-coming soon-

Iklan

Pernahkah kita memerhatikan bahwa rel kereta api itu semakin jauh semakin terlihat mengecil kemudian hilang. Barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan hidup. Padahal jika kita terus berjalan menelusuri rel kereta itu, tidak ada rel yang menyempit. Seringkali kita melihat hidup ini hanya sejauh mata memandang. Dunia ini fana, kita tahu istilah itu. Akan ada kehidupan yang kekal pada nantinya – guru ngaji kita sudah mengenalkan kata akhirat di masa seragam merah putih – kita pun tahu itu. Yang perlu kita benar-benar tahu adalah apakah kita sudah berada di jalur rel kereta yang benar? Jalan inilah yang menentukan ke arah manakah kita akan melangkah.

Taffaquh Fiddin adalah bagian dari perjalanan yang mengajak kita melaju di rel yang tepat. Pancaran wajah-wajah peserta Taffaquh Fiddin memberi isyarat kedamaian hati dalam kereta berlabel YISC Al-Azhar. Paling tidak, mereka semua mempunyai satu niat tulus belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Allah. Meskipun masih banyak cabang niat lain, it doesn’t really matter. Taffaquh Fiddin menjadikannya irama silaturahmi yang indah. Obrolan kecil saat keberangkatan naik bus dan berlanjut gesekan interaksi dalam games outbond, tidak terasa telah mengikat benang emosional yang membuat kita berucap bangga, “aku menemukan saudara seiman disini”. Inilah nilai-nilai yang tidak bisa digantikan dengan materi. Orang-orang diluar sana salah besar jika masih menganggap bahwa materi adalah segalanya, kekuatan persaudaraan jauh lebih dahsyat.

“Taffaquh Fiddin itu ibarat pecah telur. Dari sinilah mulai cair suasana keakraban,” kata seorang teman dalam obrolannya di agenda rapat pemandu.  Aku menambahkan pendapatnya dalam hati, “Bagiku Taffaquh Fiddin bisa diibaratkan sebagai kepompong, tak lama lagi kita akan lihat mereka terbang dengan kepakan sayap kupu-kupunya yang indah menghiasi dakwah di YISC Al-Azhar.”

It’s so beautiful…

Sinergi dengan filosofis kehidupan manusia, bahwa dalam rangka meniti perjalanan hidup kita harus mampu mengkonstruksi, merubah adat kebiasaan yang negatif. Kita harus berani merevolusi diri seperti halnya kupu-kupu. Karena kita mempunyai akal untuk berfikir untuk membaca bagaimana ulat menjadi kepompong, bagaimana proses panjang kepompong menjadi kupu-kupu yang indah dan mempesona. Si ulat yang menggeliat menjijikkan berani  bermimpi dan menggapai cita-citanya untuk bisa terbang. Tekadnya yang kuat menggerakkan dirinya untuk “berpuasa” dalam proses kepompong dan akhirnya berubah menjadi makhluk cantik si kupu-kupu.

A better way of life, a better you…

Perubahan untuk menjadi lebih baik dalam setiap individu, tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah. Perjalanan yang tidak flat, seperti saat di persimpangan rel kereta yang bercabang. Ada satu arah yang benar, tapi sebuah pilihan untuk menentukan arah kereta yang kita bawa. Ulurkan tangan kalian, kita bergandengan tangan menelusuri jalanan kehidupan ini dengan cahaya islam. ***

*Taffaquh Fiddin 14-15 April 2012 di Villa Dempo, Puncak-Bogor bersama saudara-saudara terbaik

WAHN

Posted: 11/27/2011 in Cerita Hikmah

“Kau sudah beberapa kali bertanya namaku, aku jawab namaku ‘nama’. Orang-orang memanggilku ‘nama’, kenapa kau masih bertanya siapa namaku. Lebih baik kau segera pergi dari ruangan kamarku, malam sudah larut dan aku ingin terhanyut dalam buaian mimpi indah bersama ‘cintaku’ yang tidak pernah lepas dari dekapanku. Kau tahu itu. Hei, kenapa kau memerhatikanku dengan tatapan tajam seperti itu. Sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu. Terserah kau mau pergi atau tidak. Aku ingin tidur sekarang.”

Malam gelap. Pekat. Gulita. Rembulan merasa terusik, cahayanya terhalang awan mendung. Ah, mungkin hujan akan turun. Biarlah, rembulan sudah lama tidak merasakan guyuran air hujan dan menari-nari layaknya ‘nama’ dan ‘cintaku’dalam dunia mimpi mereka. Bagaimana rembulan bisa tahu? ‘Nama’ sering  bercerita banyak tentang ‘cintaku’ yang selalu berada didekapannya. Rembulan jadi penasaran, ingin mengintip ‘nama’ dan ‘cintaku’. Sayangnya mendung sedang menghalanginya.

Masih malam, tepatnya sepertiga malam. Beberapa rumah memancarkan cahaya keimanan oleh sujud hamba Allah dengan penuh syukur. Sebagian orang menangis, beban-beban dosa yang dipikulnya mulai perlahan berguguran karena taubatan nasuha. Tapi rumah mewah ‘nama’ tetap gelap. Tidak ada cahaya. ‘Nama’ tertidur pulas, kedua tangannya memeluk erat celengan ayam berwarna kuning yang diberi nama ‘cintaku’. ‘Nama’ mencintai ‘cintaku’ lebih dari apa pun. Lihat, perhatikan foto-foto yang terpasang di dinding kamar. Foto bersama teman-temannya ketika masih SMP, ‘nama’ tertawa lebar dan tangan kanannya memegang celengan ayam itu. Lihat juga fotonya saat berbalut seragam abu-abu putih, ‘nama’ mencium ‘cintaku’. Juga foto saat wisuda, ‘nama’ menyalami sang dosen, tangan kirinya juga memeluk si celengan ayam alias ‘cintaku’. Dimana ada ‘nama’ dipelukannya ada ‘cintaku’, dan semua orang sudah menggapnya bukan pemandangan asing lagi. Baca entri selengkapnya »

Ini adalah cerita tentang kucing, ya kucing. Walau sebenarnya aku tidak begitu suka kucing. Jenis kucing yang aku suka hanya satu yaitu doraemon karena dia tidak makan ikan asin dan memiliki kantong ajaib. Unik. Pernah waktu kecil dulu, Ibu Guru memberi tugas menggambar kucing. Semua teman-teman menggambarkan bahwa kucing itu berkaki empat dan mempunyai ekor. Tapi guruku mengernyitkan dahinya saat melihatku menggambar lalu bertanya, “Kamu menggambar apa?”  Aku menjawabnya dengan lugu, “Doraemon.”

Kembali ke topik kucing berbulu coklat sedikit tebal, badannya kurus dengan ekor panjang yang beredar di sekitar kamar kost. Aku masih ingat dengan kucing itu, dia adalah tersangka utama yang pernah mencuri lele – makanan sahurku ramadhan tahun lalu. Tapi saat lebaran aku sudah memaafkan kesalahannya. 🙂

Satu kebiasaannya yang bikin kesel, pagi-pagi saat mau menyalakan sepeda motorku… Huh, banyak bulu-bulu warna coklat berjatuhan di atas jok motor. Hmmm…pasti si kucing semalam tidur disini deh. Seharusnya si kucing keramas dulu pake shampo anti rontok sebelum tidur.  Dan membersihkan bulu-bulu kucing bisa menghambat waktuku sekitar 30 detik untuk mengejar absen. Telat masuk kantor 1 detik saja, maka akan dipotong 2% dari presentasi prestasi UK (Uang Kinerja) dan 1 hari dari presentasi absen akan berkurang. Selain itu akan ada efek-efek seperti tidak bergairah bekerja, otot terasa lemah dan adrenalin saat berlari-lari mengejar absen terasa sia-sia.

Aku tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Tidak seperti lagu anak-anak yang sudah mengajarkan untuk menyalahkan si Komo yang hanya numpang lewat. Apa salahnya coba? Hehe…  Tapi hari-hari berikutnya, bulu-bulu si kucing makin banyak yang rontok di atas jok motorku. Pertanyaan penting adalah, kenapa si kucing memilih tidur di atas jok motorku? Padahal di parkiran kost ada pilihan empat motor yang lebih bagus, lebih bersih, lebih mahal tentunya dan joknya lebih empuk dari motorku. Aku pernah bertanya langsung pada si kucing, dan untungnya si kucing hanya mengeong.

Aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Sebelum kucing itu tidur – biasanya si kucing tidur di atas jam 11 malam (hebat kan, aku sampai tahu jadwal tidur si kucing (-_-“) – aku menaruh dua helm di atas jok motor dan sedikit merenggangkan jaraknya hingga tidak ada space untuk tidur si kucing. Hihihihihii… :p

Subuh, aku mengintip dari balik jendela kamar. Yes,berhasil! Aku tidak melihat si kucing tidur di atas jok motorku lagi.

Saat mau berangkat ke kantor. Aaaaaarrrrrghhh… rontokan bulu-bulu kucing itu kini berjatuhan di atas tumpukan beberapa sepatuku. Itu menghabiskan waktuku 30 detik untuk mencari sikat semir sepatu yang entah dimana letaknya, 20 detik untuk membersikan sepatu dengan metode menyikat cepat dan 10 detik untuk melempar kaos kaki ke keranjang  cucian kotor – aku butuh beberapa kali untuk  bisa tepat memasukkannya karena aku tidak bisa olahraga basket.

Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan si kucing. Hanya saja si kucing tidur di tempat yang kurang tepat. Dan kebiasaan buruknya adalah tidak merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Huhuhuhuhu…

Sekali lagi aku mengusir si kucing dengan bahasaku sendiri. Aku menaruh beberapa tumpukan kain – lebih tepatnya kaos lusuh yang sudah tidak aku pake lagi. Berharap si kucing tidur di tempat yang telah disediakan. Tapi dasar kucing, esok paginya masih ada rontokan bulu2 di sepatuku. Huft, tapi biarlah… Mungkin si kucing memang mencintai sepatu-sepatuku, tumpukannya yang berantakan pun terlihat seperti kasur empuk. Aku cukup mengambil satu sepatu yang sering kupakai ke kantor dan memasukkannya dalam kamar. Sepatu-sepatuku yang lain biarlah ditemani si kucing.

Aku membeli rak sepatu di pasar baru – menjelang waktu makan siang bersama rekan-rekan kantor.

Malamnya kurangkai rak sepatu baru berwarna abu-abu monyet dan menaruhnya di pojok depan kamar kost. Menata sepatu-sepatuku dengan cukup rapi,membersihkan barang-barang disekitar depan kamar yang tidak terpakai lagi dan sedikit menyapu lantai. Wow sekarang depan  kamarku terlihat lebih bersih dan cerah. ^_^

Tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Kulirik angka yang tertera di kayar HP, jam 2 pagi. MasyaAllah aku baru ingat, aku belum sholat isya’. Seuasai ambil air wudhu pikiranku tiba-tiba terlintas nasib si kucing, kalau ada rak sepatu si kucing tidur dimana? Aku membuka pintu kamar pelan-pelan dan ingin melihat si kucing sedang terlelap tidur di sebuah tempat yang nyaman baginya. Kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada sosok kucing terlihat.

Aku merasa bersalah. Tumpukan kain yang tadi sudah kubereskan, aku susun kembali . Cukup empuk, pikirku. Aku berharap si kucing baik-baik saja dan tidak tersinggung saat aku “mengusir dengan bahasaku sendiri” dengan membeli rak sepatu baru. Aku pun berharap besok malam si kucing datang lagi.

Sampai sekarang, tumpukan kain yang kusediakan tetap kosong. Aku tidak  pernah melihat wajah kucing itu lagi. Maafkan aku… T_T

Pernahkah kita berpikir tentang rel kereta api, kenapa semakin jauh terlihat semakin mengecil kemudian menghilang, jika kita meninggalkan perngertian yang sejati. Atau disaat kita naik kereta ketika mata memandang ke kaca jendela, sesungguhnya kereta ini yang bergerak atau pohon-pohon itu yang berlari mengejar kita. Jawabannya adalah barangkali seperti itulah ketakutan kita terhadap masa depan. Aku sendiri tidak tahu pasti…

Seperti kebedaraanku di Jakarta sekarang, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini membuatku ragu melangkah maju. Racun fiksi sinetron tentang gaya hidup Jakarta yang serba glamor, metroseksual, dan tokoh-tokoh jahat ala dongeng bawang merah – juga membuat ibuku khawatir. Aku bisa membaca raut wajahnya saat berpamitan di stasiun mengantarkan kepergianku. Dan kereta jurusan Tulungagung – Jakarta sudah tiba. Kucium tangan ibu dan segera meloncat ke dalam gerbong. Dari balik kaca aku terus memerhatikan mimik wajah ibu, kemudian ibu tersenyum dan kereta pun melaju.

Saat itulah kali pertama ke Jakarta. Takjub. Melihat bangunan serba tinggi dan orang-orang yang berjalan tanpa menghiraukanku. Kemudian mataku melirik tugu Monas yang merasa dirinya paling populer, “Hei kamu hanya sebuah tugu, jangan sombong. Aku datang ke Jakarta untuk mengejar impianku. Dan aku akan bisa lebih kuat darimu, aku bisa berdiri tegar menghadapi kemelut kota Jakarta.”

Aku merasa sepi dan sangat kesepian. Dunia maya pelarianku, tiap malam autis di depan komputer. Itulah caraku membunuh kesepianku, karena aku tidak ingin dibunuh dengan kesepian. Dan sebuah jejaring sosial mengenalkanku dengan sosok “aku memanggilnya nama”. Dia mengenalkanku tentang pengajian remaja, Youth Islamic Studi Club (YISC).

Aku langsung berkata, “iya”. Mungkin inilah jalan untuk mengisi kekosongan hati. Niatku bergabung waktu itu hanya satu, mencari “teman”. Definisi “teman” sangat luas, bisa teman yang bener-bener teman mengarah ke persahabatan, persaudaraan atau teman yang sejati untuk perjuangan suci.

(Backsound: Lagu “Teman Sejati” by SNADA”)

“Oki kamu nanti ikut acara wisuda YISC Al-Azhar kan?” tanya teman pengajianku di YISC Al-Azhar. Aku terdiam sesaaat. Bimbang. “Hmmm…gimana ya?”

“Ikut saja lah, gpp kalau orang tua ga bisa datang, bisa ajak saudara, kakak, atau calon mertua juga boleh,” bujuk temanku.

“Hehehe,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Aku benar-benar sendiri di kota Jakarta ini, artinya tidak ada sanak-saudara di sini. Dan aku tidak tahu harus mengajak siapa, bagiku keluarga keduaku adalah teman-teman di YISC Al-Azhar. Aku memandangi undangan wisuda, “tidak terasa sudah setahun berjalan.” Rasanya aku ingin berlari dan menyerahkan undangan ini langsung kepada ibuku. Aku ingin membuatnya bangga padaku, ingin menunjukkan bahwa aku disini mempunyai saudara-saudara baru yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku disini tidak sendiri lagi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bahwa aku – anak bungsumu ini berada dalam lingkaran positif – insyaAllah.

Terimakasih teman-teman di YISC Al-Azhar, terutama angkatan Mumtaaz yang membuat hari-hariku berwarna. Ibuku titip salam buat kalian semuanya. Dan aku tidak akan takut lagi dengan masa depan, biarkan rel itu semakin jauh semakin kecil, biarkan pohon-pohon itu berlari mengejar kereta yang kita naiki, biarkan monas itu berdiri angkuh… Aku disini bersama saudara-saudara Mumtaaz tidak akan berhenti mengejar mimpi dan berjuang meraih surga-Nya… Aamiin.

Jakarta sudah identik dengan istilah “macet”, kalau nggak macet akan banyak komentar terlontar, “tumben ga macet?” Apalagi saat jam pulang kantor, kemacetan semakin menjadi… Bagi pengendara motor yang mengalami peristiwa sama, harap memerhatikan Rambu-Rambu Macet sebagai berikut:

1. Dilarang pacaran saat macet! Bayangkan saja, ditengah kemacetan yang membuatmu motormu terhenti, tepat disampingmu seorang cewek yang dibonceng pacarnya (kok bisa tahu kalau mereka pacaran? hihihihi… ya tau lah :p) sedang becanda ketawa-ketiwi diatas motor, kadang ada yang maen peluk-pelukan segala… Huh… Bikin adegan hot dalam keadaan macet yang sudah hot begini, ga bisa dibiarkan! #curhat penulis jombo lagi galau

2. Dilarang pasang knalpot dengan ketinggian diatas rata-rata. Saat macet, posisi yang paling tidak enak adalah berada di belakang bajaj, metromini dan motor dengan kenalpot tinggi. Asapnya langsung menonjok ke muka. Huh, ini dia salah satu penyebab munculnya jerawat. #curhat penulis yang sedang mengalami konflik jerawat di jidat

3. Dilarang kehabisan bensin. Hahahahaha…satu kehebatan motor jadulku yang aku beri nama si Thunder Blue ini adalah memerlakukannya dengan perasaan. Misal, “perasaan bensinnya dah mulai abis deh” atau “kok tiba-tiba berhenti sih, perasaan aku isi bensin hari senin… sekarang dah hari kamis…pantes mati, bensinnya abis” Kalau sudah kehabisan bensin ditengah kemacetan, turun dari motormu (ya iyalah (-__-“) udah ga bisa nyala), tetap pasang helm untuk menutupi rasa malu, tetap berjalan cool sambil pasang headset, dengarkan musik-musik yang mengingatkan tentang kampung halamanmu dan ibumu. Kamu tidak akan merasa kesal, apalagi mengeluh memiliki motor jadul. Harus tetap bersyukur dengan apa yang kamu miliki, dan akan termotivasi untuk membeli motor baru. #curhat penulis dengan duit pas-pasan diantara dua pilihan, duitnya mo dipake kredit motor apa untuk lanjut kuliah?

4. Dilarang Bacor alian Ban Bocor. Masih seputar Thunter Blue, saat-saat mendebarkan bukan hanya ketika kau berada di deket seorang cewek yang kamu sukai. Tapi bagiku saat mendebarkan adalah ketika ban motor tiba-tiba bocor di saat berangkat kantor mengejar absen. Yang bisa aku lakukan hanyalah berjalan dengan cool tanpa melepas helm dan bertanya kepada setiap orang yang kamu temui, “pak, tukang tambal ban terdekat dimana ya?” Tips untuk melepaskan rasa kesal adalah dengan berpikir, “inilah saatnya aku membagi rezeki dengan bapak tukang tambal ban.” #curhat penulis yang merasa kurang amal, ampuni hambamu ya Allah… 😥

5. Dilarang mengumpat atau bicara kotor. Sabar Pak, sabar Bu, bukankah udah biasa kena macet. Jangan marah-marah ya, sabar sabar… Daripada mengumpat gak jelas, dan ga tahu umpatan itu ditujukan khusus untuk siapa, sebaiknya mendengarkan headset dan ikut menyanyi. Buat folder di HP Anda dan beri nama ‘Lagu Macet”, lalu pilih lagu-lagu yang kira-kira cocok untuk menjadi soundtrack macet. Mungkin saya bisa pilihkan beberapa lagu untuk Anda, seperti lagunya “Ridho Rhoma – Let’s Have Fun Together” atau lagunya “Vita KDI – Alun-Alun Nganjuk”, hahahaha… #curhat penulis yang sebenarnya suka lagu dangdut dan lagu campursari jawa :p

 

Udah dulu deh curhatnya hihihihi… udah mo maghrib, kantor dah mulai sepi… Mo pulang ke kost dan merebahkan badan. #curhat penulis yang kesepian di kost (kok masih curhat sih, hahahaha…)