang kekal pada nantinya – guru ngaji kita sudah mengenalkan kata akhirat di masa seragam merah putih – kita pun tahu itu. Yang perlu kita benar-benar tahu adalah apakah kita sudah berada di jalur rel kereta yang benar? Jalan inilah yang menentukan ke arah manakah kita akan melangkah.

Taffaquh Fiddin adalah bagian dari perjalanan yang mengajak kita melaju di rel yang tepat. Pancaran wajah-wajah peserta Taffaquh Fiddin memberi isyarat kedamaian hati dalam kereta berlabel YISC Al-Azhar. Paling tidak, mereka semua mempunyai satu niat tulus belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Allah. Meskipun masih banyak cabang niat lain, it doesn’t really matter. Taffaquh Fiddin menjadikannya irama silaturahmi yang indah. Obrolan kecil saat keberangkatan naik bus dan berlanjut gesekan interaksi dalam games outbond, tidak terasa telah mengikat benang emosional yang membuat kita berucap bangga, “aku menemukan saudara seiman disini”. Inilah nilai-nilai yang tidak bisa digantikan dengan materi. Orang-orang diluar sana salah besar jika masih menganggap bahwa materi adalah segalanya, kekuatan persaudaraan jauh lebih dahsyat.

“Taffaquh Fiddin itu ibarat pecah telur. Dari sinilah mulai cair suasana keakraban,” kata seorang teman dalam obrolannya di agenda rapat pemandu.  Aku menambahkan pendapatnya dalam hati, “Bagiku Taffaquh Fiddin bisa diibaratkan sebagai kepompong, tak lama lagi kita akan lihat mereka terbang dengan kepakan sayap kupu-kupunya yang indah menghiasi dakwah di YISC Al-Azhar.”

It’s so beautiful…

Sinergi dengan filosofis kehidupan manusia, bahwa dalam rangka meniti perjalanan hidup kita harus mampu mengkonstruksi, merubah adat kebiasaan yang negatif. Kita harus berani merevolusi diri seperti halnya kupu-kupu. Karena kita mempunyai akal untuk berfikir untuk membaca bagaimana ulat menjadi kepompong, bagaimana proses panjang kepompong menjadi kupu-kupu yang indah dan mempesona. Si ulat yang menggeliat menjijikkan berani  bermimpi dan menggapai cita-citanya untuk bisa terbang. Tekadnya yang kuat menggerakkan dirinya untuk “berpuasa” dalam proses kepompong dan akhirnya berubah menjadi makhluk cantik si kupu-kupu.

A better way of life, a better you…

Perubahan untuk menjadi lebih baik dalam setiap individu, tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah. Perjalanan yang tidak flat, seperti saat di persimpangan rel kereta yang bercabang. Ada satu arah yang benar, tapi sebuah pilihan untuk menentukan arah kereta yang kita bawa. Ulurkan tangan kalian, kita bergandengan tangan menelusuri jalanan kehidupan ini dengan cahaya islam. ***

*Taffaquh Fiddin 14-15 April 2012 di Villa Dempo, Puncak-Bogor bersama saudara-saudara terbaik

Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. Tapi guruku mengernyitkan dahinya saat melihatku menggambar lalu bertanya, “Kamu menggambar apa?”  Aku menjawabnya dengan lugu, “Doraemon.”

Kembali ke topik kucing berbulu coklat sedikit tebal, badannya kurus dengan ekor panjang yang beredar di sekitar kamar kost. Aku masih ingat dengan kucing itu, dia adalah tersangka utama yang pernah mencuri lele – makanan sahurku ramadhan tahun lalu. Tapi saat lebaran aku sudah memaafkan kesalahannya. 🙂

Satu kebiasaannya yang bikin kesel, pagi-pagi saat mau menyalakan sepeda motorku… Huh, banyak bulu-bulu warna coklat berjatuhan di atas jok motor. Hmmm…pasti si kucing semalam tidur disini deh. Seharusnya si kucing keramas dulu pake shampo anti rontok sebelum tidur.  Dan membersihkan bulu-bulu kucing bisa menghambat waktuku sekitar 30 detik untuk mengejar absen. Telat masuk kantor 1 detik saja, maka akan dipotong 2% dari presentasi prestasi UK (Uang Kinerja) dan 1 hari dari presentasi absen akan berkurang. Selain itu akan ada efek-efek seperti tidak bergairah bekerja, otot terasa lemah dan adrenalin saat berlari-lari mengejar absen terasa sia-sia.

Aku tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Tidak seperti lagu anak-anak yang sudah mengajarkan untuk menyalahkan si Komo yang hanya numpang lewat. Apa salahnya coba? Hehe…  Tapi hari-hari berikutnya, bulu-bulu si kucing makin banyak yang rontok di atas jok motorku. Pertanyaan penting adalah, kenapa si kucing memilih tidur di atas jok motorku? Padahal di parkiran kost ada pilihan empat motor yang lebih bagus, lebih bersih, lebih mahal tentunya dan joknya lebih empuk dari motorku. Aku pernah bertanya langsung pada si kucing, dan untungnya si kucing hanya mengeong.

Aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Sebelum kucing itu tidur – biasanya si kucing tidur di atas jam 11 malam (hebat kan, aku sampai tahu jadwal tidur si kucing (-_-“) – aku menaruh dua helm di atas jok motor dan sedikit merenggangkan jaraknya hingga tidak ada space untuk tidur si kucing. Hihihihihii… :p

Subuh, aku mengintip dari balik jendela kamar. Yes,berhasil! Aku tidak melihat si kucing tidur di atas jok motorku lagi.

Saat mau berangkat ke kantor. Aaaaaarrrrrghhh… rontokan bulu-bulu kucing itu kini berjatuhan di atas tumpukan beberapa sepatuku. Itu menghabiskan waktuku 30 detik untuk mencari sikat semir sepatu yang entah dimana letaknya, 20 detik untuk membersikan sepatu dengan metode menyikat cepat dan 10 detik untuk melempar kaos kaki ke keranjang  cucian kotor – aku butuh beberapa kali untuk  bisa tepat memasukkannya karena aku tidak bisa olahraga basket.

Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Hanya saja si kucing tidur di tempat yang kurang tepat. Dan kebiasaan buruknya adalah tidak merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Huhuhuhuhu…

Sekali lagi aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Aku menaruh beberapa tumpukan kain – lebih tepatnya kaos lusuh yang sudah tidak aku pake lagi. Berharap si kucing tidur di tempat yang telah disediakan. Tapi dasar kucing, esok paginya masih ada rontokan bulu2 di sepatuku. Huft, tapi biarlah… Mungkin si kucing memang mencintai sepatu-sepatuku, tumpukannya yang berantakan pun terlihat seperti kasur empuk. Aku cukup mengambil satu sepatu yang sering kupakai ke kantor dan memasukkannya dalam kamar. Sepatu-sepatuku yang lain biarlah ditemani si kucing.

Aku membeli rak sepatu di pasar baru – menjelang waktu makan siang bersama rekan-rekan kantor.

Malamnya kurangkai rak sepatu baru berwarna abu-abu monyet dan menaruhnya di pojok depan kamar kost. Menata sepatu-sepatuku dengan cukup rapi,membersihkan barang-barang disekitar depan kamar yang tidak terpakai lagi dan sedikit menyapu lantai. Wow sekarang depan  kamarku terlihat lebih bersih dan cerah. ^_^

Tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Kulirik angka yang tertera di kayar HP, jam 2 pagi. MasyaAllah aku baru ingat, aku belum sholat isya’. Seuasai ambil air wudhu pikiranku tiba-tiba terlintas nasib si kucing, kalau ada rak sepatu si kucing tidur dimana? Aku membuka pintu kamar pelan-pelan dan ingin melihat si kucing sedang terlelap tidur di sebuah tempat yang nyaman baginya. Kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada sosok kucing terlihat.

Aku merasa bersalah. Tumpukan kain yang tadi sudah kubereskan, aku susun kembali . Cukup empuk, pikirku. Aku berharap si kucing baik-baik saja dan tidak tersinggung saat aku “mengusir dengan bahasaku sendiri” dengan membeli rak sepatu baru. Aku pun berharap besok malam si kucing datang lagi.

Sampai sekarang, tumpukan kain yang kusediakan tetap kosong. Aku tidak  pernah melihat wajah kucing itu lagi. Maafkan aku… T_T